READING

Dua Daerah Ini Belajar Mengendalikan Inflasi ke Ko...

Dua Daerah Ini Belajar Mengendalikan Inflasi ke Kota Kediri

KEDIRI – Keberhasilan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Kediri menjadi TPID terbaik se-Jawa Bali memancing daerah lain untuk belajar. Diantaranya adalah TPID Kota Tangerang dan TPID Kabupaten Sikka.

Kesuksesan Pemerintah Kota Kediri dalam menjaga stabilitas perekonomian memang patut diapresiasi. Tak berlebihan jika kesuksesan TPID kota ini mendapat predikat terbaik se-Jawa Bali selama tiga tahun berturut-turut.

“Dengan tiga komponen aspek proses, output dan outcome, Kota Kediri berhasil meraih nilai perfect yakni 100. Jadi kita belajar ke sini,” kata Staf Ahli Bidang Pembangunan, Ekonomi, dan Keuangan Kota Tangerang, Meita Bachraeni di ruang Command Center, Balaikota Kediri, Kamis, 12 September 2019.

Meita menjelaskan, sebenarnya pengendalian inflasi oleh TPID Kota Tangerang cukup stabil dan relatif bagus di Provinsi Banten. Inflasi tahunannya berada di bawah besaran inflasi rata-rata provinsi dan nasional. Namun jika dikaitkan dengan award tingkat kota, Kota Kediri ternyata masih unggul 4-5 persen dari total nilai yang mereka dapatkan.

Hal senada disampaikan Kepala Bagian Perekonomian Kabupaten Sikka, Fiatornong, atas tujuannya belajar ke Kota Kediri. Dia berharap bisa meniru dan mempelajari metode pengendalian inflasi yang dilakukan Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar bersama tim TPID Kota Kediri.

 “Kami sebenarnya awam tentang TPID. Apalagi saya baru delapan bulan bergabung di TPID. Kami berharap pulang dari sini ada ilmu yang bisa kami terapkan. Kemarin kami juga sudah mengunjungi pasar induk rasanya berbeda sekali dan tatananya luar biasa. Ini bisa jadi strategi yang belum kita buat,” kesannya.

Kedatangan mereka diterima oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemkot Kediri Enny Endarjati. Dalam pertemuan tersebut, Kepala Barenlitbang Kota Kediri Edi Darmasto menyampaikan kondisi terkini inflasi di Kota Kediri. Edi juga menjelaskan strategi dan kunci keberhasilan dalam mengendalikan inflasi di Kota Kediri.

Pertama, menurut Edi, adalah adanya komitmen yang kuat dari pimpinan beserta jajarannya. Pihak terkait juga harus menjalankan strategi 4K yakni Kecukupan pasokan komoditas pangan, Keterjangkauan harga pangan, Kelancaran distribusi dan Komunikasi publik yang efektif) dengan sungguh-sungguh.

Faktor penting ketiga adalah adanya analisis yang tajam dari BI beserta TPID dalam menghadapi gejolak harga pangan dan non pangan serta merumuskan kebijakan untuk penanggulangannya. Data BPS lah yang menjadi bahan analisis. Keempat, pemimpin selalu hadir ketika terjadi kesulitan masyarakat. “Dan yang terakhir, TPID harus solid,” bebernya.

Sementara untuk implementasi 4K ini ada beberapa upaya pendukung yakni pada komoditas pangan dan komoditas non pangan. Pada komoditas pangan ada beberapa upaya. Diantaranya, optimalisasi  Pasar Grosir Ngronggo, pengoperasian Jembatan Brawijaya, Operasi Pasar Murni (OPM), dan ekspose data inflasi bulanan ke pihak terkait maupun masyarakat.

Sementara untuk beberapa kebijakan non komoditas pangan yakni kebijakan seperti kebijakan pendidikan, kebijakan transportasi, kebijakan perdagangan, kebijakan perumahan, membentuk tim ADD HOC pada saat kenaikan administered price serta menjaga komunikasi publik yang baik.

Penulis : Dina Rosyidha
Editor : Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.