READING

Film Aladdin (2019) Menyuguhkan Perempuan yang Ber...

Film Aladdin (2019) Menyuguhkan Perempuan yang Berdaulat

Kali ini, penonton akan mendapatkan suguhan dialog yang segar, bernas, dan mendobrak “keidealan” dongeng 1001 malam. Biasanya seorang putri perannya hanya menjadi cantik dan menunggu sang pangeran. Atau si pangeran akan selalu menang di setiap pertandingan. Kali ini beda meski penonton tetap akan dibawa ke dunia 1001 malam.

KEDIRI-Golden Theater Kediri, memutar Aladdin produksi Walt Disney Pictures sejak 22 Mei 2019, hingga hari ini masih banyak peminatnya. Film yang bisa ditonton untuk usia 13 tahun ke atas itu menarik minat penggemar Disney, tak terkecuali anak-anak. Beberapa anak di bawah usia yang seharusnya tampak ikut menonton. Ada dua adegan ciuman yang mungkin belum layak tonton bagi anak-anak di bawah usia yang diperbolehkan. Selebihnya, film itu berisi dialog yang bernas, nilai-nilai kehidupan yang disampaikan dengan bahasa jenaka dan mudah dipahami.

Secara keseluruhan, film Aladdin 2019 karya sutradara Guy Ritchie menyuguhkan cerita sesuai dengan pakem, lengkap dengan lampu ajaib dan karpet terbang. Aladdin (Mena Massoud), seorang pencuri dari kaum jelata yang jatuh cinta dengan Putri Jasmine (Naomi Scott) dari Kerajaan Agrabah. Aladdin bersama sahabat sejatinya, seekor monyet bernama Abu harus bersaing dengan para pangeran kaya raya dari berbagai negeri untuk memperebutkan Sang Putri. Lantas, datanglah Jafar (Marwan Kenzari), perdana menteri Kerajaan Agraba yang memanfaatkan Aladdin untuk mendapatkan lampu ajaib yang tertimbun di Gua Keajaiban. Gua yang penuh permata dan godaan yang mencelakai.

Dengan segala tantangannya, Aladdin berhasil mendapatkan lampu itu. Ketika akan diserahkan kepada Jafar, justru Aladdin dicelakai oleh Jafar agar Jafar tak harus memenuhi janjinya pada Aladdin yaitu mempertemukan dengan Putri Jasmine. Aladdin selamat dan mendapatkan lampu ajaib yang mengubahnya menjadi Pangeran Ali dari Kerajaan Ababwa. Akhirnya memang Aladdin berhasil mendapatkan Sang Putri dan hidup bahagia selamanya sebagaimana akhir dari dongeng 1001 malam.

Sepanjang film, lagu-lagu yang menjadi soundtrack Aladdin 1992 terdengar mengalun, membangkitkan memori kolektif penonton. Mulai dari A Whole New Word yang dinyanyikan Mena Massoud dan Naomi Scott sambil naik karpet terbang mengelilingi Kerajaan Agrabah, Prince Ali dinyanyikan oleh Will Smith, Arabian Night oleh Will Smith, dan Friend Like Me oleh Will Smith.

Aladdin (2019) tayang di Kediri mulai tanggal 22 Mei 2019.
FOTO: courtesy IMDB.COM

Putri Jasmine yang Feminis

Namun ada hal yang disajikan beda dan lebih renyah. Pada adegan ketika menampilkan sosok Jasmine, tak digambarkan putri cantik yang sangat rumahan. Melainkan seorang putri yang cerdas, pemberontak, dan sangat mencintai rakyatnya. Diam-diam ia keluar dari istana, menyamar menjadi Dalia, nama pembantunya untuk menemui rakyatnya, melihat kondisi yang sebenarnya di luar istana. Di sanalah pertemuan pertama dengan Aladdin, pencuri yang bagaimanapun perbuatannya tak betul tapi punya hati lembut dan penyayang.

Kecerdasannya digambarkan bahwa ia sangat suka membaca buku dan skeptis. Ketika bertemu dengan Pangeran Ali dari negeri yang tak ada dalam peta dan buku-buku yang ia baca, Putri Jasmine curiga. Tentu saja negeri Pangeran Ali a.k.a Aladdin hanya ada dalam benak Ginie dan keajaiban lampu ajaib.

Kalimat “Saya tak akan tinggal diam” selalu diucapkan berulang-ulang oleh Putri Jasmine. Ia menyuarakan keadilan, penderitaan rakyat, dan segala hal yang tak beres. Sebuah kalimat untuk membangun karakter perempuan yang berdaulat atas dirinya. Perempuan yang punya kehendak dan tak pasrah sebagai seorang putri.

Kisah Aladdin sudah kerap difilmkan. Tercatat 9 film animasi dan 21 film live action termasuk Aladdin 2019. Film animasi pertama dibuat tahun 1926 dengan judul The Adventures of Achmed. Film selanjutnya yaitu Aladdin and His Wonderful Lamp (1939), 1001 Arabian Nights (1959), Aladdin et la Lampe Mervelleuse (1970), Aladdin and The Magic Lamp (1982), Aladdin (1992 oleh Walt Disney), Aladdin (1992 oleh Golden Films), The Return of Jafar (1994), dan Aladdin and The King of Thieves (1996).

Sedangkan action movie yaitu Aladdin and the Wonderful Lamp (1917), The Thief of Bagdad (1940), A Thousand and One Nights (1945), The story of Aladdin (1957), Aladdin and Sinbad (1960-an), Lampa Aladdina (1966), sebuah film berdasarkan kisah Prince Street Players (1967), Pepito y la Lampara Maravillosa (1972), Adventures of Aladdin (1978), Allauddinum Albhutha Vilakkum (1979), Aladdin the Rock Panto (1985), Superfantagenio (1986), Prince Street Players (1990), Aladin (2009), The New Adventures of Aladdin, Ashchorjyo Prodeep (2013),  Aladdin and the Death Lamp (2012), Aladin Saha Puduma Pahana (2018), Alad’2 (2018), Adventures of Aladdin (2019), dan Aladdin (2019).

Seorang Buruh yang Diberi Kesempatan Bersuara

Sajian renyah bisa dinikmati dari dialog Ginie. Karakter Will Smith sangat kuat di sini sebagai film-film yang dibintangi Will. Penonton akan melihat Ginie sebagai Del Spooner dalam I Robot (2004), Kapten Stephen Hiller dalam Independence Day (1996), atau sosok Christhoper Gardner di The Pursuit of Happines (2006). Will dalam setiap karakter yang diperankan selalu jenaka, bandel, sekaligus penyayang. Dalam Aladdin (2019),  penonton tak lagi melihat jin yang penurut, membawa keajaiban hanya dengan menggosok lampu. Namun seorang pekerja atau buruh yang diberi kesempatan untuk berdialog dengan majikannya yaitu si pemilik lampu.

Begitu sebaliknya, Aladdin tak selamanya jagoan. Bahkan pada saat genting ketika dalam kisah 1001 Malam yang sudah-sudah bisa diselesaikan hanya dalam satu gosokan lampu, kali ini tidak. Aladdin kali ini gagal menggosok lampu. Namun justru di sinilah pesan kuatnya. Aladdin mengubah ambisi Jafar yang ingin menjadi paling kuat di Semesta untuk menghancurkan dirinya sendiri tanpa harus menguasai lampu.

Sebab, menurut Ginie, keajaiban lampu hanya bisa mengubah tampilan seseorang saja. Tak mengubah kepribadian seseorang. Jafar memiliki kepribadian jahat yang tak bisa diubah oleh lampu ajaib. Di film ini ditegaskan bahwa sesungguhnya yang paling kuat bukan pemilik lampu, namun jin yang mewujudkan setiap keinginan. Ketika Jafar mengambil permintaan terakhirnya menjadi jin dengan harapan menjadi yang paling kuat, justru menjadi sumber kekalahannya. Ambisi akan kekuatan tanpa batas yang menjadikan Jafar kalah, terkurung di dalam lampu selama-lamanya.

I made you look like a prince on the outside, but I didn’t change anything on the inside. Prince Ali got you to the door, but Aladdin has to open it,” kata Ginie kepada Aladdin. Begitulah, akhirnya Aladdin diterima sebagai Aladdin, tak harus menjadi orang lain, bahkan Pangeran Ali sekalipun. Aladdin menikah dengan Putri Jasmine dan mereka hidup bahagia selama-lamanya. Seorang putri yang dinobatkan menjadi sultan, barangkali sultan perempuan pertama di Kerajaan Agrabah. Dan, keseluruhan kisah itu disampaikan oleh Ginie yang memilih menjadi manusia. Betul, menjadi seorang bapak beranak dua!

print

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.