READING

Eloknya E&G Jewelry Kediri, dari Aksesoris Ba...

Eloknya E&G Jewelry Kediri, dari Aksesoris Batu Alam Hingga Sisik Ikan

KEDIRI- Ketertarikan Ervina Melpa pada perhiasan membuatnya tidak ragu resign dari pekerjaannya sebagai banker. Begitu pula dengan sang suami, Sugeng Wahyudiono yang sebelumnya sebagai analis di perusahaan swasta. Meski menduduki posisi kepala cabang, keduanya tidak ragu memilih jalan sebagai pengusaha.

Sugeng mengambil peran sebagai desainer, sedangkan Ervina mengurusi marketing serta negosiasinya. Hasilnya usaha perhiasan dan aksesoris bermerek E&G Jewelry dikenal kemana mana, bahkan tembus hingga Asia Timur dan Barat.

“Kita pernah kirim ke Korea, Jepang, timur tengah juga, ”terang Sugeng kepada Jatimplus.ID.

Untuk bisa menembus pasar luar negeri, yang dilakukan Sugeng dan istri adalah rajin mengikuti pameran. Baik itu tingkat lokal, provinsi, hingga kementerian. Sugeng yang asli Kediri itu bisa membaca bagaimana event pameran selalu mendatangkan calon pembeli potensial.

Seperti yang saat ini Ervina ikuti  di Jakarta. Sebuah acara “Business Matching” dengan Kementerian Perdagangan sebagai penyelenggara. Di sana, para supplier akan bertemu langsung dengan para stakeholder dan buyer dari berbagai negara.

“Dulu kita untuk bisa menjual ke luar negeri harus melewati perantara. Sekarang bisa langsung berhubungan dengan pembeli melalui pesanan online dan komunikasi via email,” ujar bapak dua anak tersebut.

Karya Sugeng sebenarnya menggunakan bahan baku seperti aksesoris pada umumnya yakni kawat tembaga jenis philips Jerman warna rose gold. Namun pria berkacamata tersebut tidak serampangan dalam membuat desainnya. Mulai bentuk yang mendasarkan pamor Keris Banyumili, hingga ema flora dan fauna.

“Saya memang gemar menggambar. Jadi tidak kesulitan membuat desain-desain yang menarik dan memiliki cerita. Itu yang membuat mahal,” tambah pria 54 tahun tersebut.

Tidak hanya soal bentuk. Sugeng juga rajin menggali berbagai kekayaan alam yang ada di Indonesia. Setiap mengisi pelatihan di berbagai pelosok daerah, Sugeng jeli mengamati lingkungan sekitar yang kemudian diaplikasikan ke dalam karya.

“Ada beberapa daerah yang kaya akan batu alamnya saya gunakan di kalung. Bahkan ada yang saya buat dari sisik ikan. Kalau tidak salah dari Lampung,” terang pria asal Donayan, Semampir tersebut.

Keotentikan serta kekhasan setiap daerah itulah yang menjadi daya tarik produk-produk E&G Jewelry. Karena tingginya minat konsumen, Sugeng mampu menjual 5-7 unit perhiasan setiap bulannya. Bahkan dia sampai menolak pesanan karena memang tidak melakukan produksi massal.

“Sebenarnya sudah ada 9 mitra kerja yang melakukan produksi. Tapi karena produk kita ini kan handmade jadi tidak bisa untuk melakukan produksi massal dalam jangka waktu pendek,” tandas penerima penghargaan Cundamani 2019 kategori pengrajin seni kriya tersebut.

Harga aksesoris dan perhiasan buatannya cukup variatif. Semua itu bergantung bentuk dan jenis manik-manik atau material pelengkapnya. Untuk perhiasan eksklusif premium, Sugeng membandrol harga Rp 2,5 juta per unit. Sementara untuk kategori premium dia jual dengan dengan harga Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta.

Sugeng terus mengembangkan usaha jewelrynya. Tidak hanya berfokus pada produksi dan penjualan barang jadi saja. Pemilik CV Takhafful tersebut juga merambah ke edukasi dan bahan baku.

Dia juga menyediakan bahan dan alat membuat perhiasan karena saking banyaknya  permintaan dari pengrajin binaannya.

“Saya mengajar di banyak daerah di luar jawa. Di sini juga. Saya mengajar anak-anak jalanan dan para narapidana, ”tandasnya.

Reporter : Dina Rosyidha
Editor : Mas Garendi

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.