Donasi Asyik Dengan ATM Beras

KEDIRI – Membagi sebagian rejeki kepada orang lain adalah salah satu bentuk ibadah umat Muslim. Namun tak jarang hal ini justru merepotkan bagi penderma yang kesulitan menyalurkan bantuan.

Kendala inilah yang dipecahkan pengurus Masjid Al Khalid dengan membuat cara baru berbagi rejeki. Menggunakan mesin ATM.

Jangan membayangkan mesin ini layaknya mesin penarikan uang milik perbankan. Mesin ATM di Masjid Al Khalid ini tak mengeluarkan uang, melainkan beras. Bentuknya hampir mirip dengan mesin ATM bank. Namun saat disodorkan kartu, yang keluar adalah beras. Canggih bukan.

Dwi Andika, pengurus atau takmir Masjid Al Khalid yang berada di Kelurahan Semampir, Kecamatan Kota, Kediri menjelaskan mesin ini didesain mirip mesin anjungan tunai mandiri (ATM) pada umumnya. Mesin ini akan mengeluarkan beras dengan ukuran tertentu jika ditempelkan kartu ATM yang telah memiliki saldo. “Karena yang dimasukkan beras, keluarnya juga beras,” kata Andika kepada Jatimplus, Selasa 12 Maret 2019.

Mesin yang disebut sebagai ATM beras ini disediakan pengurus masjid untuk menampung donasi jamaah. Teknisnya, donasi beras yang diterima dari jamaah akan dimasukkan ke dalam mesin ATM. Namun sebelumnya jenis beras tersebut disetarakan dengan beras premium agar layak disalurkan kepada yang membutuhkan.

Secara teknis ATM beras merupakan sistem yang terdiri dari mekanik (dispenser) dan elektronik (mesin). Dispenser adalah wadah untuk menyimpan beras. Sedangkan mesin untuk mengendalikan operasional dispenser saat mengeluarkan beras.

Dengan menempelkan kartu pada bagian sensor, akan keluar beras dalam jumlah yang diinginkan.

Meski mengeluarkan beras, mesin ini tak hanya bisa diisi dengan beras saja. Sebuah lobang kecil disediakan di bagian depan untuk menerima donasi berupa uang. Secara periodik takmir masjid akan mengumpulkan uang tersebut dan mengkonversikan dengan beras premium.

Siapa saja yang bisa menyumbang atau mendapatkan kartu ATM beras ini?

Menurut Andika, calon penerima kartu ATM beras adalah kaum dhuafa yang telah ditentukan oleh pengurus masjid. Mereka yang mendapat kartu bisa sewaktu-waktu menempelkan kartunya ke mesin ATM, dan menentukan besaran beras yang diinginkan. “Biasanya dua liter sekali tekan,” jelas Andika.

Sedangkan untuk pemberi donasi bisa dari siapa saja. Pengurus Masjid Al Khalid tak membatasi siapa saja yang ingin berdonasi. Bahkan jika donasi tak berbentuk beras atau uang, bisa diserahkan pengurus masjid untuk dikonversi sesuai kebutuhan umat.

Meski baru dioperasikan, keberadaan ATM beras ini cukup direspon masyarakat. Sejumlah warga miskin yang tak menerima bantuan beras dari pemerintah melalui program raskin (beras miskin) merasa diuntungkan. “Akhirnya bisa menerima beras dari masjid,” kata salah satu warga miskin pemegang kartu ATM beras.

Jika dikelola dengan baik, ATM beras bisa menjadi cara berdonasi yang asyik. Pendonor yang tak menyukai uang sebagai bentuk donasi bisa mengkonversikan dengan beras di Masjid Al Khalid. (*)


Editor : editor posting Reporter : Reporter posting Visual editor : Visual posting

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.