READING

Mitos Pesugihan Gunung Kawi: Kisah Para Pencari Ja...

Mitos Pesugihan Gunung Kawi: Kisah Para Pencari Jalan Kekayaan Instan.

Ada yang datang dengan persoalan di punggung, bertekad meninggalkannya di Kawi dan menggantinya doa-doa yang khusyuk di pasarean. Pulang dengan harapan dan ketenangan yang tak terjelaskan. Ketakpastian yang pasti dan kepercayaan komunal inilah yang menjadi Kawi tetap misteri bagi para pencarinya.

Parkiran Soto, demikian para peziarah menyebut tempat parkir di area bawah Pasarean Kawi. Di sini, kisah “para pencari” dimulai. Andre, sopir yang biasa mengantar para peziarah mengatakan bahwa tawaran jasa pengantar ritual Kawi akan dimulai ketika tamu turun dari mobil.

“Biasanya mereka akan menawari mandi untuk membersihkan diri. Dari sana nanti akan ada rute dan syarat apa saja yang harus dipenuhi. Kadang-kadang sampai sangat mahal,” kata Andre. Misalnya diminta untuk membawa ayam hitam, kambing dengan warna tertentu, dan lain-lain.

Jalan menuju area pesarean Gunung Kawi yang ramai oleh warung makan, penjual bunga, dan para pengemis mengharap belas kasihan para peziarah.

Ada kisah unik dari Andre ketika mengantar tamu. Ia dikira salah satu tamu yang akan mengadakan ritual. Seorang pemandu mengikutinya dan menawarkan untuk mandi. “Pas saya ngaku hanya mengantarkan tamu, ya saya ditinggal begitu saja,” kenangnya sambil tertawa.

baca juga: Gunung Kawi: Kisah Tentang Pelarian dan Harapan

Praktik seperti ini juga dibenarkan oleh R.B Iwan Suryandoko, juru kunci Pasarean Kawi. Iwan menegaskan, bila ingin ziarah, tidak ada syarat apapun apalagi yang meminta mahar mahal.

“Tak ada syarat apapun dari kami. Kalau mau ya bawa bunga, tapi ini pun tidak wajib,” kata Iwan. Bunga tabur bisa dibeli di sepanjang kios di kompleks Pasarean dengan harga terjangkau, mulai dari Rp 5.000,-/besek. Bila pun mengeluarkan biaya ratusan ribu hingga jutaan, adalah pada biaya kenduri dan menggelar pertunjukan wayang kulit. Ini pun tidak wajib.

baca juga: Gunung Kawi: Apakah Eyang Djugo Seorang Tionghoa

Lapak salah seorang penjual bunga tabur di area pesarean Gunung Kawi.

Menurut Iwan, para peziarah yang merasa doanya dikabulkan maka mereka mengadakan syukuran berupa kenduri.

“Kenduri kan pasti tidak dimakan sendiri, dibagi-bagi untuk umum. Sehari bisa ratusan bahkan pada saat ramai bisa ribuan bungkus makanan yang bisa dibagikan,” jelas Iwan.

Untuk mempermudah, maka para pengurus pasarean membuka jasa untuk mengolah menu selamatan. Mulai dari ayam besek dengan harga Rp 85 ribu/besek, kambing tumpeng, hingga sapi senilai Rp 15 juta/ekor.

Selain itu, Pasarean Kawi juga menyediakan sarana pemenuhan nadzar dan sumbangan. Untuk nadzar berupa tanggapan wayang kulit dan gelar wayang ruawatan mulai Rp 3,5 juta/pentas. Sedangkan sumbangan berupa minyak tanah, beras, dan sayuran.

Di pesarean disediakan fasilitas tanggapan wayang kulit, bagi peziarah yang punya nadzar akan nanggap wayang apabila keinginannya terkabul.

“Nadzar ini sebetulnya bisa apa saja. Mungkin dulu Eyang Djugo suka nanggap wayang, maka peziarah yang keinginannya terkabul kemudian menanggap wayang,” terang Iwan.

Di Pasarean kawi, selamatan dalam sehari bisa sampai 3 kloter sedangkan untuk tanggapan wayang, sehari pun bisa berkali-kali. Ada atau tidak ada penonton, dalang tetap memainkan wayang-wayangnya sebagai perwujudan sebuah janji.

Tak Ada Pesugihan di Kawi

“Saya ke Gunung Kawi sejak 2005. Waktu itu saya masih ikut bos saya,” kata Agus Sulaeman, salah satu peziarah yang tiap bulan datang ke Kawi, hingga kini.

Bos yang dimaksud adalah Liem Sioe Liong, salah satu konglomerat terkenal di Indonesia. Kisah ini sudah sangat umum didengar oleh masyarakat. Kisah lain tentang konglomerat yang datang ke Pasarean Kawi yaitu Ong Hok Liong. Konon, ide mendirikan pabrik rokok Bentoel didapatkan setelah berdoa di Pasarean Kawi. Pun beberapa pengusaha dalam berbagai usaha pun datang ke Pasarean ini.

“Ya jujur saja, saya ke sini untuk mencari keberuntungan dalam hal finasial. Tapi ya tetap usaha,” terang Agus. Sebuah kesetiaan yang cukup gigih, Agus menempuh perjalanan dengan sepeda motor selama 6 jam dari Jember ke Kawi untuk berdoa. Selain keberuntungan, hal utama yang ia dapatkan di Kawi adalah ketenangan dan semangat bahwa segala sesuatu yang buntuh pun pasti ada jalan keluar.

Agus Sulaeman, rajin berziarah menempuh perjalanan selama 6 jam dari Jember ke Kawi berharap mendapat berkah dan ketenangan diri.

Dalam kesehariannya, Agus usaha aksesoris mulai dari kalung, gelang, tasbih, dan lain-lain. Barang dagangannya ini ada juga yang dititipkan di kios-kios di Kawi. Kedatangannya tak hanya berdoa, juga mengecek stok dagangannya di toko-toko meski itu bukan tujuan utama.

Agus adalah para pencari ketenangan di makam para aulia. Tak hanya di Kawi, ia juga datang ke makam aulia di Mojokerto. Dua makam inilah yang terasa “cocok” di hatinya setelah ia bertualang ke berbagai makam dan petilasan. Tentang alasannya, susah untuk dijelaskan.

“Kalau menunggu dewandaru, Wallahualam. Tapi kalau tanpa usaha ya percuma. Saya sudah berkali-kali dapat daun jatuh. Tapi toh daun itu tetap tidak bisa menjadi uang kalau kita tidak usaha,” katanya sambil tersenyum. Ia merasa memiliki kekuatan untuk menjalankan usahanya.

Ketika ditanya soal tumbal, Agus menolak mentah-mentah. Tak ada tumbal maupun pesugihan di Kawi. Yang ada hanyalah ngalap berkah (mencari berkah) dengan cara mendoakan para aulia.

Suyudi, pedagang kantong kain dan buku tafsir Ciamsi, menegaskan tak ada pesugihan di Kawi.

“Bagaimana pakai tumbal, di sini kan bukan pesugihan,” kata Agus tegas. Jawaban yang sama juga diucapkan oleh para “pengunjung setia” Kawi. Pun para pedagang kantong kain dan buku tafsir Ciamsi, Suyudi (56 tahun) yang berpeci dan mengenakan baju koko, menyatakan tegas bahwa tak ada pesugihan di Kawi.

“Kalau ada pesugihan, saya sudah kaya dari dulu-dulu wong saya tiap hari di sini,” katanya tertawa. Ia mengaku warga Desa Wonosari yang sudah puluhan tahun berdagang di komplek Pesarean Kawi. Meski akhir-akhir ini ia merasa kunjungan menurun sejak terbakarnya patung Dewi Kwan Im, ia merasa hidup dari Kawi. Hidup dalam arti harfiah, mendapatkan keuntungan ekonomi dari jualan yang menopang hidup keluarganya selama ini.

“Dulu sehari bisa dapat Rp 50ribu dengan mudah. Tapi sekarang laku hanya satu dua,” ujarnya.

Tempat bisa sama, tapi tujuan tentu saja berlainan. Ada yang datang sebagaimana ziarah wali. Biasanya mereka datang dengan bus dan bersama rombongan untuk tabur bunga dan berdoa di pendopo. Ada pula yang hanya sekadar berwisata.

Seorang peziarah berdoa kusyuk di depan tiap sudut pendopo.

Peziarah yang “serius” biasanya datang sendiri, seperti Agus.  Atau ada pula seorang lelaki Tionghoa yang enggan untuk diwawancara, datang ke makam bukan berdoa di pendopo tetapi mengelilingi makam. Awalnya searah jarum jam kemudian berlawanan dengan jarum jam. Di tiap sudut, ia khusyuk berdoa.

Kemudian ritualnya diakhiri dengan masuk ke ruang Ciamsi di komplek klenteng. Di dalam, ia cukup lama untuk membaca Ciamsi. Sampai akhirnya selesai, diakhiri dengan belanja barang-barang yang dipercaya memiliki tuah yang dijual di toko suvenir. Di sana ada batu akik, patung kuningan, pring pethuk (bambu yang beradu ruas), tasbih, gelang ganitri, hingga sarang semut. Ketika ditanya, apakah percaya dengan khasiatnya? Si pembeli hanya tersenyum. Yang jelas, ada transaksi ekonomi di sana. Sebuah berkah kasat mata bagi para penjual suvenir, penjual makanan, dan pengusaha penginapan.

Denyut Kawi tak pernah tidur, sebagaimana harapan-harapan yang dipanjatkan oleh para peziarah. Dewandaru masih tetap akan menggugurkan daunnya, baik ada yang menunggu maupun tidak. Kawi selalu terbuka untuk dimaknai.

Ruang Ciam si di komplek Klenteng Kawi. Peziarah bisa mengopyok bambu bertuliskan nasib atau ramalan. Bilah bambu yang jatuh ke lantai itulah yang berisa ramalan untuk kita.

Reporter : Titik Kartitiani, Fotografer : Adhi Kusumo
Editor : Prasto Wardoyo

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.