READING

Film Dhandy D Laksono di Mata Pemuda Bajau

Film Dhandy D Laksono di Mata Pemuda Bajau

MALANG – Film The Bajau karya jurnalis Dhandy Dwi Laksono masih terus diperbincangkan. Kali ini film yang dirilis rumah produksi dokumenter Watchdoc direspon mahasiswa Suku Bajau yang bersekolah di Malang.

Dalam acara nonton bareng film The Bajau yang digagas Komunitas Lapak Diskusi di Kafe Pustaka, Malang, Kamis 23 Januari 2020, Asman Yangking, mahasiswa Suku Bajau yang hadir menjadi pembicara banyak merespon film tersebut. “Sebenarnya itu setengahnya saja yang dikisahkan dari kami,” katanya.

Menurut Asman, kerusakan hayati yang terjadi di daerahnya makin terasa. Penggambaran yang dideskripsikan Dhandy Dwi Laksono di film itu persis dengan kondisi yang diketahui Asman saat ini.

Bahkan Asman masih mengingat masa kecilnya saat tinggal di rumah panggung sekitar pulau yang mudah mencari ikan. Bahkan terlalu mudahnya sampai-sampai membuang kail lewat jendela rumah akan langsung ditangkap ikan.

Namun setelah tambang masuk, ikan-ikan itu sulit dicari. Penduduk setempat harus ke tengah laut untuk bisa mendapat ikan. “Ikan sudah kabur, rumput laut yang menjadi penghasilan kami pun juga tercemar tambang,” terang mahasiswa Pascasarjana jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Malang itu.

Melihat masyarakat suku Bajau yang tidak berdaya melawan perusahaan tambang, membuat Asman meninggalkan kampung halaman utnuk belajar ke Jawa. Tujuannya satu, memperbaiki kondisi ekonomi dan sosial Suku Bajau. “Alhamdulillah saya termasuk pemuda Bajau yang mendapat kesempatan berpendidikan tinggi. Masih banyak anak-anak Bajau rentan putus sekolah seperti yang terlihat di film itu,” katanya.

Perjuangan anak-anak Suku Bajau dalam mencari pendidikan juga tak mudah. Semasa sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama, Asman harus menempuh perjalanan ke pusat kecamatan. Begitu pula ketika berkuliah harus menyeberang provinsi agar bisa tercatat menjadi mahasiswa di Kota Palu.

Menurutnya, pendidikan sangat dibutuhkan masyarakat Bajau. Penggambaran film The Bajau tentang penipuan yang dilakukan pengusaha tambang kepada warga, diyakini Asman sebagai fakta. Karena itu penting bagi mereka untuk memiliki kemampun intelektual.

Sampai saat ini masih banyak warga Suku Bajau yang putus sekolah. Selain jarak yang jauh, biaya pendidikan menjadi kendala bagi mereka untuk bersekolah. Asman berharap melalui film ini, banyak masyarakat Indonesia yang memberi perhatian kepada Suku Bajau untuk lebih berdaya.

Reporter: Moh. Fikri Zulfikar
Editor: Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.