READING

Diendorse Artis Dangdut Ternama, Kosmetik ini Tern...

Diendorse Artis Dangdut Ternama, Kosmetik ini Ternyata Ilegal

KEDIRI- Kosmetik merek Derma Skin Care (DSC) Beauty telah beredar luas di Surabaya, Jakarta, Bandung, Medan dan Makasar. Untuk memperluas sekaligus meyakinkan pasar, produsen memanfaatkan jaringan media sosial, termasuk mengendorse sejumlah biduan dangdut ternama.

Kemarin, bisnis yang sudah berjalan dua tahun, dengan omset rata rata Rp 300 juta per bulan itu, digerebek tim Polda Jawa Timur. Kosmetik DSC Beauty hasil produksi rumahan di Kediri itu diduga sebagai produk ilegal. DSC Beauty dipastikan tidak terdaftar ke dalam Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Dalam keterangannya, Dirreskrimsus Polda Jatim Kombes Pol Ahmad Yusep Gunawan mengatakan racikan kosmetik DSC diambil dari campuran sejumlah merek kosmetik terkenal.

Dengan komposisi tertentu, kosmetik merek Sabun Papaya, Vivo Lotion, Marck Beauty Powder, Sriti dan Vasseline dioplos, dikemas ulang, lalu dilabeli merek DSC Beauty. Bentuknya mulai cair, cream dan lotion. Di pasaran dijual dengan sistem paket, yakni Rp 350 ribu-Rp 500 ribu per paket.

“Artis artis (penyanyi dangdut ternama) yang menjadi endorse memposting produk ini di instagram, “kata Ahmad Yusep. Biduan dangdut ternama itu diantaranya berinisial VV, NK, MP, NR, DJB dan DK. Dalam kasus ini polisi telah menetapkan seseorang inisial KIL sebagai tersangka.

KIL yang memproduksi DSC Beauty di rumahnya Kediri. Menurut Ahmad Yusep, dalam pemeriksaan sementara para artis dangdut itu mengaku tidak tahu jika produk kosmetik yang mereka endorse tidak terdaftar dalam BPOM alias ilegal. “Artis artis ini tidak tahu kalau produk yang mereka endorse itu ilegal, “terang Ahmad Yusep.

Dalam kasus ini tersangka dijerat UU No 36 Tahun 2009 tentang kesehatan dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara dan denda maksimal Rp 1,5 miliar.

Terjebak Mitos Kecantikan

Mitos kecantikan lah yang sebenarnya mendorong maraknya pasar perkakas kecantikan, kosmetik dan sejenisnya. Seorang perempuan dimitoskan cantik bila memiliki wajah mulus, kulit putih cemerlang, harum, molek, ramping seksi, dan seterusnya.

Instrumen tersebut  dibuat sedemikian rupa sebagai komoditas pasar. Tidak hanya produk kecantikan. Tetapi juga tips, tutorial, panduan bersolek agar perempuan menyandang sebutan cantik.

Di era kekinian semua  propaganda pasar itu sangat mudah dijumpai di media sosial, dengan pola mengendorse publik figur. Tidak lagi berbentuk artikel yang mengulas kecantikan, tapi juga berkembang secara visual berupa rekaman video sepersekian detikan.

Propaganda mitos kecantikan yang ditangkap sebagai komoditas itu memiliki relevansi dengan kasus peredaran kosmetik ilegal yang baru saja dibongkar aparat kepolisian Jawa Timur. Termasuk kasus sejenis sebelumnya.

Dalam buku “Mitos Kecantikan, Kala Kecantikan Menindas Perempuan”, Naomi Wolf menyebut, mitos kecantikan membuat perempuan tidak memiliki kuasa pada tubuhnya sendiri.

Apalagi dalam lingkaran budaya patriarkis, dimana laki laki sebagai “bos” sosial, dan perempuan menjadi konco wingking, membuat perempuan betul betul kehilangan kebebasannya.

Makna kemerdekaan, suka suka untuk berdandan atau tidak, berkosmetik atau tidak berkosmetik, memiliki berat badan seenaknya, yakni mau gendut, kurus, kerempeng, lenyap sudah.

“Apakah semua orang akan mendengarkan saya, jika saya “terlalu biasa”, tidak menarik perhatian?”. “Apakah saya akan kelihatan “begitu jelek” jika berat badan saya bertambah?. “Apakah akan baik jika saya menurunkan berat badan saya ons demi ons?”.

Pertanyan pertanyaan itu terus menghantui setiap berada di lingkungan sosial dan kehidupan rumah tangga. Termasuk juga khawatir akan ketuaan sehingga harus menebus kosmetik anti aging, cemas akan kegendutan sehingga harus mengkonsumsi banyak banyak pil diet, kejelekan, tidak seksi lagi dan lain sebagainya.

Pendek kata, untuk meraih mitos kecantikan, perempuan harus mengalami banyak penderitaan.

Oleh pasar, mitos kecantikan selalu dipropagandakan bahwa kualitas yang disebut “cantik” itu benar benar ada, dilabeli obyektif dan universal.  Kecantikan dipatrikan sebagai sesuatu keniscayaan dan baku.

Naomi mengatakan semua itu tidak sepenuhnya benar. Kecantikan, kata dia adalah sistem pertukaran seperti halnya standar emas. Kecantikan bukan hal universal atau tidak bisa diubah, meskipun orang orang barat mempercayai kecantikan ideal dari sosok Platonis.

Orang Maori mengagumi perempuan dengan tubuh yang gemuk. Bagi para perempuan penyuka fashion gendut adalah buruk, tidak cantik, tidak berlaku bagi perempuan Maori. Begitu juga dengan orang orang Padung, cantik itu bila memiliki dada yang montok.

Bagi artis pemeran Cinta dalam film “Ada Apa Dengan Cinta”, Dian Sastro Wardoyo, organ tercantik dan terseksi yang ada di manusia itu adalah otak. Pesan yang disampaikan, otak cerdas dan sehat fikir lebih cantik dan sensual dibanding jasmani yang selalu bergantung pada perkakas pasar kosmetika.

Itulah pembebasan dari belenggu mitos kecantikan. (*)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.