READING

Gudang Garam Tak Tertarik Produksi Rokok Elektrik

Gudang Garam Tak Tertarik Produksi Rokok Elektrik

KEDIRI – Tren anak muda untuk mengkonsumsi vape sebagai pengganti rokok tak menarik PT Gudang Garam untuk memproduksi. Para pengguna vape dipastikan akan kembali ke rokok kretek sebagai rokok sebenarnya.

Maraknya anak muda penghisap vape ternyata tak membuat perusahaan rokok terbesar di Kediri ini goyah. Gudang Garam akan tetap fokus memproduksi rokok yang telah memiliki segmentasi pasar jelas. “Rokok elektrik ya elektrik, rokok ya rokok. Tidak seratus persen sama,” kata Direktur PT Gudang Garam Tbk Heru Budiman dalam konferensi pers Rapat Umum Pemegang Saham di Hotel Grand Surya Kediri, Rabu 26 Juni 2019.

Menurut penelitian Heru Budiman, harga vape yang lumayan tinggi hanya bisa dinikmati oleh kalangan atas. Sementara pasar rokok jauh lebih luas dari itu.

Heru bahkan berani memastikan jika penghisap vape yang ada saat ini tak akan bertahan lama. Artinya, mereka tak akan benar-benar meninggalkan rokok dan beralih ke vape selamanya. “Berapa lama orang bertahan dengan rokok elektrik, kasih saya masukan,” katanya.

Selain segmentasi pasar yang tidak terlalu besar, regulasi pemerintah terkait vape juga tak memberi kemudahan khusus. Vape yang tergolong barang impor masih dikenai cukai dengan ketentuan penggunaan sama dengan rokok. Larangan kawasan bebas rokok juga dikenakan kepada vape selain rokok.

Namun demikian Heru Budiman tak menutup kemungkinan suatu saat perusahaannya akan memproduksi vape jika dinilai potensial. “Kalau rokok elektrik berkembang, kita akan ikut partisipasi di segmen itu,” katanya.

Di sektor bisnis, PT Gudang Garam Tbk juga mengaku tak banyak mendulang laba. RUPS tahun buku 2018 ini masih membagikan deviden sebesar Rp 5.002.628.800.000 atau Rp 2.600 per lembar saham. Angka ini sama persis dengan nilai deviden yang dibagikan dalam RUPS tahun lalu.

Lesunya industri rokok nasional ini pula yang memicu turunnya penjualan produk sigaret kretek tangan (SKT) Gudang Garam. Penjualan mereka masih kalah dibanding sigaret kretek mesin yang terus mengalami peningkatan volume produksi. “Dalam 2-3 tahun belakangan segmen industri SKT (sigaret kretek tangan) tak menunjukkan pertumbuhan,” kata Heru Budiman.

Meski tak menyebut korelasi langsung kondisi tersebut terhadap nasib karyawan, jumlah pekerja PT Gudang Garam Tbk saat ini mengalami penurunan. Jika tahun 2017 jumlah pekerja Gudang Garam sebesar 35.272 orang, tahun 2018 berkurang menjadi 33.575 pekerja.

Heru berdalih penurunan ini akibat penerapan program pensiun, pemutusan kontrak kerja di bidang distribusi, dan pemberlakuan mekanisasi untuk menggantikan sumber daya manusia. Dengan kondisi tersebut, PT Gudang Garam masih bisa meningkatkan volume produksi rokok dari 78,6 milyar batang di tahun 2017 menjadi 85,2 milyar di tahun 2018.

Proyek Bandara Terhambat

Direktur PT Gudang Garam Istata Taswin Siddharta menjelaskan, untuk proyek bandara saat ini belum bisa dilakukan peletakan batu pertama (groundbreaking) karena berbagai kendala. Salah satunya adalah pembebasan lahan yang belum tuntas hingga hari ini.

“Masih ada kendala terkait pembebasan lahan. Tidak banyak, hanya beberapa hektar saja. Tetapi tidak bisa kami mulai sebelum semuanya beres,” kata Istata.

Selain itu, Istata juga menyebut adanya kendala perizinan yang tak semudah perkiraan. Karena ternyata ada banyak perizinan yang harus diselesaikan, meski didukung sepenuhnya oleh pemerintah.

Istata juga tak menyebutkan sampai kapan penundaan groundbreaking ini dilakukan. “Lebih cepat lebih baik, itu keinginan kami,” tukasnya pendek.

Selain membagikan deviden yang nilainya sama dengan tahun lalu, RUPS kali ini juga mempercayakan kembali Susilo Wonowidjojo sebagai presiden direktur dan Juni Setiawan Wonowidjojo sebagai komisaris. (HARI TRI WASONO)  

print

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.