READING

Gagal Profesional, Banting Stir ke Tarkam Blitar. ...

Gagal Profesional, Banting Stir ke Tarkam Blitar. Begini Nasib WNA Pantai Gading

Coulibaly Foungnigue Brahima (27) dan Kone Adama Junior (23) merupakan dua orang warga Negara Pantai Gading, Afrika yang berkunjung ke Indonesia. Keduanya tiba dengan waktu yang berbeda. Coulibaly tiba 4 Maret 2018. Enam hari kemudian atau 10 Maret 2018, Kone menyusul. Namun nasib keduanya kini berakhir di tahanan Kantor Imigrasi Klas II Blitar.

BLITAR- Mungkin saja Coulibaly dan Kone terinspirasi sejumlah pemain bola Afrika yang merumput di Indonesia. Sebut saja  Roger Mila, yakni striker legendaris asal Negara Kamerun yang pernah bermain di sejumlah klub bola Indonesia. Bisa jadi keduanya tergiur mengikuti jejak Zah Rahan, Olinga Atangana, Pierre Njanka atau Mbeng Jean Mambalou.

Dengan ketrampilan menggocek kulit bundar, ditambah fisik tinggi besar khas ras Afrika, Coulibaly dan Kone berniat bekerja sebagai pemain bola. Pikirnya semua bisa dilalui dengan mudah. Begitu di Indonesia bisa langsung bertemu klub bola profesional. Bisa langsung teken kontrak.

Namun angan angan itu tidak sesuai kenyataan. Sudah berjalan kesana kemari, namun jalan—menuju klub bola profesional—belum juga ditemukan.  Sampai 204 hari, yakni untuk Coulibaly dan 199 hari untuk Kone, impian itu belum juga terwujud. Sementara visa turis hanya berumur 30 hari.

“Visa kedua WNA asal Pantai Gading itu overstay atau melebihi batas waktu kunjungan,  “ujar Kepala Imigrasi Klas II Blitar Muhammad Akram. Coulibaly dan Kone kehabisan uang. Dana yang dimiliki habis untuk menyambung hidup di Surabaya.

Entah ide dari siapa, keduanya lantas banting stir bermain di turnamen sepak bola antar kampung (Tarkam). Keduanya disewa sebagai pemain dan dibayar. Selain dinilai lebih aman, uang  hasil bermain tarkam akan digunakan untuk biaya pulang ke Pantai Gading.

Karena dianggap menyalahi ketentuan keimigrasian, Coulibaly dan Kone ditangkap tim Pengawas Orang Asing (Tim Pora) Kantor Imigrasi Blitar. Penangkapan berlangsung di lapangan Desa Dandong, Kecamatan Srengat. “Kedua WNA telah diamankan dan menjalani pemeriksaan, “jelas Akram.

Dalam pemeriksaan terungkap, Coulibaly dan Kone juga pernah bermain Tarkam di wilayah Pasuruan. Kemudian di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Menurut Akram, ancaman deportasi dan pencekalan telah menunggu keduanya.

Kasus ini diakui bukan pertama kalinya. Sebelumnya WNA Pantai Gading pernah ditangkap di wilayah Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar. Sama seperti Coulibaly dan Kone. Yang bersangkutan diamankan saat merumput sebagai pemain bon bonan tarkam.

Sementara itu selama tahun 2018 ini Kantor Imigrasi Blitar telah mendeportasi sebanyak 25 WNA. Tidak hanya dari Negara Pantai Gading. Mereka yang dipulangkan paksa itu berasal dari Negara Rusia, Jerman, Italia, Myanmar, Thailand dan Jepang.

Saat ini ada sebanyak 125-250 WNA Thailand dan Malaysia yang berada di Kabupaten Tulungagung. Mereka berstatus sebagai  mahasiswa IAIN Tulungagung dan santri pondok pesantren. (*)

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.