Konsep AADC Ala Mas Abu

KEDIRI – Wabah virus corona cukup memporak-porandakan perokonomian dalam negeri. Para pelaku usaha terutama dari usaha mikro, kecil, dan menengah harus mengencangkan ikat pinggang karena omset penjualan menurun. Demi menggairahkan perekonomian Kota Kediri, Walikota Abdullah Abu Bakar mencoba mengajak semua pelaku usaha menerapkan konsep AADC.

Jangan salah, AADC bukanlah singkatan dari film “Ada Apa Dengan Cinta” yang pernah naik daun karena diperankan Dian Sastro dan Nicholas Saputra. AADC versi Mas Abu adalah Accept – Adapt – Digital – Creative Collaborative. Accept berarti mau menerima kenyataan bahwa sekarang sedang masa pandemi. Jika sudah sadar dan mau menerima, maka selanjutnya lakukan adapt  atau mau beradaptasi dengan kondisi saat ini.

Mengingat kondisi wabah yang mengharuskan orang social distancing dan lebih banyak di rumah, Mas Abu menyarankan para pelaku usaha berjualan secara digital. Selain produk bisa diakses lebih banyak orang, proses transaksi tidak harus bertemu langsung sehingga sangat cocok dilakukan selama pandemi.

Hanya saja saat ini semakin banyak produk yang dijual secara online. Para pelaku usaha harus bisa bersaing dengan para penjual besar yang sudah lama bermain di dunia digital. Caranya dengan melakukan creative collaborative yakni tidak segan melakukan kolaborasi yang bersifat kreatif sehingga produk menjadi unik dan semakin dikenal.

“Prinsipnya bergotong royong secara kreatif”, terang Mas Abu dalam pertemuan bersama dinas terkait (23/6).

Menurut Mas Abu, data yang dia didapatkan dari Kementerian menunjukkan ada peningkatan aktivitas pada teknologi digital sebesar 15-20 persen di masa pandemi. Sementara dari total pelaku UMKM, hanya 13 persen yang go online. Ini berarti masih ada 87 persen UMKM yang belum berjualan secara online.

Mas Abu tidak ingin UMKM Kota Kediri ketinggalan. Walikota muda ini mengajak dinas terkait dalam hal ini Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin), dan Dinas UMKM dan Tenaga Kerja (Dinas UMTK) untuk merangsang para pelaku usaha lokal mau berjualan online melalui market place seperti Bukalapak, Shopee, Tokopedia, Lazada, dan pasar digital lainnya. Bahkan tidak hanya menjangkau pembeli lokal saja, mereka juga bisa berpromosi hingga lintas negara.

Untuk itu, Pemerintah Kota Kediri mulai berancang-ancang melakukan pendampingan proses produksi sebelum produk benar-benar masuk market place agar produk bisa menarik pembeli di dunia digital. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan adalah kualitas produk, packaging atau kemasan, dan kemampuan berjualan online agar mereka bisa memasarkan produk secara mandiri sesuai kebutuhan.

“Kalau hanya upload ke market place lalu dibiarkan saja tanpa sentuhan kreatifitas dan marketing biasanya kurang maksimal. Jadi harus ada persiapan-persiapan sebelum terjun ke penjualan digital,” tambahnya.

Bagi Mas Abu, sebagian besar produk lokal Kota Tahu sebenarnya sudah layak untuk dijual di pasar digital. Namun masih ada beberapa hal yang perlu diperbaiki. Mulai dari packaging hingga kemampuan marketing dan promosi. “Misalnya Tenun Ikat Bandar Kidul. Bahan, corak, dan permainan warna sudah baik. Tapi kemasannya masih perlu diperbaiki dan promosinya harus digencarkan lagi,” pungkasnya. (pro/Dina Rosyidha)

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.