READING

Film The Santri Berpotensi Nominasi Oscar?, Ojo Ng...

Film The Santri Berpotensi Nominasi Oscar?, Ojo Ngenyek Tho Kang

Film The Santri masih membuat ketar ketir para figuran yang terlibat dalam pembuatan, apakah akan sesuai harapan atau tidak. Mereka khawatir syuting syuting yang dilakukan hanya berakhir pada tayangan teaser atau trailer yang berdurasi hanya beberapa menit.

Sebab disaat proses penggarapan berlangsung, sutradara Livi Zheng lagi  disibukkan dengan ikhtiar “bersih diri”, lantaran prestasinya di Holywood dikritisi sebagian orang sebagai omong kosong yang memanfaatkan ketidaktahuan publik.  

Sebut saja salah satu pemain figuran pesilat asal Blitar itu dengan nama Umar. Umar khawatir, film yang cukup banyak mengambil gambar di wilayah Kabupaten Blitar itu akan gagal dilaunching pada peringatan hari Santri 22 Oktober 2019 mendatang.

“Gek film e awak dewe ojo ojo ora dadi kang (film kita jangan jangan tidak jadi kang), “tuturnya.  

Setidaknya ada empat lokasi di Kabupaten Blitar yang menjadi tempat syuting film The Santri. Candi Penataran, Candi Simping tempat perabuan abu jenazah pendiri Kerajaan Majapahit Raden Wijaya, Pantai Serang yang pernah dilawati Raja Majapahit Hayam Wuruk dan Pondok Pesantren di wilayah Kecamatan Talun.

Syuting itu mengerahkan sumber daya masyarakat setempat. Tingkat keterlibatannya berlapis lapis, mulai tingkat kabupaten, muspika, desa yang memobilisasi masyarakat setempat.

Meski demikian Kepala Disporbudpora Kabupaten Blitar Suhendro Winarso mengatakan, dalam pembuatan film The Santri Pemkab Blitar hanya menjadi fasilitator. Hanya menunjukkan tempat tempat untuk syuting. Pemkab Blitar tidak pernah melakukan MoU atau kerjasama.  

Dalam percakapan itu Umar membahasakan film The Santri sebagai “film e awak dewe (film kita)”. Bukan karena figuran, terus dirinya berfikir demikian. Tetapi lebih pada identitasnya sebagai seseorang yang pernah menimba ilmu di pesantren. Ekspektasi Umar terhadap film The Santri begitumembumbung tinggi.  

Disamping santri, sesungguhnya Umar juga seorang pesilat. Meski ketrampilannya bermain jurus cukup lama tidak diasah, dia masih cukup prigel menjotos dan menendang. Refleknya berkelit dan menangkis masih bagus. Begitu juga belum lupa caranya melakukan kuncian badan dan kaki.

Karena itu Umar terpilih menjadi salah satu figuran The Santri. “Lha wes kadung macak dan disyuting, mosok yo ra dadi  (Lha terlanjur berdandan dan syuting, masak film tidak jadi), “tuturnya.   

Saat syuting di komplek Candi Penataran, Blitar, Umar didandani baju dan celana model komprang serba hitam.  Kostum khas pendekar. Karena inisiator  film The Santri adalah NU Channel, sebagian besar peran figuran pesilat diambilkan dari perguruan silat Pagar Nusa.

Pagar Nusa merupakan organisasi bela diri (silat) NU yang berdiri 3 Januari 1986 di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Nama Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa diciptakan KH Mujib Ridlwan, Surabaya yang merupakan putra Ridlwan Abdullah pencipta lambang NU.   

Seingat Umar, di syuting itu dirinya juga bertemu Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, yang sekaligus menjadi salah satu aktornya. Gus Emil, begitu sapaan barunya setelah branding film The Santri beredar di media sosial, menjadi tokoh santri di film.

Gus Emil juga berdandan ala pendekar dengan baju dan celana hitam hitam. Seperti di trailernya yang beredar, suami artis Arumi Bachsin itu berjalan di depan para pendekar yang sedang digembleng, sambil melontarkan wejangan.  

“Saat itu di lokasi juga ada juga mbak Livi Zheng yang katanya sutradaranya, “terangnya.

Kepala Disporbudpora Kabupaten Blitar Suhendro Winarso sempat mengatakan sutradara film The Santri bukan Livi Zheng. Livi, kata dia hanya didapuk sebagai sinematografi, dan sutradaranya adalah Wasekjen PBNU, Imam Pituduh.

Namun semua itu telah dibantah sutradara yang bernama asli Livia Notoharjono itu. Dia menegaskan dirinyalah sutradara film The Santri.Oleh NU Channel, dirinya dipercaya menahkodai pembuatan film The Santri.

Sebagai santri yang terlibat sebagai figuran, Umar menaruh harapan The Santri bukan sekedar teaser seperti halnya film Amazing Blitar. Trailer film The Santri telah dilepas ke publik  9 September 2019 lalu. Livi Zheng mengumumkan pertama kali melalui akun facebooknya.  

Bagi Umar pemutaran di Amerika Serikat seperti yang dijanjikan, menjadi harapan tersendiri. Jika itu benar terjadi, kehidupan santri nusantara, khususnya di Blitar, akan semakin dikenal luas.“Mugo mugo sido tayang nang Amerika (semoga bisa tayang di Amerika), “harapnya.

Namun kendati demikian, untuk saat ini Umar tidak berfikir terlalu muluk. Yang terpenting film The Santri jadi dulu dan bisa dilaunching tepat di peringatan hari santri.

Karenanya ketika ada yang nyeletuk film The Santri siapa tahu bisa  masuk nominasi oscar seperti film Livi sebelumnya yang diklaim begitu, Umar justru tertawa. Sebagai figuran yang terlibat, dia tidak menggeleng atau mengiyakan. Santri yang juga pesilat andal itu hanya tertawa.

Umar justru mengatakan, “ojo ngenyek tho kang (ojo menghina tho kang).  Kita tunggu saja dulu. Bisa tepat waktu seperti rencana sudah bagus, “katanya sembari cekikian menahan tawa.

Sementara dengan adanya film The Santri yang mengambil syuting di Blitar, Kepala Disporbudpora Kabupaten Blitar Suhendro Winarso mengatakan daerahnya ikut diuntungkan. Secara tidak langsung Kabupaten Blitar akan terpromosikan secara gratis.

“Dengan syuting di Blitar kita ikut diuntungkan. Promosi gratis, “katanya. Terkait kenapa syuting film The Santri tidak dilakukan di Jombang, Kediri, atau kawasan tapal kuda yang lebih mempresentasikan sebagai daerah santri, Suhendro mengatakan tidak tahu pasti.

Yang dia tahu, Wasekjen PBNU Imam Pituduh pernah nyantri di salah satu pondok pesantren di Blitar.  Mungkin salah satunya faktor kedekatan emosional itu, syuting The Santri banyak dilakukan di Blitar.“Pak Imam Pituduh pernah mondok di Blitar, “ungkapnya.

Sementara, belum juga tayang,  film The Santri yang baru beredar trailernya sudah mendapat penolakan dari Ketua Umum Front Santri Indonesia (FSI) Hanif Alathas.

Dalam poster yang beredar, Hanif yang juga menantu Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) menilai film The Santri tidak mencerminkan akhlak dan santri sebenarnya. “Front Santri Indonesia menolak film The Santri karena tidak mencerminkan akhlak dan tradisi santri yang sebenarnya, “tutur Hanif seperti dikutif dari CNN Indonesia.

Hal senada disampaikan Luthfi Bashori pengasuh Ponpes Ribath Al Murtadla Al Islami Singosari, Malang, Jawa Timur. Bahkan Luthfi meminta kepada santri dan jamaahnya tidak menonton film The Santri yang rencannya tayang pada Oktober mendatang. (Mas Garendi)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.