READING

Drama Kekerasan Mahasiswa Papua di Malang

Drama Kekerasan Mahasiswa Papua di Malang

Setiap menyampaikan pendapat, halangan kekerasan selalu membayangi mahasiswa Papua. Tidak di Surabaya. Tidak juga di Malang. 

MALANG- Lelaki brewokan berbadan kekar itu berjalan mendahului teman-temannya. Berbeda dengan penampilan rekannya sesama warga Papua. Tubuh lelaki itu tidak tertutup selembar kain alias telanjang dada. Dia hanya mengenakan celana jeans berstyle longgar, berikat pinggang hitam, serta bersepatu sneaker putih. Kepalanya setengah merunduk, dengan mata tak lepas dari salah seorang petugas kepolisian yang dituju.

Di kawasan perempatan Rajabali, Kota Malang Kamis (15/8/2019) siang itu, sejumlah aparat kepolisian tampak berdiri bergerombol. Mata si brewok terus mengarah pada salah seorang di antaranya. Entah apa yang diteriakkan, tangan itu tiba-tiba berayun ke arah muka polisi berbaret cokelat pramuka.

Memang tidak sampai menyentuh kulit muka. Namun ayunan seperti menakut-nakuti itu hanya berjarak sekilan dengan wajah petugas. Melihat itu, tanpa dikomando teman-temannya bergerak maju. Jumlah mereka tidak banyak. Hanya bekisar puluhan, namun rata rata berperawakan tinggi besar.

Baca juga: Gus Solah Serukan Usut Tuntas Rasisme Mahasiwa Papua

Ada satu yang juga tidak berbaju. Lelaki itu bercelana blue jeans, bersepatu sneaker, dengan sling bag menyampir di dada. Mukanya juga ditumbuhi cambang lebat. 

Dia menyusul si brewok yang tadi mengayunkan tangan dan seperti berusaha menengahi. Dirangkulnya sang teman untuk pergi menjauh. Yang digamit bersungu- sungut, terus berjalan, sambil mengibas kibaskan bahu dan lengan.

Polisi berbaret cokelat yang hampir tergampar itu tidak banyak bereaksi. Dia memilih bergeser mundur dengan dua polisi lain merapat di samping kanan kirinya. 

Tiba tiba dari arah yang sama laki-laki berkemeja putih motif garis, bercelana jeans serta bertopi, menyelonong maju. Tangannya berusaha menjangkau polisi yang sama. 

Namun sebelum mendekat, langkah pria bertopi putih yang juga mahasiswa Papua itu dipotong aparat berbaret biru laut. Adu fisik tak terelakkan. Tinju lelaki kemeja putih reflek melayang ke arah muka aparat baret biru.

Untung, jual beli pukulan itu tidak berlanjut. Warga Papua dan aparat sama sama menjaga jarak. Tidak berselang lama gesekan itu berubah menjadi aksi lempar batu.

Dalam rekaman video amatir yang beredar di media sosial, batu batu itu disambitkan berulang-ulang ke udara dan membahayakan pengguna jalan lain. 

Dipicu Seruan Papua Merdeka

Mereka yang terlibat kericuhan di kawasan Rajabali Kota Malang itu adalah mahasiswa Papua yang mengatasnamakan Aliansi Mahasiswa Papua (AMP). Mereka turun ke jalan dalam rangka memperingati 57 tahun perjanjian New York dengan tema “Amerika Serikat Harus Bertanggung Jawab Atas Penjajahan di West Papua”.

Masalah timbul saat dalam orasi terdengar teriakan Papua Merdeka. Seruan itu memancing emosi warga sekitar, lalu kemudian berujung dengan bentrokan fisik.

Baca juga: Tiga organisasi wartawan sepakat tak memproduksi berita provokatif soal papua

Merasa terdesak karena kalah jumlah, massa AMP melempari warga dengan batu. Tidak hanya membahayakan yang dilempari. Batu batu itu juga mengancam pengguna jalan lain. 

Hal itu mengingat kawasan Rajabali merupakan perempatan jalan protokol Kota Malang. Aparat kepolisian dibantu Kodim 0833 Kota Malang berusaha turun tangan melerai. 

Menurut Kapolres Malang Kota AKBP Asfuri, sebelum aksi, massa AMP memang menyampaikan pemberitahuan. Namun karena tidak mencantumkan penanggung jawab, unjuk rasa yang diikuti puluhan mahasiswa itu tidak diizinkan.

Kendati demikian massa tetap turun ke jalan. Mereka melakukan long march yang dimulai dari stadion Gajayana, melewati kawasan Rajabali, dan hendak menuju Balai Kota Malang. 

Namun sesampai di kawasan Rajabali terjadi bentrokan dengan warga sekitar. Pada saat yang sama aparat juga berusaha membubarkan.

“Kami tidak bisa memberikan toleransi terhadap aksi massa yang tujuannya memecah belah persatuan. Karenanya aksi langsung kami bubarkan,“ kata Kapolres Asfuri. 

Ketegangan sempat melumpuhkan kawasan perempatan Rajabali. Kurang lebih satu jam pengguna jalan berhenti melintas karena khawatir terkena lemparan batu.

Massa AMP yang berjumlah lebih sedikit itu akhirnya berhasil dibubarkan. Dengan truk yang disiapkan, massa langsung dievakuasi ke kontrakan khusus mahasiswa Papua di Malang. 

Kontras Kecam Kekerasan 

Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Surabaya mencatat sepanjang tahun 2018 – Agustus 2019 telah terjadi 8 kali pembubaran unjuk rasa terkait isu Papua.

Pembubaran seringkali diikuti intimidasi, perampasan, pemukulan, hingga penangkapan paksa. Begitu juga yang terjadi di Malang Kamis (15/8) lalu. 

Dalam pembubaran sedikitnya 5 orang korban luka-luka. Kontras menuding dugaan pembiaran yang dilakukan aparat atas munculnya massa lain yang berakibat terjadinya bentrokan fisik.

“Kontras mengecam keras tindakan pembiaran yang dilakukan aparat kepolisian dalam peristiwa penyerangan massa aksi demonstrasi mahasiswa Papua di Kota Malang,“ tegas Koordinator Badan Pekerja Kontras Surabaya Fatkhul Khoir dalam pernyataan Sikap Kontras Surabaya Atas Penyerangan Mahasiswa Papua di Malang.

Baca juga: Pemerintah perlu fasilitasi ruang dialog antara mahasiswa Papua dengan warga

Demonstrasi merupakan hak menyampaikan pendapat dan ekspresi yang dilindungi UUD 1945. Ketentuan itu berlaku untuk setiap warga negara, tidak terkecuali mahasiswa Papua. Bahkan negara melalui kepolisian selaku aparat penegak hukum wajib memberikan perlindungan. 

Dengan tingginya eskalasi pembubaran yang dialami mahasiswa Papua, Kontras menilai menjadi preseden buruk bagi perkembangan demokrasi di Indonesia, khususnya Jawa Timur. Hal itu sekaligus menunjukkan aparat kepolisian gagal menjalankan tugas pokok dan fungsinya.

“Gagal memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, dan memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat,“ tulis Fatkhul Khoir. Polisi juga dianggap gagal mengimplementasikan nilai HAM dalam setiap tugasnya sebagaimana diatur dalam Peraturan Kapolri No 8 Tahun 2009.

Karenanya Kontras Surabaya mendesak kepolisian untuk memberi perlindungan kepada mahasiswa Papua dari segala ancaman kekerasan yang sering dialami serta menghentikan segala bentuk tindakan persekusi yang bertentangan dengan hukum dan HAM.

Kontras juga meminta masyarakat mendukung dan melindungi hak mahasiswa Papua dalam menyuarakan ketidakadilan dan segala bentuk pelanggaran HAM di Papua. (Mas Garendi)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.