READING

Didik Nini Thowok Ramaikan Pagelaran Panji Goa Sel...

Didik Nini Thowok Ramaikan Pagelaran Panji Goa Selomangleng

KEDIRI – Penampilan Didik Nini Thowok dalam pementasan pagelaran seni Selomangleng 2019 di Kediri mengundang decak kagum. Ratusan penonton bersorak saat seniman asal Yogyakarta itu memainkan tari Panji yang menjadi cerita rakyat Kediri.

Untuk urusan tari Didik Nini Thowok memang tiada duanya. Di bawah terik matahari yang menyengat, Didik meliukkan tubuh tanpa alas kaki. Tak nampak gurat kepanasan meski tubuhnya dibalut kostum tari berlapis.

Mengawali penampilan dengan tarian topeng yang menjadi ciri khasnya, Didik berusaha mengelabuhi penonton dengan tampilan kembarnya. Satu sisi menampilkan perempuan cantik dengan kostum Jawa berwarna hijau, sisi lainnya perempuan berkostum Jepang. Identifikasi itu dikuatkan dengan dua topeng Jawa dan Jepang yang dipakai sekaligus.

Paduan musik Jawa dan Jepang yang dikolaborasi sangat menawan mengesankan upaya Didik Nini Thowok untuk menyandingkan kebudayaan Indonesia dan Jepang. Meski memiliki sejarah agitasi di masa lampau, namun relasi kebudayaan dua negara tersebut tak kenal istilah konflik.

Sesekali Didik Nini Thowok menyelipkan gerakan konyol di tarian dua mukanya. Hal itu memantik gelak tawa penonton yang berjubel di area Goa Selomangleng. Tak satupun penonton yang beranjak hingga sang maestro mengakhiri penampilannya.

Didik Nini Thowok bukan satu-satunya penampil dalam pagelaran seni Selomangleng 2019 ini. Kaori Okado dari Jepang dan Igor De Almaida dari Brazil tak kalah mengundang decak kagum. Gelaran yang diprakarsai Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kota Kediri ini turut mengundang penari asal Jepang dan Brazil. “Mereka disatukan dengan cerita Panji yang menjadi konsep penampilan tahun ini,” terang Nur Muhyar, Kepala Disbudparpora Kota Kediri kepada Jatimplus.id, Minggu 21 Oktober 2019.

Nur Muhyar, Kepala Disbudparpora Kota Kediri menerima nasi berkat pertama dari Didi Nini Thowok sebagai penampil dalam pagelaran kali ini. foto : Jatimplus / Adhi Kusumo

Nur Muhyar menjelaskan, tema Majestic Panji-Sekartaji dipilih dalam gelaran tahun ini karena kuatnya jejak sejarah Panji dan Dewi Sekartaji di Kota Kediri. Jejak mereka, baik berupa relief maupun cerita rakyat, bahkan diyakini lebih kuat di banding kota-kota lain yang memiliki klaim sama.

Luasnya sebaran cerita Panji inilah yang mengilhami pagelaran seni budaya Selomangleng dikemas dengan multikultur dan multietnik. Majestic Panji Sekartaji mengisahkan tentang pengembaraan Panji dan Dewi Sekartaji yang ditasbihkan sebagai pahlawan budaya.

“Banyak kesusastraan yang berkaitan dengan Panji tersebar hingga Kamboja, Vietnam dan negara lain di sekitarnya. Perdagangan melalui Sungai Brantas saat itu juga cukup pesat dengan dibuktikan banyaknya artefak-artefak dari bangsa asing yang ditemukan,” jelas Nur Muhyar.

Melalui pagelaran seni budaya Selomangleng ini, tim kreatif Disbudparpora Kota Kediri ingin memberikan gambaran betapa berkembangnya Kediri saat itu. Selain pertumbuhan kota, ada banyak nilai yang bisa dipelajari dari jejak sejarah di Goa Selomangleng. Salah satunya adalah relief tentang tiga penganut agama berbeda yakni pemuja Wisnu, Siwa dan Budha. Mereka digambarkan hidup rukun berdampingan di Kediri.

Tak hanya mementaskan tari, seni budaya Selomangleng juga menampilkan kolaborasi wushu dan barongsai, seni musik oleh Sri Encik Krishna dan Bagus Mazasupa dari Yogyakarta. Teater Rudolf Puspa asal Jakarta dan Teater Veteran Satoe dari Kediri juga turut unjuk gigi dalam pementasan itu. (Adv)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.