READING

Goa Selomangleng, Wisata Alam Satu-satunya di Kota...

Goa Selomangleng, Wisata Alam Satu-satunya di Kota Kediri

KEDIRI – Goa Selomangleng adalah satu-satunya destinasi wisata yang berada di wilayah Kota Kediri. Seperti goa lainnya, konstruksi Goa Selomangleng terdiri atas batuan andesit yang menjadi jejak purbakala.

Goa ini sangat populer di kalangan masyarakat Kota Kediri karena keindahan alamnya. Berada di kaki Gunung Klotok, goa ini menjadi ikon wisata alam terbesar yang dimiliki Kota Kediri. Tak heran jika pemerintah daerah setempat habis-habisan mengeksploitasi tempat ini dengan fasilitas wisata pendukung.

Tak sulit untuk menjangkau tempat wisata keluarga ini. Jaraknya tak lebih dari tiga kilometer dari Balaikota Kediri. Perjalanan menuju Goa Selomangleng juga bisa memanfaatkan angkutan kota yang memiliki tujuan akhir di tempat itu.

Secara kasat mata, Goa Selomangleng memiliki dua pintu lobang yang saling berhubungan. Posisi goa berada di tempat agak tinggi hingga memaksa pengunjung meniti anak tangga. Tak banyak perubahan akibat proses alam yang terjadi pada goa tersebut. “Kami hanya menambah destinasi wisata buatan di sekitarnya,” kata Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kota Kediri Nurmuhyar, Kamis 15 Nopember 2018.

Baca Juga :

Kediri Tuan Rumah Panji

Panji Spirit Manusia Nusantara

Jauh sebelum upaya pemugaran tempat ini menjadi kawasan wisata pada tahun 1991 silam, warga setempat sudah menjadikan goa ini sebagai rumah kedua mereka. Dua buah cekungan yang masing-masing berdiameter empat meter dengan dilengkapi beranda ini telah bertahun-tahun menyelamatkan manusia dari ganasnya alam dan hewan liar.

“Kami juga mengungsi di goa ini ketika pasukan Belanda memporak-porandakan kampung,” kata Darmaji, warga setempat yang kerap mencari kayu bakar di sekitar goa kala itu.

Konstruksi Goa Selomangleng juga tak terlalu menjorok seperti kebanyakan goa di Jawa Timur . Hal ini cukup memudahkan para pengunjung untuk menyusuri kedalamannya. Dalam keremangan cahaya matahari yang menerobos di sela-sela dinding batu, tampak relief halus yang menghiasi seluruh dinding goa.

Salah satu relief yang paling menonjol adalah seorang perempuan cantik yang sedang bertapa. Perempuan itu digambarkan tengah bersila tepat diantara dua ruangan yang berada di kanan kirinya. Sejumlah literatur sejarah menyebutkan jika perempuan rupawan tersebut merupakan perwujudan Dewi Kilisuci. Ia memutuskan bertapa di tempat itu untuk menyelamatkan rakyat Kediri dari amukan Djotosuro, seorang pangeran buruk rupa yang mati saat hendak mempersunting Dewi Kilisuci.

Sebagai perempuan tercantik pada zaman itu, Dewi Kilisuci menjadi rebutan para lelaki di seluruh negeri. Bahkan kabar kecantikannya sudah tersebar luas ke seluruh pelosok. Namun, kecantikan inilah yang justru membuat Dewi Kilisuci kesulitan untuk menemukan jodoh hingga akhir hayatnya.

Kisah inilah yang menjadi salah satu materi pementasan seni budaya Panji Mbulan tanggal 18 November 2018 mendatang. Sedikitnya tujuh negara termasuk Indonesia telah berkomitmen untuk mengirimkan seniman mereka dalam pementasan itu. Ajang kesenian bertaraf internasional ini telah dua kali dilaksanakan di Kota Kediri dengan mengusung tema sama, Panji.

Tak jauh dari akses menuju goa, terdapat sebuah museum yang menyimpan benda-benda bersejarah dari berbagai jaman. Salah satunya adalah relief yang terukir di sebuah batu andesit dan diklaim menjadi jejak Panji di Kediri.

Para pengunjung bisa mengungkap sejarah Kota Kediri melalui jejak benda-benda tersebut. Petugas penjaga museum juga akan senang hati membantu memberi penjelasan tentang koleksi yang ada. Sayangnya sejak dibangun hingga kini, minat masyarat untuk mengunjungi museum itu cukup rendah.

Untuk mendongkrak kedatangan wisatawan, pemerintah daerah membangun wahana wisata buatan di kompleks goa. Diantaranya adalah kolam renang, kereta kelinci, bazar makanan, hingga menggelar pertunjukan kesenian. Di hari libur tingkat kunjungan ke Goa Selomangleng cukup tinggi.

Eksotisme ini terasa makin komplit dengan dipertahankannya tiga kuburan keramat yang diyakini sebagai perintis wilayah Kediri. Mereka adalah Tumenggung Mojoroto, Mbah Boncolono, dan Tumenggung Poncolono.

Makam ketiga leluhur itu berada di puncak bukit yang bejarak sekitar 100 meter dari Goa Selomangleng. Untuk mencapai ketiga makam tersebut, para pengunjung harus mendaki kurang lebih 460 anak tangga yang cukup menanjak. Sehingga diperlukan stamina dan persiapan fisik yang kuat untuk bisa mencapai puncak bukit tersebut.

Kisah kepahlawanan ketiga tokoh inilah yang membuat makam tersebut banyak dikunjungi peziarah. Selain untuk mendekatkan diri kepada sang Pencipta, para pengunjung memanfaatkan makam tersebut untuk melihat pemandangan Kota Kediri dari puncak bukit. Dari titik tertinggi permukaan bumi ini, terlihat jelas betapa kecilnya manusia di hadapan sang Khalik. (*)

 

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.