READING

Djoko Raharto: Membina UMKM Harus Tulus (3)

Djoko Raharto: Membina UMKM Harus Tulus (3)

Lahir dari keluarga sederhana di Salatiga Jawa Tengah, Djoko Raharto tak dididik menjadi bankir. Ayahnya seorang pegawai di kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Ibunya berdiam di rumah membesarkan lima orang anak. 

Tiga saudaranya berprofesi sebagai guru. Djoko Raharto juga diharapkan demikian. Dengan berbagai dalih, dia menolak didaftarkan di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) dan memilih SMA. Di sekolah ini, Djoko Raharto membuktikan jika pilihannya tidak salah. Dia menyabet hasil ujian nasional tertinggi kedua se-Kota Salatiga.

Kemampuan intelegensinya memang di atas rata-rata. Ujian tulis yang membutuhkan waktu pengerjaan dua jam, saat mengikuti seleksi penerimaan calon pegawai maskapai nasional Garuda, diselesaikan hanya dalam lima menit. Hasilnya, dia terpilih dalam daftar 10 terbaik dari 5.000 peserta tes.   

Selasa, 12 Februari 2019, reporter Jatimplus.ID Hari Tri Wasono, Solichana, dan fotografer Adhi Kusumo mewawancarai Djoko Raharto di ruang kerjanya, di lantai satu Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kediri.

Ditemani satu nampan kue basah dan kopi, obrolan sore itu membawa kami menyusuri napak tilas Djoko Raharto sejak kanak-kanak. Jika tak ada aral melintang, Djoko Raharto akan mengemban tugas baru di Divisi Pengembangan Ekonomi Bank Indonesia DKI Jakarta.

Kepada Jatimplus.ID, Djoko Raharto membuka alasan mengubah budaya kerja pegawai Bank Indonesia Kediri menjadi lebih responsif dan egaliter. Ruang kerjanya juga tak menetap di kantor, melainkan berpindah dari rumah pelaku industri rumahan hingga lereng gunung. Bagaimana dia melakukannya. Simak wawancara berikut ini:

Djoko Raharto saat berbincang dengan Jatimplus.ID di ruang kerjanya. Foto: Adhi Kusumo

Jadi benar Anda tidak dididik jadi bankir sejak kecil?   

Keluarga saya itu guru. Bapak pegawai P&K (Pendidikan dan Kebudayaan) di Salatiga, pangkatnya tidak tinggi, hanya lulusan SMP. Beliau malah mengarahkan saya jadi guru. Karena saat itu, mungkin bapak masih bisa mencarikan peluang bekerja. Tapi tiga saudara saya berprofesi guru, dua lainnya termasuk saya bekerja di bank.

Apa alasan memilih SMA?

Saat itu keinganan saya bekerja di BUMN (badan usaha milik negara). Kalau jadi guru, saya tak bisa meneruskan pendidikan sesuai cita-cita. Di BUMN akan terbuka peluang dan kesempatan mendapat beasiswa.

Alasan itu bisa diterima orang tua?

Alhamdulillah saya bisa membuktikan (jika pilihan itu) tidak salah. Saya ambil jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial, dan meraih NEM tertinggi kedua di Salatiga untuk jurusan Sosial.

Kuliah masih pilihan sendiri?

Karena NEM saya tinggi, saya mendapat tawaran masuk perguruan tinggi negeri melalui jalur PMDK (Penelusuran Minat Dan Kemampuan). Saya masuk ke UNS (Universitas Negeri Solo) jurusan Ekonomi Studi Bangunan dan menyelesaikan studi selama empat tahun.

Setelah lulus Anda langsung bekerja di bank?

Tidak secepat itu. Saat masih kuliah semester akhir, saya mendapat tawaran bekerja di pabrik tekstil. Setelah mengikuti ujian seleksi, saya ditempatkan di bagian pemasaran ekspor. Bidang baru yang sebenarnya tidak nyambung dengan disiplin ilmu.

BACA JUGA: BI Kediri, Bukan Bank Sentral Biasa

Bisa mengikuti?

Alhamdulillah kurang dari setahun saya sudah menduduki posisi wakil manager. Dan saya satu-satunya pribumi di jajaran itu, lainnya Tionghoa.

Anda puas dengan pekerjaan itu?

Saya belajar banyak tentang ekspor impor di tempat itu. Tapi tetap tidak mengurangi cita-cita bekerja di BUMN. Karena itu ketika mendengar ada lowongan di Maskapai Garuda Indonesia, saya melamar. Saya nekat saja meski posisi yang dicari manajemen keuangan dan akutansi. Sementara saya disiplin ilmu saya Studi Bangunan.

Anda diterima di maskapai itu?

Nah, ini cerita lucu yang akan saya ingat selamanya. Saya dipanggil untuk mengikuti tes tulis ketika sedang bekerja di pabrik tekstil. Harus memutar akal karena tak diijinkan meninggalkan jam kerja. Akhirnya saya dapat ijin meninggalkan kantor sebentar untuk mengikuti tes.

Ujian tulis yang harusnya diselesaikan dalam waktu dua jam oleh peserta, saya kerjakan dalam lima menit. Saya bilang ke panitia kalau orang tua sakit dan harus buru-buru pulang.

Hasilnya?

Dari 5.000 peserta ujian yang mengikuti tes dan berlatar belakang pendidikan Manajemen dan Akutansi, hanya 10 orang yang diambil. Saya salah satunya, hahaha.

Berarti Anda sempat bekerja di Garuda?

Kesempatan itu tidak saya ambil. Karena pada saat bersamaan ada lowongan di Bank Indonesia. Tempat itu menjadi salah satu impian saya untuk bekerja.

BACA JUGA: Siti Rukayah, Buruh Migran Yang Jadi Juragan

Anda ikut tes mulai awal?

Iya, saya mengikuti ujian panjang yang jarak antara tes dan pengumumannya mencapai satu tahun. Saya ikut tes di tahun 1991, tapi baru diumumkan tahun 1992. Itu pun setelah saya ke Jakarta menanyakan hasil ujian. Jika  tidak diterima, saya akan ambil kesempatan bekerja di Garuda. Dan Alhamdulillah beberapa saat berikutnya saya dikabari jika diterima.

Penempatan pertama kali di mana?

Setelah mengikuti pendidikan saya ditugaskan di Semarang. Dan sesuai cita-cita saya, kesempatan belajar ke luar negeri saya dapatkan di sini. Saya sekolah di Amerika untuk memperdalam ilmu ekonomi.  

Setelah itu saya dipindah ke Jakarta di Direktorat Statistik, terus promosi ke Pekanbaru selama empat tahun. Dari sana saya balik ke Jakarta memegang biro kebijakan moneter. Di sini saya benar-benar merasa bekerja di BI karena merupakan jantungnya bank sentral. Semua ilmu yang saya pelajari teraplikasi.

Kesempatan belajar ke luar negeri makin terbuka?

Benar, setelah dari Amerika saya sering tugas belajar ke berbagai negara. Saya kursus di IMF belajar kebijakan fiskal, ke Jerman untuk mempelajari bisnis survei, ke Jepang belajar bisnis survei, Thailand belajar soal penjaminan kredit, dan ke Australia tentang kebanksentralan.

Tak pernah bertugas di kampung halaman?

Saya mendapat kesempatan bekerja di Yogyakarta selama enam tahun, lumayan dekat dengan rumah. Setelah itu ditarik ke Kediri dan tak terasa sudah lima tahun. Paling cepat per 1 Maret 2019 saya sudah harus ke Jakarta.

Di Kediri Anda membawa cukup banyak perubahan. Membuka kantor untuk kegiatan umum. Kenapa?

Ada perubahan budaya kerja paska OJK (Otoritas Jasa Keuangan) lepas dari BI. Ada lima nilai strategis yang harus kami jaga, yakni integritas, profesional, excellence (bermutu), public interest (kepentingan publik), serta coordination and team work (kerjasama).

Saya harus mengajak karyawan untuk “keluar” dan melihat lebih dekat dinamika masyarakat. institusi ini harus responsif dan mendatangi masyarakat secara riil. Membantu menyelesaikan persoalan yang ada, dan memberi solusi sesuai kemampuan dan kewenangan bank sentral. Jadi negara benar-benar hadir di tengah masyarakat.

Tak ada penolakan dari karyawan?

Ini bukan pilihan. Mereka harus mengikuti ritme saya meski agak pontang-panting. Saya buka fasilitas kantor BI untuk kegiatan umum. Semua bebas memanfaatkan mulai halaman hingga ruang pertemuan (lantai V) untuk kegiatan publik. Karena dengan dekat kami bisa mengedukasi mereka tanpa menimbulkan jarak.

Anda juga sering meninggalkan kantor?

Itu sebagai konsekuensi. Kepala BI tak lagi bisa duduk di belakang meja. Harus turun memberi contoh kepada staf untuk terjun ke masyarakat. Jadi jangan heran kalau bertemu saya di sawah, rumah warga, pelaku UMKM, atau di lereng gunung untuk melihat perkebunan kopi binaan kami.

Tidak capek?

Justru itu hiburan bagi saya. Saya malah sering naik gunung melihat kebun kopi atau pertanian masyarakat di hari libur (Sabtu – Minggu). Jalan kaki hingga puluhan kilometer masih kuat, meski badannya segini, hahaha.

Bahkan saking dekatnya dengan masyarakat terutama pelaku UMKM, saya jadi tempat curhat kalau ada masalah. Kalau sudah begitu saya tegur staf, karena harusnya itu tugas mereka. Repot kalau semua saya. Ini sistem yang harus jalan siapapun pemimpinnya.

Kenapa Anda memilih berdekatan dengan UMKM?

Dulu, saat pertama kali ditugaskan di Kediri, saya langsung melakukan pemetaan soal kekuatan ekonomi di sini. Tidak bisa dipungkiri jika peran PT Gudang Garam pada kekuatan ekonomi masyarakat Kediri sangat besar. Sementara industri terus melakukan mekanisasi untuk menggantikan tenaga manusia menjadi mesin. Ini berbahaya jika masyarakat kita tidak siap.

Satu-satunya upaya adalah menggenjot sektor UMKM agar berdaya dan tidak lagi bergantung pada pabrik. Ini tugas berat yang harus dipikul bersama.

Termasuk menjaga inflasi?

Itu bagian tugas kami untuk menjaga stabilitas ekonomi daerah. Selama ini kita kurang menyadari pentingnya menjaga inflasi. Padahal jika ini terjadi akan memicu gangguan ekonomi secara luas.

Kami sudah pelajari bahwa faktor pemicu inflasi bukan pada permintaan, tetapi pada suplai. Kalau pasokan produksi non stop, harga akan stabil. Karena menyangkut banyak sektor, kita libatkan pemerintah daerah. Kita edukasi pentingnya menjaga inflasi.

Menjaga inflasi juga tak cukup dengan rapat. Harus terjun ke distributor, pabrik gula, dan lainnya untuk memastikan pasokan dan harga terjangkau. Kita pernah meraih prestasi inflasi terendah.

Langkah apa lagi yang mendesak?

Jangan abaikan digitalisasi. Ini era yang tak bisa dilawan. Semua dilakukan dengan digital untuk memperluas market place. Kemarin kita lakukan latihan memotret melalui HP pada pelaku usaha. Untuk apa? Agar bisa memotret dagangan dan memasarkan melalui internet. Kita buka mindset mereka.

Apa pekerjaan rumah yang belum tuntas?

Menjaga kontinyuitas program yang telah dilakukan agar tidak berhenti. Sebab membangun kepercayaan masyarakat itu tidak mudah. Mendampingi dan menemani mereka juga butuh ketulusan dan keikhlasan, jangan punya kepentingan macam-macam. (*)

print

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.