READING

Electone, Hiburan Paling Dicari Saat Musim Kawinan

Electone, Hiburan Paling Dicari Saat Musim Kawinan

“Nanti saya share loc ya begitu sampai lokasi.”

KEDIRI – Baru saja saya membaca WA yang masuk dari Mas Rizki, pemain organ tunggal dari Anada Musica Electone, salah satu grup musik hajatan yang cukup laris di Kediri dan sekitarnya. Bulan ini hanya lima hari saja mereka tidak manggung. Sisanya? Goyang terus…

Sejak lama saya memang ingin bikin artikel tentang profesi yang punya sebutan keren “Wedding Singer” ini. Beberapa kali saya mengirim WA dengan tulisan yang sama ke Mas Rizki. “Mas, kalau pas ada tanggapan, saya dihubungi ya.”

Pucuk dicinta ulam tiba, kata pepatah anak angkatan 80-an, akhirnya malam ini saya bisa menemani Anada Musica menghibur para tamu kawinan.

Sheila sedang menyanyikan sebuah lagu untuk menghibur para tamu undangan.

Orang lebih familiar istilah electone daripada organ tunggal. Padahal serupa odol untuk menyebut pasta gigi, electone sebenarnya adalah merek sebuah produk, yaitu organ elektronik keluaran Yamaha, yang seri pertamanya D-1, diluncurkan pada tahun 1959.

Di awal tahun 70-an electone (akronim dari electronic tone) mulai masuk ke Indonesia, dipopulerkan oleh Yayasan Musik Indonesia bentukan Yamaha. Saat itu, elektone menjadi penanda strata sosial elit di masyarakat karena harganya termasuk mahal dan sulit dijangkau kalangan menengah ke bawah.

Namun sejak pertengahan 80-an, penggunaan elektone mulai marak dan seiring waktu menggeser peran band dengan pemain musik lengkap. Alasannya mudah ditebak, yaitu lebih praktis dan murah meriah. Bahkan kini, tren hiburan organ tunggal alias electone, telah merambah kemana-mana, mulai dari acara mewah hingga hajatan di desa terpencil dan gang-gang sempit di perkotaan.

Penyanyi electone jaman sekarang semakin dimudahkan oleh teknologi. berkat adanya papan elektronik, penyanyi tak harus menghapal lagu yang ia nyanyikan.

Berulang kali saya tengok google map di HP sambil pelan-pelan menyusuri jalan raya Tugurejo, jalan besar penghubung kawasan pabrik Gula Pesantren dengan Simpang Lima Gumul. Si mesin penunjuk arah mengantar saya ke sebuah jalanan kecil nan gelap. Wah, jangan-jangan salah jalan nih, batin saya.

Dan benar, motor saya terhenti di jalan buntu di antara pepohonan besar. Sepi sekali. Sementara di kejauhan terdengar alunan musik dangdut khas orang kawinan. Suara itu yang sebenarnya ingin saya tuju. Saya kemudian balik lagi ke jalan besar, mengeset ulang goggle map saya, dan akhirnya ketemu tujuan awal saya.

Desta sedang merapikan riasannya sembari menunggu giliran menyanyi.

Jalan Serut adalah jalan sempit selebar badan mobil yang berujung di keramaian hajatan Wahyu dan Dani, sepasang pengantin baru yang malam ini sedang berbahagia melangsungkan resepsi pernikahannya. Adalah hal lumrah di desa atau kampung, warga menutup jalan untuk digunakan sebagai tempat hajatan untuk menghemat biaya sewa gedung.

Begitu memasuki tenda terop, saya disambut alunan lagu yang tak asing lagi. Ibarat kata, lagu ini adalah “the most playlist song” pesta kawinan seantero nusantara. Padahal kalau disimak benar, lirik lagu ini nggak banget untuk jadi lagu favorit di saat orang lagi berbahagia. Tapi yah, siapa sih yang bisa menolak pesona lagu-lagu ciptaan sang “Godfather of the Broken Hearted”, the one and only, Lord Didi Kempot?

Desta (tengah) adalah juga siswi sebuah SMA negeri di Kota Kediri. Dandanan panggungnya kekinian sekali, seperti penyanyi favoritnya, Nella Kharisma.

Wong salah ora gelem ngaku salah

Suwe-suwe sopo wonge sing betah

Mripatku uwis ngerti sak nyatane

Kowe selak golek menangmu dewe

Tak tandur pari jebul tukule malah suket teki

Hayo ngaku, pas baca lirik di atas, kalian tak sadar ikutan menyanyi kan, hehehe. Saya lalu langsung menuju bibir panggung tanpa melewati meja penerima tamu, menjumpai Mas Rizki yang nampak asik memainkan tuts keyboard sambil sesekali memutar knop-knop yang ada di depannya. Pria berkacamata itu menyapa ramah begitu mengetahui kehadiran saya.

Sheila menemani menyanyi salah seorang tamu undangan yang ingin menyumbangkan suaranya.

“Kesasar ndak Mas?” tanyanya. Saya hanya membalasnya dengan senyum kecil. Tiba-tiba seorang perempuan parobaya menyela pertemuan kami. Ia menyalami saya dengan hangat, “Saya Bu Agus, pemilik Anada Musica,” ucapnya memperkenalkan diri. Saya lalu beranjak mengikutinya menuju ruang tamu rumah.

Kerasnya suara musik dari luar sedikit berkurang di ruangan ini. Bu Agus lalu mulai membuka percakapan. Selain mempunyai usaha hiburan, Bu Agus atau yang lebih akrab biasa dipanggil dengan “Mak’e” juga mempunyai usaha kuliner jajanan tradisional di rumahnya, di daerah Kwadungan Kecataman Ngasem, Kabupaten Kediri.

Bu Agus atau Mak’E, pemilik dari Anada Musica Electone.

Anada sendiri telah berkarya sejak 8 tahun lalu, dan Mas Rizki adalah anggota Anada yang ikut merintis sedari awal usaha hiburan organ tunggal ini.

Ibarat front man di sebuah grup band rock, Mas Rizki adalah anggota paling senior dan paling penting di Anada. Sedangkan untuk penyanyi, Bu Agus mempunyai lima penyanyi tetap dan beberapa penyanyi lepas. Salah satu penyanyi tetapnya dibawanya malam ini, yaitu Sheila, yang masih duduk di kelas 2 SMA.

Bu Agus menemukan talenta bernyanyi Sheila saat gadis tersebut menyumbangkan lagu di sebuah hajatan. Ia lalu dipoles dan dididik oleh Bu Agus hingga menjadi penyanyi tetap di Anada.

David, putra dari pemilik Anada Musica, menunjukkan jadwal manggung yang telah penuh bulan ini.

Di saat awal berdiri, Anada kerap mengadakan latihan rutin tiap hari Kamis dan Sabtu. Namun karena semakin padatnya jadwal manggung, akhirnya mereka jarang sekali latihan. Semua disiapkan mendadak di saat akan manggung. Namun itu tidak menjadikan masalah bagi mereka karena telah terjalin chemistry yang kuat di antara Mas Rizki dan para penyanyi, berkat saking seringnya mereka manggung bareng.

Seperti yang terjadi malam itu. Para penyanyi begitu luwes saat secara bergantian tampil, baik solo maupun duet dengan tamu yang ingin menyumbangkan suaranya.

Desta dan David sedang berduet dalam “Memori Berkasih”.

Sheila hadir bersama dua penyanyi lainnya, yaitu Desta dan David. Desta, biduan yang bersekolah di salah satu SMA negeri di Kota Kediri ini, berdandan bak penyanyi dangdut kekinian seperti Via Valen dan Nella Kharisma.

Sedangkan David adalah anak dari Bu Agus yang memiliki suara tak kalah bagus. karenanya David sering dimintai berduet dengan penyanyi perempuan supaya hiburan yang ditampilkan lebih variatif.

Hiburan organ tunggal bisa turut memeriahkan suasana hajatan. Tua, muda, dan anak-anak merasa terhibur berkat kehadirannya.

“Memori Berkasih” mengiringi niatan saya untuk pamit. Lagu yang aslinya dinyanyikan oleh Siti Nordiana Featuring Achik ini, lagi-lagi mempunyai kisah sedih di liriknya. Entah mengapa lagu-lagu dangdut dengan lirik menye-menye seperti ini begitu digemari dan populer di masyarakat +62…

Dan saya adalah salah satu penggemarnya juga, hehehe. Tarik mangg..

Foto dan Teks oleh Adhi Kusumo

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.