Gerombolan Garasi Pencipta Imaji (2)

Game berbasis android Bomb Riders begitu populer di kalangan remaja dan anak-anak. Melalui layar gadget, mereka mengendalikan sosok animasi pembawa bom untuk memusnahkan lawan. Misi utamanya adalah membuka portal agar bisa keluar.

Keseruan memainkan Bomb Riders ini membuat aplikasi game tersebut mengisi gadget penggemar game atau gamers tanah air. Kebanggaan muncul saat misi mereka tuntas di ujung permainan menantang ini.

Di kalangan gamers aplikasi ini memang populer. Namun tak ada yang tahu jika game itu diproduksi dari ruang kecil di belakang tempat pencucian motor. Serius?!

baca juga: Dari Bengkel Rosok Hingga Museum Spanyol

Robertus Rahardian Haris, Utong Akbar, Kriswin Yuniar, Rizal Catur Pamungkas, Hermawan Andika, dan Budhi Luhur adalah kreator yang membidani game tersebut. Mereka adalah kumpulan anak muda yang setiap hari memproduksi game untuk dibeli perusahaan besar tanah air.

Markas Haris dan kawan-kawan ini bahkan nyaris tak tampak. Di sudut rumah milik orang tuanya di Jalan Tunggulwulung nomor 287 Ngasem, Kabupaten Kediri, Haris menghimpun lima programmer sepantaran untuk membuat rumah produksi. Tahoe Studio dipilih sebagai identitas kelompok mereka yang mulai eksis di tahun 2014. “Kami memanfaatkan garasi rumah sebagai tempat workshop,” kata Haris yang menjadi pemimpin Tahoe Studio.

baca juga: KHF, Segenggam Dedikasi Kaum Muda Kediri

Keenam personil ini memiliki keahlian dan disiplin ilmu berbeda. Sebagian adalah programmer, sementara crew lain membidangi seni grafis. Haris sendiri adalah lulusan Sekolah Tinggi Teknik Surabaya (STTS).

Dunia game bagi Haris bukan hal baru. Sejak kanak-kanak dia sudah berkutat dengan game kawak produksi Nintendo. Kini setelah memiliki kemampuan teknis di balik pembuatan game, Haris tak lagi menjadikan game main-main. “Kami memproduksi rata-rata tiga game per bulan untuk dibeli perusahaan game,” katanya.

baca juga: Dari Kick Andy, Nekd Traveler, Komunitas Hingga Royalti

Bandrolnya pun lumayan besar untuk menjadikan para remaja ini jutawan muda. Setiap game dihargai 600 – 1.000 dollar yang dibeli secara putus oleh perusahaan game. Angka itu setara dengan Rp 15 juta (kurs Rp 15.000) untuk satu game, yang berarti dalam sebulan bisa mengantongi nominal Rp 45 juta. Angka yang fantastis.

Konsekuensinya, mereka tak lagi berhak mendapat royalti jika game yang mereka produksi laris manis di pasaran. Mereka cukup berbangga jika game yang dibuat digemari banyak gamers di dunia.

Beberapa game produksi Tahoe Studio antara lain Risky Trip, Blocky Kick, VI Defender, Pesawat 2020, dan Ouch Finger. Game-game tersebut telah dipubslih oleh beberapa perusahaan penyedia konten game seperti Armor Games dan Nedrago. Di luar itu, mereka juga memproduksi game khusus yang memenuhi selera idealisme Haris cs, yakni Rising Hell.

Salah satu aplikasi game yang diproduksi Tahoe Studio. Foto Istimewa

Rising Hell adalah action platformer yang pertama kali diproduksi oleh Tahoe Studio dengan konsep berbeda. Menyerupai game populer Mario Bros, permainan yang mereka ciptakan diklaim lebih dinamis dibanding Mario Bros. “Kalau Mario Bros kan cuma loncat-loncat, Ricing Hell ada pertarungannya,” kata Kriswin Yuniar.

Game yang satu ini memang luar biasa.  Jika platform sebelumnya diproduksi untuk mensupport android, Rising Hell disetup untuk Play Station (PS) 4. Proses pembuatannya pun cukup lama, yakni sejak April 2017 lalu.

Meski game ini masih akan diluncurkan pada kwartal awal 2019, namun telah tercatat sebagai nominator Bitsummit 6 di Kyoto Jepang pada Mei 2018 lalu. Produk ini juga pernah berkompetisi di ajang Busan Indie Connect (BIC) pada September 2018.

Bagaimana kisah para remaja ini membangun usaha?

Adalah Robertus Rahardian Haris dan Utong Akbar yang pertama kali memiliki ide ini. Setelah sekian lama menjadi gamers, mereka tertarik untuk membuat game sendiri sesuai selera. Apalagi disiplin ilmu yang dipelajari di bangku kuliah sangat mendukung keinginan itu.

Sadar jika cita-cita itu tak bisa dipikul sendiri, Haris dan Utong mengajak beberapa rekannya yang seide. Hingga akhirnya bergabung Kriswin Yuniar, Rizal Catur Pamungkas, dan Hermawan Andika di tahun 2015. Budhi Luhur adalah personil pamungkas yang masuk di formasi Tahoe Studio di awal tahun 2016. Tak sekedar memiliki hobi sama, para personil itu direkrut berdasarkan kemampuan teknis untuk memproduksi game.

Kriswin menjelaskan, seorang programmer tak akan mampu membuat sebuah game tanpa dukungan game desainer. Mereka juga tak bisa memvisualisasikan karakter dan tampilan game tanpa keterlibatan artis yang memiliki keahlian grafis. “Seluruh elemen di dalam game harus terpenuhi dengan baik, termasuk music director,” katanya.

Urusan musik dipercayakan kepada Budhi Luhur. Meski tak menguasai alat musik sama sekali, Budhi mengaku cukup pede berurusan dengan musik jika sudah memegang keyboard komputer. Baginya semua hal bisa diselesaikan dengan ilmu komputer.

Keberadaan musik dan sound pada sebuah game, menurut Budhi, sangat signifikan. Imajinasi penonton akan terbentuk jika didukung oleh suara yang cadas. “Coba bayangkan nonton film horor tanpa suara. Pasti gak akan terlihat serem,” tukas Budi.

Jika melihat hasil karya mereka, terutama yang telah dibeli oleh perusahaan penyedia aplikasi game, tak terbayang jika semua itu diproduksi dari bilik garasi. Menempati ruangan kubus ukuran 2 x 7 meter, keenam pemuda kreatif ini membangun imajinasi pemain game di seluruh penjuru dunia. Toh tak sedikit karya teknologi besar seperti facebook yang dibangun dari sebuah garasi.  (*) 

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.