READING

Es Pak Wito, Depot Es Legenda di Kediri

Es Pak Wito, Depot Es Legenda di Kediri

KEDIRI – Hanya berselang tiga tahun setelah Presiden RI pertama Ir. Seokarno membacakan proklamasi kemerdekaan, Wito membangun usaha warung es. Hingga kini usaha kuliner itu tetap bertahan dan dikelola secara turun temurun.

Depot es di Jalan Sriwijaya Kelurahan Kemasan, Kecamatan Kota, Kediri ini cukup unik. Meski tak pernah berganti menu, depot es ini mampu mempertahankan usaha hingga 71 tahun. “Sejak dulu ya begini ini, tidak pernah besar,” kata Andik, salah satu anak Wito yang kini memegang kendali usaha kuliner tersebut saat berbincang dengan Jatimplus, Sabtu 5 Januari 2019.

Secara resmi depot es yang berada persis di sebelah barat perlintasan kereta api Jalan Sriwijaya ini berdiri tahun 1948. Tempat ini sudah berpindah satu kali. Sebelumnya berada 100 meter ke arah barat, tepat di depan usaha percetakan Abadi Digital.

Di tempat itulah Wito merintis usaha depot es. Menu utamanya adalah es buah dan es campur. Kala itu, orang berbondong-bondong membeli es racikan Wito yang dikenal luas masyarakat Kediri.

Selain menjadi tempat tinggalnya, Wito memiliki alasan lain mendirikan depot es di Jalan Sriwijaya. Dia menyasar karyawan pabrik rokok Tjap 93 sebagai konsumen, yang hanya berjarak beberapa meter dari tempatnya jualan. Kala itu, Jalan Sriwijaya dikenal sebagai kawasan Pecinan di Kota Kediri. Salah satunya adalah Tjoa Ing Hwie, pendiri perusahaan rokok Gudang Garam yang pernah menjadi tetangga Wito saat bekerja di pabrik rokok Tjap 93.

Tak hanya dekat dengan pabrik rokok, depot es Wito juga berlokasi tak jauh dari pasar Setonobetek yang dulu meluas hingga ke barat rel kereta api di Jalan Patimura. Terdapat gang kecil di sebelah barat rumah Wito menuju pasar. Gang itulah yang menjadi jalur tikus buruh rokok Tjap 93 untuk berbelanja.

Andik, anak WIto yang meneruskan usaha kuliner ayahnya sejak jaman kemerdekaan. Foto Jatimplus

Menurut Andik, ayahnya kerap mengganti menu jualan depotnya. Namun satu yang tak pernah diganti adalah es campur dan es buah, yang terdiri dari semangka, nanas, melon, buah naga, alpukat, salak, dan mangga. Menu itu sudah sangat digemari para pelanggan karena rasanya yang enak dan segar.

Selain berisi potongan buah dan santan, serutan es batu menjadi ciri khas kuliner ini. Serutan itu menggunung hingga memenuhi seluruh permukaan mangkuk hingga harus diaduk terlebih dulu agar mencair. Tak butuh waktu lama untuk mengaduk serutan es itu sebelum berubah menjadi kuah yang dingin.

Es Pak Wito memang juara. Popularitasnya terkenal hingga ke wilayah barat Sungai Brantas Kota Kediri. Warga yang ingin menikmati es campur istimewa rela berjalan kaki atau bersepada melintasi jembatan lama menuju depot es itu. “Saya pernah diajak kesana sama mbok (ibu) kalau ke pasar Betek,” kata Sujinem, pensiunan guru yang tinggal di Kelurahan Sukorame, Kecamatan Mojoroto.

Jarak rumah Sujinem dengan depot es Wito terbilang cukup jauh. Namun karena minimnya transportasi umum, Sujinem kecil sudah terbiasa berjalan kaki menuju Pasar Setonobetek yang berjarak empat kilometer. Aktivitas berjalan kaki juga biasa dilakukan tetangganya yang bekerja sebagai buruh linting di pabrik rokok Tjap 93.

Sepeninggal Wito yang telah meninggal dunia, depot es itu tetap bertahan. Dikendalikan oleh istrinya, depot itu tak pernah kehilangan pelanggan. Racikan es juga tak pernah berubah meski terjadi penambahan menu.

Depot Eskas yang bertahan jualan es sejak jaman kemerdekaan hingga sekarang. Foto Jatimplus

Bahkan tak hanya es, aneka gorengan dijual sebagai penambah selera menyantap es. Diantaranya adalah tahu goreng dan ote ote. Jajanan yang dijual di tempat itu juga tak kalah populer, terutama ote ote. Selain gurih, terdapat tambahan satu ekor udang besar di atasnya. Rasanya benar-benar mak nyusss.

Sempat berhenti beberapa lama, depot es itu kembali buka. Tak lagi menempati rumah Wito, depot es itu berpindah di deretan bangunan paling timur, tepat di sisi barat perlintasan kereta api sebelah selatan jalan.

Menempati bangunan yang cukup kecil, depot es Wito telah berganti nama menjadi Eskas. Kini kendali usaha dipegang Andik, salah satu anak Wito. Dalam beberapa kesempatan ibunya yang sudah renta kerap terlihat di balik meja bar sambil mengawasi anaknya berjualan. Tak jarang dia juga ikut meracik potongan buah ke dalam mangkuk saat pelanggan sedang menumpuk.

Meski tak lagi bersanding dengan ote ote, namun potongan tahu goreng ukuran jumbo masih bisa dijumpai di tempat ini. Karena tak menggoreng dalam jumlah besar sekaligus, pelanggan harus menunggu proses memasak jika stok tahu goreng sudah tandas di meja saji. Pengunjung yang sudah langganan akan hafal bagaimana trik mendapatkan tahu goreng super itu agar tak kehabisan. “Pesan dulu kepada pelayannya. Sebab tak sampai di meja saji, tahu itu sudah ludes,” kata Sujinem. (*)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.