READING

Mitos Pesugihan Gunung Kawi: Eyang Djoego Jawa ata...

Mitos Pesugihan Gunung Kawi: Eyang Djoego Jawa atau Tionghoa?

Penembahan Ejang Djoego, jang oleh orang-orang Tionghoa disebut Thay Lo Su, dan Mban Iman Sudjono jang dinamakan Dji Lo Su (Im Yang Tju, tanpa angka tahun).

Corak arsitektur Tionghoa baik di padepokan maupun di komplek Pesarean Kawi menerbitkan tanya tentang relasi Sang Eyang dengan bangsa Tionghoa. Asumsi yang berkembang, Eyang Djoego sebagai salah satu abdi Pangeran Diponegoro adalah seorang bangsawan (Jawa) meski hingga kini, tak seorang pun tahu siapa sebenarnya Eyang Djoego.

“Eyang Djoego menulis buku,” kata R.B. Iwan Suryandoko. Menurutnya, buku ini ditulis sendiri oleh Eyang Djugo dengan tulisan huruf Arab pegon, bahasa Jawa Kawi (Jawa kuno), dan dalam bentuk tembang. Buku ini kerap diarak bersama dengan pusaka dan peninggalan Eyang Djoego setiap tahunnya. Hal yang sebetulnya disayangkan oleh Iwan.

baca juga: Gunung Kawi: Kisah Tentang Pelarian dan Harapan

Lha buku itu aja mung dikutuki. Diwaca (Buku ini jangan hanya diasapi kemenyan. Tapi untuk dibaca),” katanya. Dibaca di sini dalam arti diterjemahkan ke dalam bahasa kini sehingga ilmu yang terekam di buku itu bisa dimengerti. Menurut Iwan, upaya menerjemahkan buku ini pernah dimulai meski berhenti di beberapa halaman sebab tingkat kerumitannya. Penerjemah harus bisa membaca huruf Arab pegon, memahahi bahasa Jawa kuno, dan memahami tembang. Keahlian rangkap yang susah dicari. Dari penerjemahan yang sedikit itu, Iwan mengatakan bahwa dua buku itu berisi catatan tentang Jawa dan satu buku lagi ia tidak tahu.

Patung Eyang Djoego (kanan) yang dibuat oleh salah seorang peziarah berdasarkan mimpi.

“Yang buku soal Jawa itu dulu sering dibawa Bapak saya ke rumah dan dibaca-baca,” kenangnya. Dari ribuan halaman yang ditulis oleh Eyang Djoego, tak ada yang menceritakan tentang siapa dirinya. Tim riset Jatimplus.ID mencoba menyusuri jejak pustaka yang pernah ditulis.

baca juga: Gunung Kawi: Kisah Para Pencari

Buku kekinian ditulis oleh Prasto Wardoyo, Anang, dan K. Anam berjudul Gunung Kawi, Fakta dan Mitos diterbitkan oleh Linguakata, Surabaya (2009). Buku ini lumayan lengkap untuk memberi gambaran tentang Pasarean Kawi tiap sudutnya sebagaimana informasi yang tersebar, namun tak membedah siapa sesungguhnya Eyang Djoega. Sosoknya masih samar, sampai Jatimplus.ID kedatangan tamu.

 “Laporanmu soal Gunung Kawi akan bagus jika membaca buku ini,” kata Drg. Sutjahjo Gani, penerus Tan Khoen Swie (TKS) yang kini merawat perpustaaan bersejarah dari penerbit legendaris di Kediri,  Boekhandel Tan Khoen Swie. Pagi itu, 4/2/2020, Pak Yoyo, sapaan Drg. Sutjahjo Gani membawa dua buku lawas ke redaksi Jatimplus.ID. Buku yang selama ini menjadi kekayaan arsip di perpustakaan TKS.

Satu buku sudah sangat rapuh, berjudul Boekoe Pasarehan Djoego, pengarang Raden Soekirno (Kepandjen) diterbitkan oleh Drukkerij Mars Malang, tahun 1939. Sedangkan buku kedua berjudul Riwajat Ejang Djugo Panembahan ditulis oleh Im Yang Tju, terbitkan oleh Toko Astagina  (tanpa angka tahun) Surabaja dilukisi oleh Tan Soen Ing, fotografer Go Boen Sien. Dua buku ini yang menjadi sumber untuk melacak siapa sebetulnya Eyang Djugo.

Pengembara dari Kota ke Kota

Lahan pertanian yang subur di sekitar padepokan Eyang Djoego di Kesamben, Blitar.

Buku yang paling mendekati sumber-sumber kunci yang bersentuhan dengan Eyang Djoego ketika masih hidup ditulis oleh Raden Soekirno. Dalam Pendahoeloean Kata, Raden Soekirno menulis:
Kebetoelan pada waktu ini, misih ada tiga (3) moerid jang tertoewa jang bisa mentjeritaken hal itoe (riwayat hidup Eyang Djoego sampai pada hari meninggalnya, 1879): Prawirosastro (oemoer 95 tahoen, Bodjonegoro), Pak Moeridoen (oemoer 80 tahoen, doekoeh Wonosari-Pekalongan), Embah Dawood (oemoer 85 tahoen, Kesamben-Blitar).

Menurut penuturan murid yang masih bersentuhan dengan Eyang Djoega semasa hidupnya, kisah dimulai dengan kehadiran seorang tua aneh yang senang keluar masuk hutan di kawasan Bowerno, Bojonegoro. Orang tua itu mengaku berasal dari Tuban dengan nama Kyai Pelet. Kemudian, sang kiai lenyap begitu saja.

Cerita di Caruban, Madiun, tersebutlah seorang tua bernama Kyai Gemplo dengan tampilan busana yang aneh. Kadang-kadang ia tampak miskin, terkadang dengan busana yang sangat bagus. Pada masa itu, busana menunjukkan kelas seseorang. Sama halnya dengan Kyai Pelet, Kyai Gemplo pun lenyap begitu saja.

Kisah keberadaan lelaki tua misterius dan disegani ini pun ditemukan di Pati hingga Kepanjen dan Kedungkandang (Malang). Sampai akhirnya berakhir di Sanan Djoego atau Kali Djoego. Tahun 1861 ketika Sanan Djoego masih berupa hutan, datang seorang tua yang kharismatik. Ia bisa menolong orang yang akan bunuh diri dan berhasil dicegahnya. Kisah ini menyebar hingga salah satu warga, Matsoerjo, lelaki tua itu diberi tumpangan tempat tinggal dengan sebutan Kijahi Toewa (Kyai Tua).

Tahun 1868, Sanan Djoega mengalami wabah, banyak sapi-sapi yang sakit dan tewas. Kyai Tua itu berhasil mengobati sehingga penduduk merasa sangat berterima kasih dan ia semakin disegani meski kehadirannya tetap misteri.

Tahun 1870, wabah kolera menyerang Tanah Jawa tak terkecuali Sanan Djoego. Beberapa orang meninggal dalam waktu singkat. Sisanya, Sang Wikoe, sebutan Kyai Tua itu pun berhasil menyembuhkan orang-orang yang sakit yang belum saatnya meninggal. Hal itu menyebabkan Bupati Blitar pada saat itu, Pangeran Warsokoesoemo memberikan tanah kepada Sang Wikoe yang kelak akan kita kenal sebagai Padepokan Eyang Djoego di Desa Jugo, Kecamatan Kesamben, Blitar. Di sinilah kemudian, ia berjuluk Panembahan Djoego dengan cantrik yang semakin banyak.

Panembahan merupakan orang yang kaya ilmu, mulai dari ilmu pengobatan hingga pertanian. Ia mengubah hutan menjadi lahan pertanian yang memakmurkan sekitarnya.

Laki-Laki yang Singgah di Amoi

Klenteng kecil Tie Kong, terletak di area padepokan Eyang Djoego, Kesamben Blitar.

Pada suatu hari, Penembahan Djoego berkisah bahwa ada seorang bangsawan Mataram yang akan meninggal. Ia bilang pada bangsawan itu bahwa belum saatnya meninggal dan meminta menemui Panembahan: besuk carilah saya, rumah saya di pinggir kali. Saya cinta betul pada orang itu, mestinya besuk ke sini.

Demikianlah, esok harinya, padepokan kedatangan tamu agung. Dari busananya terlihat sebagai bangsawan dari Mataram. Ia disambut oleh Panembahan dan diangkat menjadi murid yang kelak menjadi murid kinasihnya dengan nama Iman Soedjono.

Kisah lain, Panembahan melawat di Amoi, sebuah wilayah di Tiongkok bertemu dengan seorang perempuan dengan anak yang selalu menangis. Panembahan mengelus bocah kecil itu sembari mengatakan: besuk kalau sudah dewasa, carilah saya, rumah saya di pinggir kali.

Bertahun kemudian, datanglah seorang Tionghoa totok bernama Tan Giok Tjwa yang sedang terlilit masalah. Tanpa bercerita, Panembahan sudah mengetahui dan memberi bantuan berupa uang untuk mengatasai masalahnya. Sejak saat itu, Tan Giok Tjwa kemudian diberi nama Djan menjadi muridnya. Djan adalah bocah yang menangis di pelukan ibunya, di sebuah kawasan di Tiongkok, Amoi.

Banyak peziarah Gunung Kawi beretnis Tionghoa, karena itu di area pesarean dibangun juga Klenteng yang cukup besar dan megah.

Selama hidupnya, Panembahan melakukan syiar kebaikan dengan kemampuan yang dimilikinya kepada semua makhluk, semua ras. Tahun 1872, Panembahan mengembara ke Gunung Kawi dan jatuh cinta dengan tempat itu.

Ketika kembali ke padepokan, ia memerintahkan Iman Soedjono untuk membuka hutan Kawi dan membangun kuburan. Kelak, ia ingin dimakamkan di sana. Begitulah, Iman Soedjono membuka hutan, membuat pondok dan menjadikan pondok itu menjadi asri. Penuh dengan tanaman buah dan bunga, termasuk dewandaru, cermai, dan buah-buahan lainnya. Iman Soedjono juga menanam kopi di sekitar Kawi kemudian kembali ke Sanan Djoego.

Tahun 1875, pedepokan kedatangan perempuan Belanda yang sedang berduka sebab suaminya, Tuan Schiller meninggal dunia. Tuan Schiller adalah seorang opnemer di gudang tembakau dan kopra di Wlingi, Blitar. Kesedihan Sang Nyonya menjadikan tubuhnya menjadi ringkih dan pucat. Panembahan memberi ramuan dari tetumbuhan yang menyehatnya sehingga Sang Nyonya sering datang ke Padepokan. Nyonya Belanda ini menikah dengan Iman Soedjono atas restu Sang Panembahan. Setelah menikah, Iman Soedjono diberi gelar Kromo Redjo.

Berselang tahun kemudian, Panembahan Djoego pindah ke Kawi diikuti oleh Iman Soedjono beserta dua istrinya. Setelah menikah dengan Nyonya Schiller, ia menikah lagi dengan perempuan Jawa bernama Djoewoel dan tinggal mengikuti Panembahan hingga Sang Penambahan wafat.

Kisah Dua Anak Eyang Djoego

Para abdi berpakaian Jawa yang banyak kita jumpai di area makam Eyang Djoego.

Dari penuturan banyak sumber, Eyang Djoega hidup sendiri dan tak punya keturunan. Namun Raden Soekirno menceritakan tentang dua putera Eyang Djoego di bagean X: Tjerita keadakan sahari-harinya di Sanan Djoego.

Orang-orang yang datang berobat dan berbagai keperluan ke padepokan semakin banyak. Sampai kemudian tiba-tiba Panembahan menghilang. Hal itu menjadikan Bupati Blitar memerintahkan Amb’enaar Bestuur di bawah kepemimpinannya untuk mencari dan melaporkan bila sudah ditemukan.

Beberapa hari kemudian, Wedono distrik Lodoyo (Blitar) menembukan Sang Panembahan duduk termenung di pinggir Laut Selatan, tepatnya di sebuah batu di Desa Djolosoetro. Sampai buku ini ditulis (tahun 1939) batu itu masih ada.

Kepada Wedono Lodoyo, Panembahan mengaku kangen dengan tempat ini. Panembahan bercerita bawah tempat ini merupakan batas wilayah kerajaannya. Ia mendirikan rumah di sini. Kemudian rumah dan tanah itu diberikan kepada dua orang puteranya yang sangat ia cintai.

Sayang sekali, dua putra itu kemudian meninggalkan Panembahan dan pergi sangat jauh. Satu di Mataram dan satunya di Tiongkok.

Siapa poetra-poetra jang di kataken tadi orang tida brani menjataken lebih teges, tjoema orang di dalem hati sama memikir, kalau begitoe Panembahan itoe kelak djoega mempoenja ketoeroenan jang asal dari Tiongkok (Negeri China).

Kadang memang tak perlu untuk mengetahui secara historis, siapakah sebenarnya Sang Panembahan. Hanya kisah yang tercatat, apapun relasinya, erat kaitannya dengan Tionghoa. Baik murid, perjalanan, bahkan ada yang mencatat berputra Tionghoa. Dua abad kemudian, Eyang Djoego hadir sebagai jawaban dari banyak kegelisahan para peziarah meski siapa dirinya belum terjawab.

Para peziarah pesarean Eyang Djoego di Gunung Kawi.

Reporter : Titik Kartitiani, Fotografer : Adhi Kusumo

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.