Eksibisionisnya Kelas Pagi Kediri

Minggu pagi, 5 Februari 2019, sebuah mobil dobel kabin putih melaju pelan membelah sejuknya Kota Kediri yang malam sebelumnya diguyur hujan. Pagi ini cerah sekali. Cahaya matahari hangat menerobos kaca jendela yang dibiarkan terbuka, turut menyilakan udara segar pagi memasuki kabin mobil.

Begitu sampai di lokasi, di gelaran Car Free Day Jalan Dhoho Kediri, lima anak muda dengan semangat tumbuh liarnya menyiapkan tempat pameran sederhana. Kotak kayu putih setinggi satu meter dan seperangkat kerangka besi sebagai bingkai ditata di bahu jalan. Di atasnya diletakkan album foto ukuran 30 X 40 cm. Cantik sekali.

Mereka adalah kumpulan fotografer yang menjadi peserta Kelas Pagi Kediri. Sebuah ruang belajar fotografi yang berjejaring di beberapa kota. Selain Kediri, kelas fotografi gratis bentukan Anton Ismael ini juga berdiri di Jakarta, Yogyakarta, dan Papua.

Pagi itu, selama enam jam peserta Kelas Pagi Kediri mengokupansi ruang publik untuk memamerkan karya tugas fotografi berjudul “Exhibitionist #1: You Are Apple Of My Eye”.

Mengapa hanya enam jam? “Kami ingin memberi efek kejut kepada warga Kediri dengan menampilkan pameran foto lain dari pada yang lain, baik dari sisi tema maupun treatment display-nya”, kata Brian Banana, ketua Kelas Pagi Kediri.

Ilmu kejiwaan menyebut Eksibisionis sebagai hobi mengekspos bagian tubuh pribadinya di depan orang asing atau di ruang publik untuk mendapatkan kepuasan secara seksual. Meski terdengar ganjil, idiom tersebut cukup mewakili semangat Kelas Pagi Kediri sebagai judul konsep berpameran di ruang publik.

Namun berbeda dengan makna secara klinis, Eksibisionis bagi Kelas Pagi Kediri lebih diartikan sebagai alternatif ruang pamer karya yang biasanya dilakukan secara tertutup di galeri atau cafe, kini dibawa ke ruang publik, dan secara terbuka dipertontonkan di depan khalayak umum.

Semua berawal dari sepotong APEL

Keunikan dan kelebihan dari belajar di Kelas Pagi Kediri adalah tantangan untuk menggarap karya foto dengan tema dan pendekatan yang “out of the box”. Contohnya proyek foto apel ini.

Ada istilah dalam bahasa Inggris yaitu “apple of eye” atau pupil mata, yang merupakan salah satu bagian dari mata yang sangat penting untuk melihat objek benda. Frasa “you are the apple of my eyes” berarti sesuatu yang benar-benar istimewa. Seperti saat sedang berkarya, kita harus memposisikan objek atau subjek sebagai satu-satunya center of interest.

Objek yang sama, meskipun dijadikan target foto oleh banyak orang, pasti tak akan memiliki hasil foto sama. Karena pengalaman, referensi, dan visi kreatif setiap orang berbeda.

Peserta Kelas Pagi Kediri ditantang untuk merespon siklus hidup sebuah apel dalam bentuk karya foto sesuai dengan konsep dan cerita yang mereka inginkan. Secara bergiliran apel tersebut “digarap” selama sebulan untuk menghasilkan intepretasi beragam.

Hasilnya, sebuah album foto berisi dokumentasi apel mulai segar bugar hingga membusuk tereksplorasi dengan apik. Eksplorasi dan menghargai proses adalah dua kunci pembelajaran yang didapat dari proyek foto ini. Betapa kreativitas dalam mengeksplorasi objek dan penghargaan terhadap proses dalam berkarya akan menghasilkan aneka rupa perspektif unik, meskipun benda yang menjadi objek adalah sama, sepotong apel. 

Karya foto peserta Kelas Pagi Kediri yang dipamerkan ini adalah hasil dari proses pergumulan yang panjang. Selama satu bulan mereka berinteraksi dengan sebuah apel untuk mendapatkan hasil foto yang berkisah.

Goresan spidol penuh makna dari seniman beken Farid Stevy menjadi tambahan sentuhan artistik di akhir cerita. Perupa sekaligus musisi yang selalu menyebut dirinya “bukan siapa-siapa” ini, baru saja menggelar pameran seni eksperimentalnya di The Bloom, Lobby Hotel Monopoli Jakarta. Selama 36 jam ia “dikurung” dalam sebuah ruang kotak untuk berkarya.

Tulisan dan celotehannya selalu nakal dan tak terduga. Liukan kata Farid Stevy yang tergores di masing-masing foto apel seakan menguatkan sentuhan personal masing-masing karya tentang siklus hidup si apel. Bahwa semua orang punya ceritanya sendiri. Bahkan benda pun mempunyai cara untuk mendongengkan dirinya sendiri.

Seperti foto karya Hana Bernike. Terlihat si apel masih segar merah merona, nampak melayang di udara di antara tangan yang menengadah dan sepotong bibir merekah. Farid meningkahi fragmen gambar itu dengan tulisan “semua negotiable kecuali waktu.”

Atau foto diri Briant Banana yang berperan sebagai seorang androgini. Sang ketua kelas ternyata pernah mengalami perundungan saat di sekolah, dan Farid memberikan pembelaannya dengan “bullying sah kalo kamu assh*le”.

Tebaran kata-kata penuh makna dari ide-ide spontan Farid Stevy tersebut turut menguatkan masing-masing karya foto yang termuat dalam album yang dipamerkan.

Suara Azan Dhuhur menjadi penanda usainya pameran foto yang digelar di tiga tempat berturut-turut. Berawal pada gelaran Car Free Day Jalan Dhoho mulai jam 06.00 – 08.00 WIB. Kemudian hijrah ke Taman Sekartaji pada pukul 08.00 – 10.00 WIB. Dan berakhir di Hutan Joyoboyo pada pukul 10.00 – 12.00 WIB.

Segudang pengalaman menarik dituai para fotografer dalam pameran ini. Seperti Zidni, penjual kopi keliling, yang begitu antusias mengamati foto, dan memutuskan mengikuti batch berikutnya. Atau sekumpulan anak-anak SMA yang riuh mengomentari tiap lembar foto yang mereka lihat. Semua tergoda untuk mencicipi kegilaan dalam berkreasi yang ada di Kelas Pagi Kediri.

(Teks & Foto : Adhi Kusumo)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.