READING

(Ekspedisi Wonosalam): Menyusuri Jejak Wallace di ...

(Ekspedisi Wonosalam): Menyusuri Jejak Wallace di Wonosalam, Jombang

Ia memiliki prestasi luar biasa dalam mengenalkan tempat-tempat dengan keragaman hayati terkaya di dunia, ia jenius hingga menyumbang pemikiran teori evolusi, ia pun gigih sebagai petualang. Di sisi lain, ia mempercayai alam gaib dan komunikasi dengan ruh. Kontradiksi itu menjadikannya memikat sebagai naturalis yang pernah singgah di Wonosalam, Jombang.

Akhir Oktober 2019 adalah musim yang begitu tandus mengeringkan daun-daun jati di Desa Wonosalam, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Tepat pada bulan yang sama, 158 tahun silam, rute ini dilalui oleh naturalis berkebangsaan Inggris yang memberi sumbangan besar terhadap teori evolusi, Alfred Russel Wallace (8 Januari 1823 -7 November 1913). Wonosalam, merupakan salah satu sekrup kecil dari 8 tahun perjalanan Wallace di Nusantara, khususnya hanya 3,5 bulan di tanah Jawa mulai 18 Juli-31 Oktober 1861, seminggu di Wonosalam (saat itu Wallace menulis Wonosalem), kaki Gunung Anjasmoro (Wallace menuliskan kaki Gunung Arjono, gunung yang terletak bersebelahan dengan Gunung Anjasmoro yang lebih tinggi).

Hanya saja, perjalanan yang singkat ini menandai desa yang jauh dari hiruk pikuk keramaian Jombang. Sebuah desa yang kini bukan tempat singgah para pejalan, apalagi pejalan asing, pada abad ke-19 telah tercatat sebagai salah satu kepingan The Malay Archipelago (1869), catatan perjalanan Wallace yang kelak menjadi penyumbang teori evolusi. Catatan ini hadir dalam Bahasa Indonesia oleh penerbit Komunitas Bambu (2009) dan penerbit Indo Literasi (2015) dengan judul Sejarah Nusantara. Berbekal buku itulah, kami tim Jatimplus.id terdiri dari saya (reporter), Adhi Kusumo (fotografer), dan Prasto Wardoyo (videografer) menyusuri jejak Wallace di Wonosalam.

Candi Rimbi, “Gerbang” memasuki Wonosalam. Foto : Jatimplus.ID / Adhi Kusumo.

Seperti mendatangi museum atau artefak, para pencerita yang akan bisa menghidupkan sebuah perjalanan. Batu-batu miliki lagu bila peziarah mampu membaca nada-nada yang tersimpan di dalamnya melalui narator yang mengantarkan atau preteks yang dibaca sebelumnya. Demikianlah kami menapak Wonosalam.

Kami mengambil rute kebalikan dari Wallace yaitu dari arah Kediri ke Wonosalam, sedangkan Wallace mencapai Wonosalam dari Surabaya. Jika melihat rute yang ditulis Wallace, dari Surabaya ia naik kereta kuda melalui Mojoagung (kini  Kabupaten Jombang) menuju Djapanan (kini Kabupaten Pasuruan) baru mencapai Wonosalam.

“Jadi dia masuk dari arah barat,” kata Muhamad Edi Kuncoro, warga desa Wonosalam yang akan menjadi pemandu kami selama di Wonosalam. Edi akan menghiasi laporan serial Wonosalam berikutnya, sebab ia juga petani kopi dan juga inisiator lahirnya kelompok tani kopi Wojo. Jejak Wallace ini kami susuri dari arah berlawanan.

jalan menuju Wonosalem melewati hutan yang luar biasa bagus, di pedalaman hutan kami melewati reruntuhan dari sesuatu yang nampak seperti makam kerajaan atau musoleum. Makam kerajaan keseluruhan terbuat dari batu, dan diukir dengan sangat indah…relief-relief itu diukir dengan sangat indah, beberapa figur yang berupa binatang bisa dengan mudah dikenali dan bentuknya sangat akurat. Ukuran struktur ini kira-kira tiga puluh kaki persegi dengan tinggi dua puluh kaki, dan traveler mendapat struktur ini berada sedikit di atas sisi jalan, dinaungi oleh pohon-pohon besar, dikelilingi oleh tanaman merambat, di belakangnya terdapat hutan yang terlihat muram.

Kami tiba di “gerbang” Wonosalam, demikian Edi menyebutnya. Sebuah candi yang berdiri tegak dan somplak di cakrawala senja. Somplak, sebab bangunan itu tak pernah utuh sejak ditemukan oleh Wallace pada Oktober 1861 hingga kini. Bagian atasnya tinggal separuh. Laman perpusnas.go.id menuliskan bahwa bangunan ini belum pernah direstorasi. Ada perasaaan aneh menyusup. Setidaknya, kami mengunjungi bangunan yang sama persis ketika Wallace mengunjunginya.

Beberapa artefak yang ada di sekitar Candi Rimbi. Foto : Jatimplus.ID / Adhi Kusumo.

Candi Rimbi, demikian penduduk menyebut. Sedangkan di lokasinya tak ada lagi papan nama. Yang ada hanya loket yang penunggunya datang menjelang kami pulang, menyodorkan buku tamu, dan tak banyak bercerita.

“Ini gerbang Wonosalam. Setelah melalui gerbang ini, akan dirasakan energi yang beda,” kata Edi. Membincang hal-hal yang tak kasat mata memang menarik, meski medan energi bisa dibuktikan dengan teori fisika. Hanya kata-kata Edi mengarah pada hal metafisika. Dan tahukah, bahkan Wallace pun mempercayai hal-hal semacam ini hingga menjadikan ia kerap dijuluki sosok yang aneh dan menjadi celah bagi para pencelanya.

David Quammen, penulis National Geographic (Desember 2008) menuliskan bahwa Wallace adalah orang yang berpendirian keras dan temperamental, antusiasme yang sering berubah-ubah, memercayai alam gaib dan komunikasi dengan ruh, penggemar frenologi (studi tentang kepribadian seseorang berdasarkan bentuk dan ukuran tengkorak), menjalani mesmerisme (hipnotisme), penentang vaksin cacar air, dan pendukung gerakan nasionalisasi kepemilikan tanah pribadi yang luas.

Pada saat meraba Candi Rimbi, terbersit dalam benak saya, mungkinkah Wallace sempat berkomunikasi dengan leluhur yang membangun candi ini? Tentu saja ini pemikiran iseng. Yang jelas, seperti Wallace mencatat, panel-panel pada Candi Rimbi terukir dengan indah bentuk-bentuk binatang yang sangat mudah dikenali.

“Ini kancil,” kata Edi menjelaskan, meski saya melihat bentuk ini lebih mirip kelinci dengan telinga yang demikian panjang. Ada relief monyet, banteng, burung, hingga tetumbuhan mulai dari lotus dan pepohonan yang dipahat di atas batu andesit. Relief ini dipahat dengan teknik datar (wayang style) yang sangat halus untuk melukiskan ajaran Tantri. Untuk membacanya menggunakan teknik prasawiya (berlawanan dengan arah jarum jam), mulai dari sisi utara (pintu masuk).

Beberapa pahatan hewan unik mirip kancil tapi bertelinga lebar terlihat di relief candi. Foto : Jatimplus.ID / Adhi Kusumo

Pada saat mengelilingi candi dari satu panel ke panel lain, saya berusaha menemukan relief harimau. Hanya tak menemukan. Perkiraan pembangunan candi ini pada pertengahan abad ke-14 sebagai penghormatan kepada Tribhuwana Tunggadewi Jayawisnuwardhani yang memerintah Majapahit tahun 1329-1350. Pada masa itu, harimau tentu masih ada.

Pada abad ke-19 ketika Wallace ada di Wonosalam, harimau masih berdaulat di hutan-hutan pegunungan Anjasmoro. Wallace menuliskan, pada saat ia di Wonosalam, Mr. Ball, koleganya, mengunjunginya lewat Mojoagung. Mr. Ball menceritakan bahwa ada anak yang dimakan harimau ketika sedang mengendarai kereta yang ditarik kerbau di pinggiran hutan dekat Mojoagung. Harimau itu tertangkap dan hancur dikeroyok massa. Wallace ingin meminta tengkoraknya, namun keburu dihancurkan untuk diambil giginya sebagai jimat.

“Sampai sekarang, orang-orang kehutanan masih ada yang melihat harimau,” kata Edi. Di kawasan Gunung Arjuno, menurut warga, masih ditemukan kijang dan babi. Bahkan ada salah satu lokasi yang dinamai Lembang Kidang (kijang) di dekat bukit Kukusan. Jika prey (satwa yang dimangsa) masih ada, ada kemungkinan karnivora besar masih ada.

Di sisi lain Wallace mencatat, di Wonosalam ia berhasil mengumpulkan banyak jenis burung bahkan sempat menyantap merak. Kisah tentang hutan membawa kami untuk masuk lebih dalam ke kawasan hutan di kaki Anjasmoro. Selain melihat loji dan pohon kopi tinggalan zaman Belanda.

Peninggalan berupa undakan yang dulunya adalah loji milik orang Belanda. Foto : Jatimplus. ID / Titik Kartitiani.

Menyantap Daging Merak

Oktober tampaknya mengambil jatah musim hujan terlalu banyak. Dedaunnya yang gugur menutupi lantai hutan hingga ketebalan 20cm. Hutan meranggas. Kemarau yang sama yang menemani Wallace dalam perjalanannya mencari hutan. Ia mengeluhkan kemarau yang menjauhkannya dari serangga sehingga ia tak dapat mengoleksi banyak serangga yang menjadi spesimen yang diminati.

Selain itu, Wonosalam jauh dari hutan meski kini, wilayah yang dulu perkebunan kopi kini menjadi hutan. Ia mengatakan, bahwa pada masa itu, Wonosalam tempat Wallace singgah jauh dari hutan, dikelilingi perkebunan kopi, gerumbulan bambu, dan rumput kasar.

Kami mencoba memetakan titik-titik yang disebutkan Wallace. Loji yang kini berada di tengah hutan kemungkinan dulu adalah perkebunan kopi yang disebut oleh Wallace.

Air terjun di tengah hutan. Dibutuhkan waktu 1-2 jam perjalanan dari area ini menuju loji. Foto : Jatimplus.ID / Adhi Kusumo.

“Paling hanya setengah jam jalan kaki,” kata Edi menyebut jarak loji dari air terjun, titik terakhir yang bisa dicapai dengan kendaraan bermotor. Ternyata kami butuh waktu 2 jam untuk mencapai sisa-sisa loji tersebut.

Vegetasinya sama seperti yang disebutkan Wallace, rumput kasar (kelompok Spinifex) masih kami temukan sepanjang jalan pendakian dan juga hutan bambu yang sangat rapat. Keriuhan burung-burung meski kami masuk hutan sudah jam 11.00 WIB menunjukkan betapa kaya hutan ini dengan jenis burung.

Kami bertemu dengan sekawanan burung pengantin atau burung sepah hutan (Pericrocotus flammeus). Bulunya warna oranye, menyolok di antara hutan coklat yang meranggas. Burung ini masih kerap diburu hingga saat ini.

Perkara perburuan burung, Wallace menuliskan bahwa di Wonosalam ia menemukan beberapa spesimen merak hijau (Pavo muticus). Merak hijau atau terkenal dengan merak jawa berbeda dengan merak biru asal India. Merak hijau memiliki leher berwana hijau dengan bentuk cengger yang berbeda dengan merak biru.

tempat ini (Wonosalam) terkenal dengan burung merak-nya, yang dagingnya lembut, putih, enak dan mirip daging kalkun, tulis Wallace.

Di Wonosalam, Wallace mendapatkan beragam spesimen unggas hutan antara lain unggas hutan berwarna hijau langka (Gallus furcatus), ayam hutan (Gallus bankiva), 6 jenis burung pelatuk, 4 jenis kingfisher, burung hornbill (Buceros lunatus) yang panjangnya lebih dari 4 kaki, dan loriket kecil (Loriculus pusillus) yang jarang ditemukan.

Ketika saya menunjukkan gambar ayam hutan yang dideskripsikan Wallace memiliki suara pendek dan kasar, Edi dan kawan-kawan masih menemukan di hutan meski sekelebat sebab bekekok, nama lokalnya, sangat gesit.

Tanaman kopi yang tumbuh subur di hutan dimana Wallace dulu sempat singgah. Foto : Jatimplus.ID / Adhi Kusumo.

Selama di Wonosalam dan Djapanan (Mojokerto), Wallace memperoleh 98 jenis burung namun Wallace sedikit mendapatkan spesies serangga. Ia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke tempat yang lebih lembab yaitu ke wilayah Jawa Barat. Ia kembali ke Surabaya melalui sungai dengan sebuah perahu yang cukup luas untuk barang-barangnya dan juga asistennya.

Sungai itu tentu saja masih ada hingga saat ini, membelah Mojokerto hingga Surabaya. Bedanya, kini sungai itu tak lagi digunakan jalur transportasi. Wallace mencatat, perjalanan dengan perahu ini lebih murah, hanya mengelurakan seperlima biaya ketika ia mengendarai kereta kuda.

Perihal keterbatasan dana kerap muncul dalam catatan Wallace baik di The Malay Archipelago dan juga kumpulan surat-surat Wallace yang terangkum dalam buku Letters from the Malay Archipelago (Oxford University Press, 2015). Inilah yang membedakan ekspedisi Wallace dan Darwin yang “bersembunyi” di balik HMS Beagle dengan fasilitas yang jauh lebih mewah dibandingkan Wallace.

Keterbatasan ini yang menjadikan perjalanan Wallace muda lebih menggentarkan. Ia tidur di mana sana, menyatu dengan masyarakat yang didatangi, makan apa saja, hingga melawan maut menghadapi malaria. Pun pada masa itu, Wallace adalah naturalis muda yang bermodal nekat sementara Darwin sudah menjadi naturalis terpandang.  

Akhirnya, dunia mengakui belakangan, bahwa Wallace turut serta menyumbang teori evolusi selain Charles Darwin yang lebih diakui dunia sebelumnya. Beberapa dasawarsa terakhir, tulisan-tulisan ilmiah Wallace mulai diumumkan berdampingan dengan tulisan idolanya, Darwin. National Geographic (edisi Desember 2008) menyebutkan bahwa foto Wallace kini digantung di foto lama Darwin di dalam ruang rapat Linnean Society di London. Butuh waktu lama hingga Wallace diakui sebagai salah satu naturalis penting sejak ia meninggal tahun 1913.

Reporter : Titik Kartitiani
Fotografer : Adhi Kusumo dan Titik Kartitiani

Catatan: terdapat ralat yang disampaikan pembaca pada alenia ke-5, tertulis Mojoagung (Kabupaten Mojokerto) dan Djapanan (Kabupaten Mojokerto), SEHARUSNYA Mojoagung di Kabupaten Jombang dan Djapanan di Kabupaten Pasuruan. Terima kasih atas perhatiannya.

Print Friendly, PDF & Email

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.