READING

Didukung DPRD Kota Kediri, Mahasiswa Penolak Revis...

Didukung DPRD Kota Kediri, Mahasiswa Penolak Revisi UU KPK Tegaskan Bukan Kampret dan Cebong

KEDIRI- Petisi penolakan Revisi UU KPK dan Rancangan KUHP yang disuarakan ratusan mahasiswa di Kota Kediri mendapat dukungan DPRD setempat (Kota Kediri). Usai menemui 15 orang perwakilan massa, para wakil rakyat Kota Kediri menyatakan mahasiswa pengunjuk rasa adalah pembawa suara rakyat.

“Ini merupakan suara rakyat yang disampaikan melalui mahasiswa, ”ujar Politisi Partai Amanat Nasional Reza Darmawan kepada Jatimplus.Id Selasa (24/9/2019). Tidak sekedar  dirupakan dalam pernyataan tertulis yang dibubuhi tanda tangan resmi.

Legislatif Kota Kediri juga membuat surat jaminan bahwa dukungan mereka terhadap petisi mahasiswa benar benar akan dikirimkan ke DPR RI. Sebagai perwakilan legislatif, Reza juga memuji unjuk rasa sebagai jalan perjuangan untuk tercapainya tatanan yang lebih baik.

“Akan segera kita sampaikan ke pusat. Apapun itu masih bisa dikomunikasikan, “terang Reza Darmawan. Demontrasi sempat memacetkan jalan utama Kediri-Surabaya. Selain berorasi, menyanyikan lagu, dan yel yel perlawanan, massa aksi juga menggelar aksi teatrikal.

Dalam orasinya mahasiswa berkali kali menyatakan kecewanya terhadap pemerintahan Presiden Joko Widodo. Revisi UU KPK yang jelas jelas berupaya melemahkan pemberantasan korupsi, oleh Jokowi  justru disokong.

Bahkan Jokowi telah memutuskan menolak menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang undang (Perppu) pencabutan revisi UU KPK. Oleh massa aksi sikap itu dituding turut serta dalam menggembosi gerakan anti korupsi.

“Kalau dibilang kecewa, kami kecewa dengan pemerintahan di bawah kepemimpinan Jokowi,” terang Wakil Presiden Mahasiswa IAIN Kediri Mukhamad Rifai.

Begitu juga dengan Rancangan KUHP yang mengancam kebebasan demokrasi warga sipil. Oleh Jokowi hanya ditunda pengesahannya. Presiden tidak memperlihatkan sikap menolak atau melakukan pencabutan. Penundaan dianggap masih berpeluang RKUHP akan disahkan.

Meski para elit eksekutif dan legislatif teah bersatu untuk tidak mengindahkan suara rakyat, mahasiswa masih optimis lembaga yudikatif bisa memberikan perubahan. “Kami optimis masih ada celah untuk membatalkannya di Mahkamah Konstitusi,  ”kata Rifai.

Cebong dan Kampret  

Tidak sedikit yang menuding aksi mahasiswa yang menolak ditunggangi kepentingan para kampret, yakni sebutan sekelompok simpatisan pendukung Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di media sosial. Rifai menegaskan, massa mahasiswa murni mengusung suara rakyat.

Tidak ada kepentingan politik kelompok apapun, baik itu kampret ataupun kecebong, yakni sebutan kepada  barisan simpatisan pro Jokowi di media sosial.

“Tidak ada unsur politis sama sekali, ini murni tuntutan yang berkaitan dengan rakyat dan kebebasan berdemokrasi, ”tegasnya. Rifai juga mengatakan sejak awal persiapan aksi, para demonstran tidak pernah membahas maupun memusingkan cebong maupun kampret.

Yang menjadi fokus dari aksi massa adalah bagaimana melawan situasi politik kekuasaan yang tidak berpihak kepada rakyat. Jika memang aksi kali ini tidak membawa perubahan kebijakan, Rifai mengancam akan kembali turun ke jalan.

“Kalau memang suara kita tidak membawa perubahan, kita akan kembali menggelar aksi yang lebih besar, “ancamnya.

Reporter : Dina Rosyidha
Editor: Mas Garendi

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.