Didik Nini Thowok, Titisan Centini

Sejak kecil, ia dirisak karena triple minority. Tionghoa, Kristen, dan dipanggil “banci”.  Kini ia hadir sebagai salah satu maestro tari yang dimiliki tanah ini. Meski, tekanannya belum tamat. Pentasnya dicekal karena ia menarikan tarian lintas gender (crossgender).

KEDIRI- Matahari Oktober 2019 sungguh terik. Para peraga pentas Majestic Panji Sekartaji di Gua Selomangleng, Kota Kediri, bermandi keringat. Apalagi busana yang dikenakan Didik Nini Thowok berlapis-lapis seperti memeram tubuh langsingnya. Keringat masih mengalir deras ketika ia turun dari panggung, seorang ibu yang meminta Didik untuk mengusap kepala anaknya. Tersemat harapan, agar bocah di gendongan menjadi seseorang seperti yang mengusapnya.

“Ketulusan itu mengharukan,” kata Didik. Malam usai perhelatan, Jatimplus.id berkesempatan untuk berbincang dengan Didik menjelang ia kembali ke Yogyakarta. Didik menceritakan pengalamannya bersentuhan dengan penonton yang notabene orang kebanyakan, kerap meninggalkan kesan yang mendalam di hatinya. Pun di lain waktu, seorang ibu hamil meminta Didik untuk mengusap perutnya.

“Biar pinter kayak Mas Didik,” kenang Didik menirukan kata ibu itu. Persentuhan-persentuhan semacam ini terasa kontras dengan dunianya di atas panggung. Akhir-akhir ini, pentasnya kerap dicekal oleh KPI (Komisi Penyiaran Indonesia). Didik tak boleh pentas di televisi karena ia memerankan petunjukan lintas genjer (crossgender), seorang laki-laki yang memerankan perempuan atau sebaliknya. Hal serupa pernah terjadi pada Tessy, salah satu aktor Sri Mulat, sebuah seni panggung yang melegenda.

Sebetulnya, ejekan terhadap personal Didik Hadiprayitno, nama asli Didik Nini Thowok sudah dialaminya sejak kecil. Ia triple minority, lahir sebagai keturunan Tionghoa, Kristen, dan kerap diledek “banci”.

Usai berkeliling di Kota Kediri dan sekitarnya, ia mendapat souvenir wayang potehi dari Klenteng Hong San Kiong Gudo, Jombang. FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

“Padahal saya laki-laki… yang mempunyai pedang pandang…,” kata Didik dengan jenaka pada saat talkshow di TEDx (Bandung, Desember 2011). Sembari menirukan lagu anak, Aku Seorang Kapiten, ia menyampaikan tentang identitas personalnya.

Di beberapa talkshow yang bisa dilihat di Youtube, Didik akan selalu tercekat ketika mengingat masa lalunya. Pun di ASTI (Akademi Seni Tari Indonesia) tempat ia menuntut ilmu, tak ada yang berminat untuk mengajari Didik yang tak gagah dalam menari. Ia lebih gemulai sehingga lebih pas memerankan tari perempuan.

“Cita-cita saya sederhana. Saya tidak pernah bercita-cita menjadi orang terkenal. Saya hanya ingin menjadi guru tari yang baik,” kenangnya. Kecintaan Didik pada dunia tari dan keyakinannya pada Yang Maha Mengubah membawa Didik pada dunianya kini. Dunia yang tetap menyisakan kontroversi.

Titisan Centini dan Kerumitan Peran Lintas Gender
Di pelataran Gua Selomangleng, tak ada penonton yang tak terkesan dengan penampilan Didik. Tari Dwi Muka “Jepindo” (Jepang Indonesia) memikat ratusan penonton yang hadir siang itu.

“Bagaimana orang bisa menari seindah itu? Dia cantik sekali,” kata Sausan (12tahun), salah satu penonton dari ratusan pononton yang hadir siang itu. Komentar bocah adalah komentar yang tanpa pretensi. Mata bulatnya tak berkedip melihat tiap gerak Didik di pentas. Ia melihat keindahan begitu saja, tanpa harus mempermasalahkan ada apa di balik tubuh yang telah menyatu dengan tarian, dengan gerak, dengan tiap napas yang dihembus.

Didik menciptakan Tari Dwimuka Jepindo pada tahun 1998 hingga 2000-an. Tari ini merupakan salah satu Tari Dwi Muka dari 9 macam yang sudah mendapatkan hak cipta (HAKI).

“Saya membuat koreogafi itu tentang friendship antara Jepang dan Indonesia,” terang Didik. Sedangkan topeng yang dikenakan ketika memerankan wajah Jepang adalah karakter topeng okame. Didik pernah mempelajari topeng ini dengan serius ketika membuat koreografer Jepindo. Menurut Didik, mengenakan topeng artinya mendalami setiap karakter topeng yang dikenakan yang ditunjukkan dengan gerak semua elemen tubuhnya sehingga karakter topeng itu betul-betul hidup. Oleh sebab itu, para seniman topeng kerap kali lebih suka topeng-topengnya dikenakan untuk menari daripada sekadar dipajang. Sebab topeng yang dikenakan untuk menari akan menjadi “hidup”.

Gerakan Tari Dwi Muka menjadi karya masterpiece yang akan susah ditiru penari lain. Menjadikan badan punya dua muka dengan gerakan yang sama-sama luwes sejauh ini identik dengan penampilan seorang Didik. Ditambah lagi dengan kerumitan memerankan tarian lintas gender.

“Seorang laki-laki yang menari tarian perempuan akan lebih detail mendalami karakter perempuan,” terang Didik. Gerak tangan, kaki, ekspresi, dan semuanya dipelajari dengan sungguh-sungguh. Pun tiap perempuan memiliki gestur yang berbeda, misalnya perempuan ningrat geraknya akan berbeda dengan perempuan jelata. Perempuan muda memiliki gestur berbeda dengan perempuan tua. Didik berhasil menjelma sosok lain di luar dirinya ketika di panggung.

Bahkan “penyatuan” Didik pada sisi kebalikan dirinya itu menjadikan Elizabeth D. Inandiak, penyadur Serat Centini asal Prancis menjulukinya titisan Centini. Elizabeth memintanya untuk membuat koreografer Centini dan menurutnya, hanya Didik yang mampu memvisualisasikan interpretasi Centini.

Tembang yang sarat dengan wejangan sekaligus erotis hingga dijuluki Kamasutra Jawa ini di tangan Inandiak menjadi narasi yang mudah dipahami tanpa meninggalkan kekuatan yang tersimpan dalam tiap tembangnya. Sementara itu, di tangan Didik, Centini mewujud badan wadagnya. Mewujud geraknya.

“Saya mengekspresiakn apa yang diekspresikan Mbak Elizabeth. Dengan topeng juga. Dia ingin menunjukkan Endrasena dan Amongraga. Endrasena itu kan Cina. Saya pakai topeng Cina dan Jawa, saya buat dwimuka,” terang laki-laki kelahiran Temanggung, 13 November 1954.

Endrasena dan Amongraga adalah tokoh utama dalam Serat Centini selain Tembang Raras dan Centini itu sendiri. Dalam Serat Centini, Centini dikisahkan sebagai seorang pembantu yang setia yang menjadi saksi perjalanan Amongraga dan Tembang Raras.

“Ada interpretasi dari Inandiak bahwa Endrasena dan Amongraga sebenarnya satu. Amongraga bersifat tenang, sedangkan Endrasena ekspresi saat marah,” tambah Didik. Serat Centini memang kontroversial sejak diciptakan. Bahkan sempat terkubur lama di khasanah sastra Nusantara sebab dituduh cabul. Sampai akhirnya, beberapa orang menuliskan kembali kisah ini, termasuk Inandiak.

Kolaborasi tersebut menjadikan Inandiak sebagai penembang serat dan Didik menari dengan berdandan perempuan yang cantik, luwes, hingga melebihi keluwesan perempuan yang sesungguhnya. Demikian dalam kisah Centini. Cebolang, seorang laki-laki yang mengembara itu, mengubah wujudnya sebagai penari tayub, menjelma perempuan (yang diperankan Didik) sehingga sang raja pun jatuh cinta dan sungguh-sunggu bercinta. Di sinilah kisah kontroversial itu dilukiskan.

“Jadi crossgender itu sudah ada sejak Centini. Kenapa dipermasalahkan kini?” tanya Didik menyampaikan retorika. Didik sudah menari lintas gender sejak 1974 dan tak ada masalah pada saat itu. Pencekalan itu dinilai Didik sebagai ahistori.

Didik melakukan riset dan menjadi pembicara nasional maupun internasional tentang seni lintas gender ini. Ia menggali naskah-naskah lama, menyusun narasi para pakar hingga tersusun sebuah buku berjudul Crossgender (2004).

Menampilkan tarian lintas gender merupakan teknik tari yang rumit dan detail. FOTO: JATIMPLU.ID/Titik Kartitiani

Didik mengilustrasikan bagaimana seni lintas gender ini justru cara untuk menjalankan nilai-nilai Islam sebagaimana yang dilakukan Kasultanan Yogyakarta. Misalnya pada Tari Langendriyan, tari perempuan yang diperagakan oleh laki-laki sebab di sana ada adegan saling memeluk.

“Dalam Islam kan tidak boleh memeluk kalau bukan muhrimnya. Makanya Sultan memerintahkan, semua penarinya laki-laki,” terang Didik. Sebagaimana zaman Hamengkubuwono VII dan Hamengkubuwono VIII, semua penari wayang orang adalah laki-laki. Itu cara Sultan memuliakan perempuan pada masanya.

Menelisik lebih luas lagi, beberapa kesenian tradisional memang lintas gender. Sebut saja gemblak dalam seni reog di Jawa Timur dan bissu di Sulawesi. Lebih luas lagi, kabuki di Jepang juga diperankan lintas gender.

Dengan wacana yang disampaikan Didik ini, ada harapan tersemat bahwa negeri ini lebih banyak membaca sejarahnya sendiri. Menggali nilai-nilai yang menjadkan negeri ini sebagai negara yang besar. Sehingga kebebasan berekspresi sebagai seorang seniman dijunjung tinggi sebagai wujud negeri yang ber-Bhineka Tunggal Ika.

Pada akhirnya, seni adalah ruang yang menyisakan ekspresi sekaligus intropeksi dengan cara yang gemulai. Seni hendaknya jauh dari hegemoni mayoritas dan kuasa sehingga menumbuhkan nilai-nilai bhineka sebagaimana negeri ini pernah didirikan para pendirinya.

Kejujuran tanpa hegemoni si kuat inilah ketika menyaksikan para seniman berdaulat di panggungnya. Di sana, penonton hanya melihat keindahan universal tanpa identitas. Seperti seorang ibu yang ingin putra dalam gendongannya dielus. Seperti seorang bocah yang matanya tak berkedip melihat keindahan tarian itu. Di sana hanya ada cinta dan keindahan itu (Titik Kartitiani).  

Print Friendly, PDF & Email

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.