READING

G30S/PKI, Makam Bung Karno dan Moncong Pistol di M...

G30S/PKI, Makam Bung Karno dan Moncong Pistol di Mulut

Bagi mereka yang tumbuh di tahun 1965, memori tentang peristiwa G30SPKI masih melekat begitu kuat.

BLITAR- Saat bercerita tentang seputar peristiwa G30S/PKI (Gerakan 30 September 1965), volume suara Darto mendadak lirih. Pandangan lelaki berkaos oblong, bercelana jeans, dan bertopi itu sebentar sebentar menengok ke kanan dan kiri, seolah khawatir ada yang ikut nguping.

“Dulu waktu 65, di perempatan banyak mayat yang dibuang, “tuturnya dengan suara berbisik. Perempatan yang dimaksud adalah Jalan Lawu Kota Blitar. Persimpangan sebelah utara Jalan Merdeka yang berjarak sekitar 200 meter dari alun alun Kota Blitar.

Di jaman kolonial Belanda, tanah lapang dengan sebelah barat berdiri masjid agung, lembaga pemasyarakatan di timur, dan pendopo pemerintahan di utara itu pernah menjadi tempat digelarnya tradisi Rampogan Macan.

Darto kini berusia 70 tahun. Saat peristiwa G 30 S PKI meletus dirinya masih duduk di bangku kelas III SMP. Di usianya yang milenial itu, Darto mengaku aktif di  IPNU, yakni organisasi pelajar yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU).

IPNU dan IPPNU merupakan organisasi tandingan IPPI (Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia) yang berafiliasi ke PKI. Posisi politiknya sama dengan GP Ansor dan Banser yang berhadapan dengan Pemuda Rakyat, Sarbumusi dengan SOBSI, Pertanu dengan BTI, Fatayat dan Muslimat dengan Gerwani, Lesbumi dengan Lekra, serta PMII dengan CGMI.

“Saya ikut IPNU, “katanya. Dalam tabungan memori Darto, situasi jalan Lawu yang sekarang berjajar toko, warung serta tenda makanan, cenderung sunyi. Jalan yang membujur utara-selatan itu masih berupa tanah makadam.

Rumah penduduk belum sesak seperti sekarang. Disisi barat dan timur jalan, termasuk di dalam gang, masih banyak pekarangan tanah kosong. Itu yang membuat jarak satu rumah warga dengan yang lain saling berjauhan.

“Rumah orang tua saya tidak jauh dari perempatan. Selain sepi, malam hari juga gelap gulita, “tuturnya. Memang sudah ada lampu penerangan jalan umum. Namun bola lampu yang tergantung pada tiang setinggi diatas 10 meter itu hanya berdaya 5 watt.

Cahaya yang terpancar dari bola lampu itu tidak cukup mampu mengusir pekatnya malam dibawahnya. “Dari jarak 10 meter kita masih kesulitan mengenali wajah orang lain, “terangnya.

Darto bukan bocah rumahan. Disaat banyak orang berfikir ulang untuk keluyuran malam malam, dirinya justru nyelonong sesuka hati. Ketika semua orang menyingkir dari insiden tawuran antar pemuda yang sama sama menggenggam celurit, pedang dan sejenisnya, Darto justru kepo mencari tahu.

Setidaknya dia menjadi tahu. Pertikaian yang awalnya dipicu hal kecil, seperti perbedaan selera berkesenian, paska G 30 S PKI menjadi pertentangan ideologi. “Biasanya yang tawur antar kelompok pemuda sekitar pasar Legi dengan pemuda sekitar jalan Lawu. Para pemuda pasar Legi penyuka suka seni jaranan, “paparnya.  

Tidak gampang takut ngeluyur malam hari membuat Darto kerap berjumpa mayat dalam posisi bergelimpangan di jalan. Begitu juga dengan suara gemuruh mesin kendaraan roda empat, yang rutin mendatangi perempatan Lawu.

Karena penasaran, datangnya kendaraan mendorongnya berusaha mengintip dari kejauhan. Sebuah truk yang entah berwarna hijau atau hitam berhenti di perempatan. Meski parkir, oleh pengemudinya lampu dan mesin kendaraan tetap dibiarkan menyala.

Setelah ada yang turun dari kendaraan untuk mengecek situasi, tidak lama kemudian bak truk yang bisa terungkit otomatis itu, dijomplangkan. Dari atas truk menggelontor mayat manusia. Darto tidak tahu berapa jumlah pastinya. “Yang jelas banyak, “katanya.

Begitu truk pergi, Darto biasanya baru berani mendekat. Mayat mayat yang bergelimpangan di Jalan Lawu itu kondisinya mengenaskan. Mulai kepala terpenggal, tangan dan kaki buntung karena terbabat senjata tajam hingga isi perut terburai keluar.

Darto memastikan jasad yang dibuang begitu saja itu bukan tetangganya. Pikiran bandelnya terkadang menyuruhnya mencari benda berharga yang siapa tahu ada yang tertinggal. “Kabarnya itu orang orang PKI dari wilayah Srengat dan Blitar selatan, “paparnya.

Tidak hanya di perempatan jalan Lawu. Di sebelah timur Makam Bung Karno, dirinya juga kerap melihat pemandangan serupa. Karena kebengalannya itu, Darto dipaksa menjaga jasad Bung Karno yang saat itu belum genap 40 hari dimakamkan.

Bung Karno wafat pada 21 Juni 1970 akibat komplikasi ginjal, gagal jantung, sesak nafas dan rematik di RSPAD Jakarta. Jenazah Sang Proklamator disemayamkan di Kota Blitar.   

Bersama Tulus, temannya yang berusia sepantaran yang hari ini juga masih hidup, Darto setiap malam harus menginap di sekitar pusara Bung Karno. Darto tidak berani menolak perintah seorang tentara yang datang ke rumahnya.

“Karena mungkin saya bandel, saat tentara mencari orang untuk menjaga makam Bung Karno, para tetangga merekomendasikan saya, “katanya. Selain alasan tidak berani membantah, Darto melihat kerja sebagai penjaga makam Bung Karno ada upahnya.

Untuk kerja setiap malam, dia diupah 50 rupiah atau setara dengan beras IR seberat dua kilogram. “Saat itu makam Bung Karno masih campur dengan makam umum, “terangnya. Awalnya biasa biasa saja.  Meski area makam hanya diterangi sinar  lampu jalan sebesar 5 watt, Darto tidak merasa takut.

Kecemasannya justru timbul ketika dirinya tidak bisa mencegah orang orang yang datang setiap malam. Tidak hanya berdoa. Orang orang yang tidak sedikit berpotongan rambut cepak dengan pita merah melingkar di kepala, menjarah tanah makam Bung Karno.

Setiap usai berdoa, sebelum pergi masing masing orang meraih sekepal  tanah makam. Penjarahan tanah setiap malam itu mengakibatkan permukaan pusara Bung Karno growong sampai beberapa meter. Darto pernah berusaha mencegah, namun yang dia peroleh justru todongan pistol pada mulutnya.

“Mulut saya pernah disumpal moncong pistol gara gara melarang orang mengambil tanah makam Bung Karno. Saya tidak pasti siapa mereka, “kenangnya. Karena takut, pekerjaan yang dijalaninya selama dua bulan itu dia tinggalkan begitu saja.

Khawatir dicari  militer, Darto memutuskan lari keluar Blitar. Dia kabur ke Pulau Dewata sampai beberapa hari. Karena uang semakin menipis dan tidak ada teman yang bisa ditemui, Darto kemudian pergi ke Surabaya.

“Di Surabaya kerja serabutan. Setelah dirasa aman, saya kemudian pulang lagi ke Blitar, “jelasnya. Darto terus berada di Blitar. Dia masih ingat bagaimana pernah diangkut tentara ke Blitar selatan, untuk diperbantukan membangun pos pertahanan.

Dia belum lupa bagaimana saat merasa haus dan meminta air minum, namun yang didapat justru air ludah yang memercik muka. Di usianya yang dibilang jauh dari muda itu, Darto tetap belum mengerti, siapa sebenarnya yang paling bersalah dalam peristiwa G30SPKI.

Karenanya untuk sekedar bercerita tentang apa yang disaksikannya saat itu, dirinya masih harus berbisik bisik. “Keyakinan yang saya miliki sampai sekarang, dalam peristiwa itu Bung Karno tidak bersalah,  “tegasnya. (Mas Garendi)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.