READING

Ecobrick, Upaya Memasukkan 250 Bungkus Mie Instan ...

Ecobrick, Upaya Memasukkan 250 Bungkus Mie Instan Ke Dalam 1 Botol Air Mineral

“Tekan lagi ya sampai padat. Supaya tidak ada ruang lagi di dalam botol,” Katanya berulang-ulang kepada peserta workshop “Ngulik Ecobrick” siang itu di Rudeka Upcycle Kedai, Jombang. Sambil berkeliling memperhatikan peserta memasukkan remahan plastik ke dalam botol-botol plastik bekas, tangan kirinya tak lepas menggendong si bungsu. Dia adalah Shanty Ramadhani, founder Sanggar Hijau Indonesia, salah satu pelopor gerakan ecobrick di Indonesia. Gitu doank? apa menariknya? Anak saya paling bontot pun juga bisa kalo cuma ngisiin botol pake sampah plastik kaya gitu…  Batin saya pertama kali melihat aktivitas pembuatan ecobrick. Justru itu Mylov… saking mudahnya, kegiatan ini memang kudu dilakukan oleh semua orang, biar limbah plastik di sekitar kita berkurang Gaes!

Shanty Ramadhani (tengah), Founder Sanggar Hijau Indonesia, sedang mengisi workshop cara membuat ecobrick kepada para peserta dari kalangan generasi muda

Plastik oh plastik…

Plastik adalah salah satu bahan paling banyak dipakai dalam berbagai produk kebutuhan manusia, seperti kantong belanja, botol minuman, kemasan produk, hingga sedotan. Semua sudah mafhum, sampah berbahan plastik sangat sulit untuk diuraikan, namun anehnya kita tak berhenti mengkonsumsinya. Bahkan faktanya produk di minimarket hampir 90% dibungkus dalam kemasan plastik. Padahal bumi butuh waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk mengurai satu saja produk plastik. Sebagian besar bahan pembuat plastik terbuat dari molekul minyak bumi yang dipanaskan dan mengubahnya menjadi polimer termo-plastik berantai karbon kuat yang sulit dihancurkan, bahkan alam pun tak berdaya menguraikannya.

Peserta sedang memasukkan remahan plastik bekas ke dalam botol.

Menurut geokimiawan organik dari Stanford University, Kenneth Peters, alam tidak pernah menciptakan benda seperti plastik, sehingga tidak ada organisme di muka bumi yang siap menangani masalah plastik. Karena itulah, menguburnya tidak memecahkan masalah. Begitu pula dengan membakarnya. Dioxin dan Furan adalah dua dari berbagai senyawa gas yang dilepaskan ke udara saat plastik dibakar. Masalahnya adalah selain mencemari lingkungan, kedua senyawa tersebut bersifat karsinogen atau dapat menyebabkan kanker pada manusia. Jadi, membakar sampah plastik justru akan menimbulkan masalah baru yang berbahaya bagi manusia.

Lantas apa solusi terbaik bagi limbah plastik di sekitar kita?

Mereka bersemangat sekali mengikuti tiap tahapan dalam membuat ecobrick.

Kembali saya amati beberapa anak muda yang sedang belajar membuat ecobrick siang itu. Bersemangat sekali mereka menggunting sachet-sachet kopi bekas, kemudian memasukkannya ke dalam botol, lalu memadatkannya dengan stik dari bambu yang berfungsi untuk menyodok plastik dalam botol agar padat dan rapat. Ecobrick sendiri berasal dari kata ecology yang berarti ekologi dan brick yang berarti bata atau bisa disebut juga dengan bata ramah lingkungan, yaitu balok bangunan pakai ulang yang dibuat dengan mengemas remah plastik ke dalam botol plastik hingga mencapai kerapatan tertentu. Disebut “bata” karena ia dapat menjadi alternatif bagi bata konvensional dalam mendirikan bangunan.

Plastik bekas dipotong kecil-kecil agar bisa memenuhi isi botol agar ecobrick menjadi padat dan tidak mudah rusak,

Namun selain sebagai bata, ecobrick juga bisa digunakan untuk membuat furniture, taman, bahkan tempat duduk pelaminan, seperti pengalaman Sanggar Hijau pimpinan Mbak Shanty yang pernah mensupport salah satu teman yang menikah dengan membuatkan panggung dan kuwade dari 1980 buah ecobrick seberat 445 kilogram. Selain itu, Sanggar Hijau juga pernah bekerja sama dengan PLTU Paiton membuat taman berbahan ecobrick di Pantai Bentar, Probolinggo. Dengan menggunakan campuran bahan organik tanpa semen seperti pasir, tanah liat, dan jerami, dipercaya ecobrick dapat bertahan hingga 400 tahun.

 “Plastik apa saja, Mbak, yang bisa dimasukkan dalam botol?” tanya saya kepada Mbak Shanty, disela ia membimbing para peserta. “Ada dua jenis plastik yang bisa digunakan,” Jelasnya. “Plastik lembut seperti kresek sebagai dasar untuk memenuhi ruang dan yang keras seperti sachet atau kemasan sebagai isian.”

Plastik bekas yang menjadi isian botol harus ditekan-tekan dengan stik agar padat dan tidak bercelah.

Plastik yang jadi isian ecobrick haruslah bersih dan kering.Plastik kotor dan basah di dalam botol terlihat kurang cantik dan akan menumbuhkan mikrobiologi dan pembentukan metana di dalam ecobrick. Gerakan berteknologi rendah ini ternyata dapat mengurangi problem plastik agar tidak mencemari lingkungan dan juga menghindarkan proses daur ulang yang terbukti kurang efektif . “Tebak, Mas. Berapa bungkus mie instan yang bisa masuk dalam botol plastik ini,” Kata Mbak Shanty sambil menunjukkan botol bekas air mineral ukuran 600 ml. “Berapa, Mbak?” Tanya saya tak sabar. “250 bungkus.” Hah? Serius mbak…

Sekarang baru saya ngeh, betapa gerakan seremeh ini bisa mengatasi problem plastik, minimal di lingkungan kita sendiri.

Ecobrick yang dibuat harus ditimbang dulu sebelum dikunci penutupnya. beratnya minimal volume botol minuman saat penuh X 0,03. Misal botol plastik bekas ukuran 600 ml, berarti berat ecobrick harus minimal 200 ml.

Ecobrick telah menjadi gerakan yang mendunia saat ini. beberapa pelopornya secara simultan saling menyempurnakan metode tersebut. Adalah Andreas Froese, seorang arsitek Jerman, yang pertama kali menggunakan botol plastik berisi pasir untuk material bangunan di Amerika Selatan tahun 2000. Namun baru Alvaro Molina lah yang mengadaptasi ide tersebut bukan dengan mengisi botol plastik dengan pasir, melainkan dengan plastik, di tahun 2003. Susana Heisse dari Guatemala turut mengembangkan ecobrick menjadi gerakan untuk menyelesaikan masalah sampah plastik di Danau Atitlan tahun 2014.

Di Asia Tenggara, gerakan ini dipelopori oleh Russell Maier, pria asal Kanada, yang mengenalkan pertama kali metode ecobrick di Filipina. Ide tersebut timbul karena kerisauan Maier terhadap limbah plastik yang tidak dikelola dengan benar. Menurutnya, tidak semestinya sampah plastik dibakar atau ditimbun, tapi bisa dimanfaatkan kembali untuk kehidupan berkelanjutan. Ia lalu mengajarkan pembuatan ecobrick ke sekolah-sekolah. Gerakannya kemudian berlanjut ke Indonesia, saat ia pindah ke Bali. Maier secara aktif menyebarkan metode ecobricks ke berbagai daerah, terutama di Jawa, dan salah satunya di Yogyakarta, kota dimana Mbak Shanty belajar pertama kali tentang ecobrick tiga tahun lalu, kemudian menerapkan dan menyebarkannya di Jombang dan sekitarnya hingga kini.

Ecobrick yang telah jadi bisa digunakan untuk berbagai macam kebutuhan, seperti untuk pengganti batu bata, kaki meja, panggung, hingga tempat duduk pengantin seperti yang terlihat di layar laptop.

Perempuan yang juga berprofesi sebagai guru geografi dan sosiologi di SMA Negeri Mojoagung ini, bercita-cita suatu saat bisa membuat taman organik, yang dibangun dari ecobrick dan berisi tanaman-tanaman organik untuk ketahanan pangan lingkungan sekitar. “Mari jadikan ini jihad ekologi untuk lingkungan hidup kita, Mas,” Katanya semangat. “Bagaimana dengan cara sederhana kita bisa ikut bertanggung jawab terhadap plastik yang kita gunakan.” Sepakat, Mbak.

Sepulang dari Jombang, saya membawa oleh-oleh berupa semangat untuk membuat hidup lebih baik dengan mulai “berdamai” dengan plastik, salah satunya dengan ecobrick. Berdamai disini adalah seperti yang dibilang Mbak Shanty sebelum saya berpamitan pulang, “Jangan lagi menyebut plastik bekas itu sampah ya, karena selama plastik itu masih kita gunakan, berarti itu bukan sampah…”

print

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.