READING

Erotisme dalam Tarian Jawa dan Pakem Busananya

Erotisme dalam Tarian Jawa dan Pakem Busananya

Tarian adalah catatan sebagaimana lontar dan karya sastra. Leluhur Nusantara mencatat peristiwa dan mengekspresikan rasa melalui gerak. Pesannya akan bisa dibaca ketika memahami bahasa gerak. Tak melulu tentang ajaran mulia, terkadang juga erotisme yang setua peradaban.

Sebuah peradaban meninggalkan catatan tak hanya dalam bentuk teks/huruf, namun juga dalam bentuk karya seni. Mulai dari ukiran, lukisan, fashion, musik, hingga gerakan tarian. Khusus untuk tarian, para kreator ini tak hanya menciptakan gerak namun juga gendhing, sekaligus musik yang mengiringinya.

Sebuah foto di Kompas cetak, 21/07/2019 berjudul Menuju Borobudur Marathon 2019 menampilkan Tari Gambyong dengan busana hijau dan berselendang kuning. Tak seperti pakem Tari Gambyong yang mengenakan busana sedada, namun penari itu mengenakan kardigan pendek dan berjilbab. Tanpa bermaksud untuk mengritisi bagaimana seorang muslimah ingin berbusana sesuai dengan ajaran yang diyakini sekaligus ingin tetap menari, Jatimplus.ID ngobrol dengan praktisi tari, Ramadani Yudha Prasetya yang kini tinggal di Bali, terkait sebuah tari dan busananya.

Rama, demikian dia akrab disapa, menari khususnya tari jawa klasik sejak belia. Ia belajar menari dari Sulistyo Tirtokusumo, penari asal Surakarta, Jawa Tengah, yang juga pernah menjadi penari Istana Kepresidenan. Selanjutnya Rama belajar di Padneçwara bimbingan Retno Maruti hingga kini. Retno Maruti adalah salah satu maestro tari jawa yang dimiliki Indonesia.

Menurut Rama, sebuah tarian harus hadir lengkap baik gerak, gendhing, dan gamelannya (musik). Sebab para penciptanya “menuliskan” pesan di gerak, gendhing, dan gamelannya dengan lengkap. Mengomentari soal penari Gambyong yang tak mengenakan busana sedada dan berjilbab, Rama mengajak untuk menyusuri sejarah Tari Gambyong agar tidak salah tafsir terhadap tarian dan mengapa busananya “paket” dengan tarian.

“Gambyong itu tari hiburan pria, tarian jalanan yang gerakannya itu erotis. Dibuat halus oleh Mangkunegaran tapi fungsi estetisnya sama. Apakah perempuan berjilbab boleh menghibur dengan gerakan-gerakan yang bermaksud erotis?,” kata Rama sekaligus mempertanyakan.

Tarian tradisional tidak selalu mengajarkan budi pekerti namun juga ekspresi berbagai perasaan manusia/komunitas, tak terkecuali erotisme. Tari Gambyong, menurut sejarah merupakan pengembangan dari Tayub atau Ledhek bila di Jawa Tengah, atau Ronggeng bila di daerah Jawa Barat dan Pantura. Secara umum, Tari Ronggeng merupakan tari hiburan rakyat yang ditarikan dengan erotis untuk menghibur laki-laki. Lepas dari kesakralan yang terkandung di dalamnya, secara gerak dalam bahasa tari merupakan gerakan yang menonjolkan sisi erotisme.

Busana yang kerap digunakan dalam Tari Gambyong dari Pura Mangkunegaran, mengenakan mekak (busana atasan sebatas dada) dengan jarik bermotif parang.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Sekira tahun 1500-an, Mas Ajeng Gambyong, seniman asal Surakarta menciptakan tarian kreasi berdasarkan tarian Tayub. Selain penari (ledhek), Mas Ajeng Gambyong juga waranggana (penyanyi gendhing Jawa) sehingga tariannya lengkap. Gerak tarinya tetap erotis sebagaimana Tayub, sebuah tarian rakyat dari warung ke warung, dari keramaian satu ke keramaian yang lain. Kemudian tarian ini terkenal sebagai Tari Gambyong.

Suatu hari, Paku Buwono VI ingin MA Gambyong menarikan tariannya di hadapan para tamu. Di luar dugaan, para tamu menyukai. Sejak itulah, tarian rakyat ini masuk istana. Kemudian lahirlah pengembangan dalam geraknya. Termasuk, sebagaimana Rama menyebutkan, Mangkunegaran memperhalus gerakannya hingga tak terlalu erotis.
“Gambyong pertama dibakukan durasi tarinya 40 menit diiringi Gendhing Gambirsawit Pareanom,” kata Rama.

Tari Gambyong pun berkembang dengan ragamnya. Mulai Gambyong Pareanom dengan Gendhing Gambirsawit Pareanom, Gambyong Retno Kusumo dengan Ladrang Sumyar, dan lain-lain. Dalam khasanah budaya Jawa, keerotisan kerap kali dihubungkan dengan kesuburan perempuan. Lebih dalam lagi, menjadi kesuburan tanah/ibu pertiwi. Oleh sebab itu, Tari Gambyong kerap dipentaskan sebagai penghormatan terhadap Dewi Sri. Menurut kepercayaan orang Jawa Tengah, Dewi Sri adalah Dewi Padi. Perlambang ini disajikan dalam busana berwarna hijau dengan seledang kuning sebagai lambang masyarakat agraris.

Dalam perkembangannya, Tari Gambyong pun digunakan sebagai tarian penyambutan tamu sebagaimana yang dilakukan oleh Paku Buwono. Dalam mengawali sebuah acara, tarian ini disajikan sebab dalam asumsi yang patrilinial, tamu-tamu kebanyakan laki-laki yang seharuskan mendapatkan hiburan dari perempuan yang menari.

Ramadani Yudha Prasetya ketika mementaskan Beksan Pamungkas Manggaladibya, koreografer S. Ngaliman di Teater Luwes, 2009.
FOTO: Dok. RAMA

Pakem Busana Menyampaikan Pesan Sebuah Tari

Perihal busana, menurut Rama, Gambyong pada awalnya menggunakan kemben dan jarik (kain tradisional Jawa) saja. Rambutnya dikonde gelung tekuk atau konde biasa sebagaimana busana perempuan Jawa kebanyakan. Sampur menutupi kedua bahu dengan bahu kiri terbuka.

Ketika diangkat menjadi tarian dalam Pura Mangkunegaran, baru mengenakan mekak (busana atasan sedada) dengan jamang srimpi (hiasan kepala dari bulu) serta sampur melingkari perut dan berbuntut di pusar. Dodot sebetulnya agak nyeleneh dikenakan dalam Gambyong sebab Gambyong memang berasal dari tarian rakyat. Pada masa itu, perempuan Jawa mengenakan kain yang dililit. Bahkan lilitannya hanya sepinggang sehingga payudara tetap terlihat. Kita masih bisa menemukan busana seperti ini hingga kini, dikenakan perempuan di pedalaman Jawa.

“Dodot hanya dipakai bangsawan kelas atas pada waktu-waktu tertentu. Orang desa ya pakainya kemben,” tambah Rama. Artinya, ketika busana Tari Gambyong mengenakan busana terbuka di bahu merupakan cara leluhur kita menghormati para tamunya.

Busana perempuan mulai tertutup ke atas (sebatas dada) ketika Spanyol masuk ke Nusantara. Pada masa itu, busana yang dijahit mulai dikenalkan lalu dikenakan oleh pribumi. Termasuk menutupkan kemben sebatas dada untuk perempuan. Dilanjutkan dengan gaya berbusana orang Belanda.

Para praktisi tari seperti Rama akan menghadirkan tarian sesuai dengan pakemnya. Kalau ingin mengubahnya, harus tahu kaidah-kaidah yang sudah digariskan dalam tari, tidak asal. Busana dan kelengkapan dalam sebuah tarian menunjukkan level tarian dengan simbolnya masing-masing. Ketika simbol-simbol itu diubah atau diganti maka esensi dan estetikanya berubah.

“Kalau memang perempuan mengenakan jilbab ingin menari, bikin tarian baru, nama baru, gendhing baru bahkan mungkin bisa diiringi Shalawat meski berdasar gerak tari Jawa,” kata Rama berpendapat. Membuat tarian yang tidak kontradiktif sebagaimana perempuan yang ingin menjalankan aturan berbusana sesuai dengan keyakinan namun di sisi lain justru menarikan tarian yang erotis sebagaimana menari Gambyong. Atau jika ingin busana yang tertutup, tarian dari Aceh misalnya Tari Saman sudah mencontohkan. Bisa dipentaskan dengan busana tertutup tanpa mengubah pakem yang ada (Titik Kartitiani).

Print Friendly, PDF & Email

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.