READING

(Eskpedisi Wonosalam): Hutan Wonosalam, Sejarah Hi...

(Eskpedisi Wonosalam): Hutan Wonosalam, Sejarah Hitam Perkebunan Kopi Zaman Belanda

Di ketinggian lereng Anjasmoro, pohon kopi itu mencatat sebuah kisah. Tentang jerih Nusantara ketika menghasilkan biji-biji kopi terbaik yang menginspirasi sebuah nama, a cup of java, istilah untuk menyebut kopi. Hingga kini, pohon kopi itu masih berdaulat di samping reruntuhan loji bangunan Belanda.

“Di sini masih ada sisa pabrik kopi dan loji zaman Belanda,” kata Cahya Meiyaksa atau yang akrab dipanggil Yayak, petani kopi di Desa Wonosalam, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang. Yayak bersemangat menceritakan tentang pohon kopi dengan diameter batang seukuran paha orang dewasa yang menjadikan saya penasaran untuk melihatnya.

“Jaraknya 30 menit jalan kaki,” katanya mantap. Meski pada awal saya sudah tak percaya dengan jarak tempuh yang diukur akamsi (anak kampung sini). Bila pejalan seperti saya menempuhnya, pasti akan beberapa kali lipat lebih lama. Meski demikian, agenda untuk ke lokasi bersejarah itu harus kami datangi. Hari ke-2 tim Jatimplus.id meliput Wonosalam, kami menuju loji.

Sekretariat Sedov (Self Development and Motivation) Wonosalam, Jombang. Foto : Jatimplus.id / Adhi Kusumo.

Dari sekretariat Sedov (Self Development and Motivation) tempat kami menginap, Edi, Yuda, dan Yayak membawa kami dengan sepeda motor menuju air terjun Tretes. Perjalanan awalnya mulus. Menjadi “bergejolak” ketika memasuki jalan makadam yang membelah kebun kopi. Keahlian mengendarai sepeda motor para petani kopi ini sungguh teruji. Bisa melewati jalan berbatu yang tak datar dengan lincah berkendara motor bebek. Terkadang dengan beban puluhan kilo kopi di boncengan.

“Lebih mudah bawa kopi daripada bawa orang. Kalau bawa kopi, jatuh kan ndak apa-apa,” kata Yayak. Jelas dia berusaha keras untuk membuat kami tak jatuh seperti karung kopi.

Di kanan kiri jalan yang kami lewati, pohon kopi tumbuh sebagai bagian dari kekinian Wonosalam, juga masa silam. Pepohonan ini tak dibudidayakan dengan jarak yang matematis. Mereka ditumbuhkan oleh para petani muda ini, menyeruak di sela-sela tegakan hutan yang monoton. Tumpang sari dengan pohon pinus dalam program hutan sosial. Mereka adalah pohon-pohon belia berusia 4-5 tahun yang mulai belajar berbuah. Lainnya, pohon kopi yang dimiliki turun temurun dan dirawat oleh alam yang tumbuh di ladang-ladang dan pekarangan.

“Kebanyakan petani kopi di Wonosalam hanya datang ke ladang untuk memanen. Kemudian ditinggal lagi sampai musim panen berikutnya. Tak ada pemupukan pakai pupuk kimia, pupuk kandang pun tidak. Apalagi penyemprotan. Jadinya organik ya. Ndak dipupuk, ndak disemprot,” kata Yayak tertawa. Sepeda motor pun sedikit oleng. Yayak dan kawan-kawan inilah kemudian menginisiasi perubahan budidaya kopi melalui kelompok tani Wojo.

Perjalanan yang terjal dan mendaki menggunakan motor untuk sampai di lokasi. Foto : Jatimplus.id / Adhi Kusumo.

Bulan Oktober adalah ujung musim panen. Sesekali masih menyisakan red cherry di ketiak daun yang belum terpanen. Hujan mulai singgah di desa ini, termasuk sehari sebelum kedatangan kami. Hujan itu memecah selimut kelopak kembang kopi, menjadi mekar semarak dan semerbak di beberapa sudut kebun. Fotografer dan videografer tak menyia-nyiakan scene ini.

Sekitar 20 menit, jalan berbatu curam, sesekali menjadikan kami turun untuk berjalan, lalu naik ke boncengan lagi, membawa kami ke Desa Galengdowo, Kecamatan Wonosalam tempat air terjun Tretes. Air terjun setinggi 157m menjulang, terbanting-banting di undakan bukit hingga sampai batas pandangan mata. Tempat ini sudah menjadi tujuan wisata meski jalannya masih sulit. Dari sinilah, jalan kaki menyusuri loji dimulai.

Sejarah Hitam Kopi Hitam

Buku A Cup of Java (2003) karya Gabriella Teggia dan Mark Hanusz menulis, biji kopi pertama kali masuk ke Batavia, zaman Hindia Belanda pada tahun 1696. Kopi itu dikirim atas perintah Nicholas Witsen, Wali Kota Amsterdam kepada Adrian van Oman (Komandan Pantai Malabar). Biji kopi pertama di Hindia Belanda ini ditanam di Kedawoeng, sebuah kebun dekat Batavia milik Gubernur Jenderal Willem van Outhoorn. Sayang sekali, bibit yang sudah tumbuh terkena banjir.

Tahap berikutnya, penanaman dilakukan beberapa tahun kemudian hingga berhasil berbuah pada tahun 1706. Biji kopi dan bibit yang berhasil dibuahkan dari Jawa dikirim kembali ke Amsterdam Botanical Garden untuk dianalisis. Kopi inilah yang akan menjadi nenek moyang kopi terbaik dari Jawa yang ditanam di belahan bumi barat (Belanda, Prancis, Amerika Selatan, dan Amerika Tengah). Kopi tersebut kemudian dikirim kembali ke Kedawoeng.

Cherry red, sisa panen kopi di bulan Oktober. Foto : Jatimplus.id / Adhi Kusumo.

Tahun 1710, botanis dari Kedawoeng menerima kopi yang sudah disetujui dari Amsterdam untuk kembali ditanam di Kedawoeng. Beberapa tahun kemudian, Kedawoeng menghasilkan kopi terbaik yang menembus harga tertinggi di Amsterdam.

Karena itu, Van Outhoorn ingin menanam kopi di Jawa Barat untuk kepentingan komersial, namun tak memiliki cukup tenaga. Oleh sebab itu, di bawah kepemimpinannya, ia melakukan kontrak dengan punggawa lokal untuk menanam kopi dan menyetor secara ekslusif ke VOC. Perjanjian ini dikenal sebagai koffiestelsel. Pada abad ke-18, kopi Jawa merupakan kopi terbaik di dunia yang juga menjadi cikal bakal coffee blend legendaris, Mocha-Java.

Tahun 1799, VOC dibubarkan. Kepulauan Nusantara dikontrol oleh pemerintahan Belanda dan Herman Willem Daendels (1762-1818). Daendels membangun jalan dari barat sampai ke timur menyusuri pulau Jawa yang terkenal dengan Anyer-Panarukan. Jalan ini pula yang membawa kopi dari kebun-kebun di Jawa bagian barat ke pelabuhan Batavia dan dikirim ke Eropa. Jawa bagian barat sangat produktif menyuplai kopi ke Eropa.

Sampai akhirnya, Johannes van den Bosch (1780-1844) mengambil alih kendali koffiestelsel dan menerapkan cultuurstelstel (sistem budidaya) pada 1830. Dari sinilah, sejarah kelam tanam paksa bermula. Petani yang semula menanam bahan pangan termasuk padi, dipaksa untuk menanam komoditas yang dikehendaki pasar dunia yaitu kopi, indigo (pewarna ungu), dan gula. Tanam paksa ini tak hanya di Jawa bagian barat, namun juga meluas ke seluruh tanah Jawa (termasuk Jawa bagian timur), dan Sumatera.

Petani pribumi tak punya pilihan di bawah paksaan. Kelaparan pun melanda tanah yang tadinya subur makmur ini. Kekejaman dan ketidakadilan cultuurstelsel menerbitkan kepedihan bukan hanya dialami para petani, tapi juga bangsa Belanda sendiri yang masih punya hati dan empati. Sebut Eduard Douwes Dekker yang menggerakkan hatinya untuk menuliskan dalam bentuk novel: Max Havelaar pada tahun 1860 meski dengan nama samaran Multatuli.

Hutan di lereng Anjasmoro. Foto : Jatimplus.id / Adhi Kusumo

Hutan yang Menyumbang Bakal Tanaman

“Saya tidak bisa membayangkan, bagaimana dulu para petani mengangkut biji kopi dari sini,” gumam Yayak sembari menebas ranting untuk membuat trek yang bisa kami lalui. Yayak pun baru sekali ke Loji. Kali ini untuk kedua kalinya, sedangkan Yudi baru pertama kali ini, makanya ia pun penasaran.

Kami melipir di kemiringan lebih dari 60 derajad. Sesekali kami menemukan jalan para pencari kayu, namun lebih sering jalan itu tidak ada. Di antara napas yang seringkali harus memaksa istirahat, Yayak menerka bagaimana karung-karung kopi pada masa itu diangkut. Mungkin diangkut dengan manusia karena kerja paksa. Di sisi lain, Yayak berspekulasi, berton-ton biji kopi itu diangkut dengan bantuan kemiringan bukit dan aliran air.

Jalur yang kami lalui terkadang beririsan dengan sungai dan jalur air yang akhirnya menuju air terjun Tretes di bawah sana. Kemungkinan, melalui bantuan jalur air inilah kopi-kopi itu dihanyutkan hingga diterima di bawah sana. Perkiraan ini paling masuk akal, mengingat hingga saat ini, belum ditemukan jalan atau bekas-bekas jalan yang memungkinkan kereta atau alat angkut yang bisa menyisir kemiringan setajam ini.

Kemiringan tajam yang kami lalui berakhir di punggungan. Ada jalan sedikit datar sekitar 100m, kemudian menurun dengan curam dan kami bertemu dengan aliran air yang sangat jernih. Dari sana, kami naik lagi dengan kemiringan yang sama tajam dengan bukit pertama, hanya tak terlalu lama. Sampai akhirnya kami sampai di punggungan kedua. Di sanalah loji itu “pernah” berada. Betul, “pernah”. Sebab loji itu tinggal beberapa bongkah saja.

Yayak dan sisa bangunan loji Belanda. Foto : Jatimplus.id / Titik Kartitiani.

“Ini undakannya. Sepertinya dulu di sini bangunannya,” kata Yayak sambil menyibak seresah kering yang menutupi sisa-sisa tembok. Ia pun menyisir punggungan yang tampak datar dikelilingi tembok yang tersisa sebagian pondasinya.

Angin kemarau mampat di rapatnya vegetasi yang tumbuh di punggungan kaki gunung Anjasmoro. Dua abad silam, petak tanah ini tentunya adalah sebuah bangunan kukuh, berdaulat membawahi perkebunan kopi yang terbentang di bawahnya. Seorang petinggi perkebunan berkulit putih mengawasi butir demi butir cherry bean terbaik yang dihasilkan oleh buliran keringat pekerja pribumi. Kemudian, waktu menyisakan bongkahan tembok yang hanya akan bercerita jika ada yang menarasikan.

Setelah tanah sedikit datar, sekitar 50m kemudian terdiri dari rumpun bambu yang sangat rapat. Di sekitarnya, rumput tinggi bedaun panjang dan kasar tumbuh sebagaimana yang dilukiskan Wallace.

Baca juga link: (Ekspedisi Wonosalam): Menyusuri Jejak Wallace di Wonosalam

Hutan bambu yang menurut Yayak sudah ada sejak dulu, tempat masyarakat sesekali mengambilnya. Mengingat jalan yang rumpil dari bukit ini menuju ke perkampungan, agaknya bambu ini sangat sedikit yang mengambil. Makin hari, makin rapat.

Hutan yang menyimpan sejarah perkebunan kopi Wonosalam dalam kesenyapannya, masih memberikan sumbangan berarti untuk perkebunan kopi Wonosalam kini. Hutan ini masih memberikan bibit-bibit kopi dari benih-benih kopi yang dijatuhkan oleh pohon kopi tua yang tersisa. Pohon kopi setinggi belasan meter dengan diameter batang lebih dari 20cm menegaskan bahwa punggungan ini pernah menjadi bagian penting dari perkebunan VOC.

Seorang nenek sedang memunguti biji kopi sisa panen di hutan. Foto : Jatimplus.id / Adhi Kusumo.

Yayak menjelaskan, masih ada beberapa pohon kopi tinggalan Belanda yang tumbuh di hutan ini. Masyarakat terkadang memanennya. Mereka panen hijau (memanen biji yang masih hijau) sebab biji merah pasti sudah habis oleh luwak dan tupai.

Luwak akan meninggalkan kotoran yang dikumpulkan penduduk dan diolah menjadi kopi luwak. Sedangkan tupai, hanya memakan daging dan kulit luar biji kopi. Sisanya bila ditemukan oleh pencari biji kopi, diolah menjadi kopi yang disebut kopi jegidik (kopi tupai). Sedangkan bila lolos tak ditemukan, akan tumbuh menjadi bibit kopi yang kini dikumpulkan oleh Yayak dan Yudi.

“Jenis kopi Arabika Tipika. Kopi Arabika yang ditanam di Wonosalam,” terang Yayat.

Yayak dan Yudi menyibak seresah, sesekali menghilang di rerimbunan semak. Dengan hati-hati, mereka mencabut bibit kopi yang tumbuh di seresah hutan. Sesekali ia menyimpannya dalam tas anyaman dari karung plastik yang disandangnya. Tas karung plastik ini agaknya menjadi signature petani kopi di Wonosalam.

Mencari akar bibit kopi di hutan. Foto : Jatimplus.id / Titik Kartitiani.

Menurut Yayak, bibit kopi yang diambil dari sekitar pohon kopi tua ini hasilnya juga bagus. Yang jelas, menghemat waktu pembibitan dan mereka tak perlu mencari benih. Sebab benih yang ditebar oleh alam adalah benih yang bagus.

Selain itu, ia juga mengambil entrees (batang atas) dari ranting kopi yang tumbuh di hutan ini. Batang atas ini akan disambung dengan batang bawah (rootstock) hasil pembibitan di bawah.

“Kalau batang atasnya dari sini, setahun sudah bisa buah,” kata Yayak. Sambung pucuk dengan batang atas yang berasal dari pohon tua memang mempercepat pohon kopi berbuah.

Penyambungan bibit di pohon kopi. Foto : Jatimplus.id / Adhi Kusumo.

Yayak selesai mengumpulkan bibit ketika bagian datar sudah habis, berganti dengan turunan tajam. Di trek ini, pohon kopi yang besar sudah tidak ada. Tinggal perjalanan kembali menyusuri trek tempat kami berangkat. Mereka melangkah dengan hati-hati. Bukan hanya menjaga agar tidak jatuh, tetapi juga menjaga bibit kopi yang ada di tangan dan di tasnya tidak rusak.

Hutan. Bagaimanapun kita tak memahami jenis tumbuhan tumbuhan yang ada di dalamnya, pasti akan memberi sesuatu selain hawa segar dan cadangan air tanah. Di sini, selain menyimpan sejarah, hutan juga memberi sarana produksi: bibit.

Reporter: Titik Kartitiani
Foto: Adhi Kusumo
dan Titik Kartitiani

Print Friendly, PDF & Email

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.