READING

Mitos Pesugihan Gunung Kawi: Pelarian Abdi Setia D...

Mitos Pesugihan Gunung Kawi: Pelarian Abdi Setia Diponegoro dan Harapan Penyelesaian Masalah Kehidupan.

Adalah tentang kisah pelarian orang-orang yang setia pada Pangeran Diponegoro. Adalah tentang harapan orang-orang yang ingin memperbaiki nasib dan kehidupan ekonominya. Pada akhirnya, kisah yang sebetulnya menjadi tak penting lagi. Kawi adalah tentang makna eksistensial alih-alih historikal.

Aroma dupa dan doa-doa samar terdengar ketika Tim Jatimplus.ID memasuki Pendapa Pasarean Gunung Kawi Makam Eyang Djoego dan R.M. Iman Soedjono, episentrum dari Wisata Religi Gunung Kawi. Hujan tak menyurutkan para peziarah untuk melakukan aktivitasnya. Ada yang membawa nampan berisi bunga, ada yang mengelilingi makam, ada pula yang berdoa di dalam pendapa.

Seorang petugas makam berbusana Jawa mengantarkan kami menemui R.B. Iwan Suryandoko, juru kunci makam yang juga keturunan R.M Iman Soedjono. Ia mengenakan busana jawa, duduk bersila di ruangan samping makam. Ruangan dan makam dihubungkan oleh pintu besar yang selalu terbuka sehingga kami bisa melihat dua nisan yang temaram, penuh dengan bunga tabur segar.

Pendapa Pasarean Gunung Kawi Makam Eyang Djoego dan R.M. Iman Soedjono.

Sementara di sudut ruang berbentul L itu, ada dua jam bandul besar dan beberapa jam dinding yang juga besar dan menunjukkan waktu yang tak sama mengingatkan pada jam bandul di Padhepokan Eyang Djoego, Blitar. Di meja tempat kami duduk lesehan, dua kuntum bunga pudak (bunga pandan) menyebarkan aroma khas. Aroma yang mengingatkan pada hutan tropis yang sedang berbunga.

baca juga: Gunung Kawi: Kisah Para Pencari

“Wah, Anda itu, apa-apa kok dikaitkan dengan mistis. Ini bunga pudak, diambil dari kebun sini saja. Bunga ini kan lebih praktis untuk mengharumkan ruangan dan lebih awet,” kata Iwan membuka obrolan kami tentang keberadaan pasarean ini. Mistis, magis, dan pesugihan begitu lekat dengan Gunung Kawi. Hal yang ingin ditepis Iwan dan para penjaga resmi Pasarean Kawi.

“Klarifikasi sudah puluhan kali kami lakukan kalau ada wartawan yang ke sini. Tapi begitu keluar beritanya ya tetap pesugihan. Gimana lagi?” katanya. Tawanya lepas. Tawa yang melunturkan kesan mistis di ruangan itu.

R.B. Iwan Suryandoko, juru kunci makam yang juga keturunan R.M Iman Soedjono.

Pelarian Abdi Setia Sang Pangeran

Iwan menuturkan, menurut kisah turun temurun yang ia dengar dari keluarganya, Eyang Djoego atau Raden Zakaria II merupakan salah satu panglima Eyang Dipo (Pangeran Diponegoro-red) yang tak mau menyerah pada Belanda dan tetap melanjutkan perlawan melalui syiar agama Islam.

baca juga: Gunung Kawi: Apakah Eyang Djugo Seorang Tionghoa

“Beliau menyebarkan welas asih pada sesama,” terang Iwan. Rasa welas asih (kasih sayang) pada semua makhluk ini direkam oleh trah R.M. Iman Sudjono. Diriwayatkan bahwa Eyang Djoego mengembara hingga sampai di Kesamben, Blitar. Pada masa pengembaraannya, kawasan Kesamben sedang diserang wabah penyakit. Ternak sapi banyak yang mati. Pun orang-orang banyak terserang penyakit (pada catatan lain, penyakit kolera). Pengembara itu berhasil menyembuhkan sehingga ia disegani.

“Dengan kenyataan seperti itu, masyarakat di sana, akhirnya berembug untuk menyediakan lahan secara khusus agar beliau tidak ke mana-mana. Akhirnya mondok di sana,” jelas Iwan. Pondokan itu yang kini kita kenal sebagai Padepokan Eyang Djoego di Desa Jugo, Kecamatan Kesamben, Blitar.

Padepokan Eyang Djoego di Desa Jugo, Kecamatan Kesamben, Blitar.

Pengikut Eyang Djoego semakin banyak, datang dari berbagai daerah. Tak hanya masyakarat Jawa, tetapi juga masyarakat Tionghoa. Relasi khusus dengan Tionghoa ini memberikan banyak versi penjelasan berdasarkan berbagai sumber, khususnya pustaka yang Jatimplus.ID temukan.

Iwan menjelaskan, bahwa kharisma Eyang Djoego yang welas asih pada semua makhluk inilah yang menjadikan pergaulannya luas, termasuk di kalangan Tionghoa. Masyarakat Tionghoa memiliki tradisi kuat untuk mengingat leluhur sehingga Eyang Djoego dianggap sebagai leluhur mereka sehingga di Pasarean Kawi terdapat klenteng yang besar berdampingan dengan masjid. Pun Padepokan di Blitar memiliki corak bangunan Tionghoa.

“Masyarakat Tionghoa banyak datang untuk berziarah dan sembahyang. Makanya dibangunkan klenteng di sini untuk mempermudah mereka sembahyang,” kata Iwan. Pada studi literasi, kehadiran Klenteng Thie Kong dan Klenteng Kwan Im ini memiliki cerita lebih detail. Masyarakat Tionghoa pun banyak yang sembayang di klenteng ini.

Klenteng Kwan Im di Gunung Kawi.

“Cintailah yang di bumi, maka Yang Di Langit Akan Mencintaimu,” kata Iwan menirukan ajaran dari Eyang Djoego yang ia pegang turun temurun.

Menurut Iwan, tiga tahun sebelum Eyang Djoego meninggal, ia memerintahkan R.M Iman Soedjono untuk membuka lahan di lereng Gunung Kawi.

“Eyang Djoego wafat pada hari Minggu Legi, 1 sela atau bulan Dzulkangidah tahun 1799M menurut kalender Jawa,” kata Iwan. Pada hitungan Jawa, ada yang menuliskan Senin Pahing, bila meninggalnya selepas senja sudah dihitung hari berikutnya dengan candra sengkala Aruming Kusuma Pinudjeng Jagat  atau menurut kalender tahun Masehi pada 22 Januari 1871 dan dimakamkan di Pasarean Kawi.

Banyak peziarah nyekar di Minggu Legi, hari meninggalnya Eyang Djoego.

Setelah Eyang Djoego wafat, R.M Iman Soedjono menjadi juru kunci makam dan membuat padepokan di komplek makam tersebut agar bisa dekat dengan gurunya.

Lima tahun kemudian, R.M Iman Soedjono wafat, tepatnya pada Selasa Wage, malam Rabu Kliwon tanggal 11 Muharam tahun 1805 atau 8 Februari 1876 dengan candra sengkala Tataning Mukso Ngesti Tunggal dan dimakamkan di samping Eyang Djoego yang kini menjadi episentrum Pasarean Kawi.

“Tiap bulan hari meninggalnya Eyang Djoego yaitu Minggu Legi, banyak yang nyekar di sini,” tambah Iwan. Sedangkan acara besar dilakukan setiap tahun pada bulan Suro. Iwan menyebutnya bukan kirab melainkan nyekar setiap bulan. Sebuah prosesi yang diikuti keluarga besar dan juga yang mengagumi Eyang Djoego, maka pesertanya menjadi banyak sebagaimana kirab.

Dewandaru, Makna Harfiah dan Simbolis

Daun dan buah Dewandaru yang jatuh menjadi simbolisasi kasad mata tentang keberhasilan doa-doa para peziarah, khususnya dalam hal rezeki.

Pasarean Kawi menemukan magnet magisnya pada malam hari ketika para peziarah berdoa pada malam senyap. Ada yang menginap di pasarean, termasuk ada yang duduk menunggu di bawah pohon dewandaru. Daun dan buah yang jatuh menjadi simbolisasi kasad mata tentang keberhasilan doa-doanya khususnya dalam hal rezeki.

Konon, menurut kabar yang beredar, pohon dewandaru yang ada di pasarean ini berasal dari tongkat Eyang Djoego. Kisah yang sama juga tersemat di pohon dewandaru yang berada di padepokan.

“Cerita seperti itu Wallahualam. Kalau bagi kami, tidak suka menceritakan sesuatu yang mistis. Zaman sudah berubah, tidak perlu kembali,” kata Iwan. Menurutnya, Dewandaru sejak dulu ada di hutan Kawi. Dalam bayangannya, hutan akan menyimpan beragam jenis pohon.

Di sisi lain, Agus Sulaeman, peziarah asal Jember, Jawa Timur meyakini jika pohon dewandari berasal dari tongkat Eyang Djoego juga masuk akal.

“Batang dewandari itu kan punya kambium yang bisa bertahan sampai 2 minggu. Jadi mungkin kalau berasal dari tongkat yang ditancampkan dan bisa hidup,” katanya. Ia memiliki pengalaman ketika membawa batang dewandaru dari daerah Kawi dan menanamnya di rumah dan bisa tumbuh.

Iwan memaknai upaya menunggu kejatuhan dewandaru sebagai upaya simbolis. Salah satu petuah Eyang Djoego kepada murid-muridnya adalah tentang sebuah ikhtiar yang penuh kesabaran.

“Kamu kalau kepingin hidup kamu enak, kaya raya kamu tunggu buah itu jatuh. Kalau ingin dapat (buah) kan harus ikhtiar,” kata Iwan menirukan ajaran Eyang Djoego. Jika kemudian dimaknai harfiah dengan menunggu jatuhnya buah sianto atau dewandaru (Eugenia uniflora) ini, tak ada yang bisa melarang.

Sementara itu, dalam peribahasa Jawa yang masih digunakan hingga kini, ada selarik kalimat terkait dengan dewandaru yaitu ketiban ndaru (kejatuhan ndaru), maknanya orang yang mendapatkan keberuntungan atau kemulyaan. Ndaru berarti sesuatu yang bercahaya merujuk pada bintang dan bulan.

Gentong dan Air Bertuah

Tempat para peziarah menuntaskan ritualnya dengan meminum air dari guci peninggalan Eyang Djoego.

Kisah dewandaru menjadi kisah yang diyakini oleh para penunggunya. Pun kisah tentang air bertuah yang diminum dari dua guci yang berada di samping pasarean. Usai berdoa di pendopo, sebagian peziarah menuntaskan dengan ritual meminum air dari guci yang disebut sebagai guci peninggalan Eyang Djoego. Seorang petugas berbusana Jawa menuangkan air dari guci itu ke dalam gelas plastik yang sudah disediakan.

“Diminum, lalu sisanya dibasuh ke muka biar pintar,” kata seorang laki-laki salah satu pengunjung kepada anak perempuannya.

Usai menerima air dari guci, peziarah menghadap ke barat (membelakangi guci). Berbagai pengharapan yang terbaik dilantunkan dalam kekhusyukan. Ada yang memohon kesembuhan dari penyakit, lulus ujian CPNS, nilai bagus, dan berbagai pengharapan lainnya. Kemudian meminumnya. Ada pula yang membasuh wajahnya dengan air tersebut agar awet muda. Oleh masyarakat, air dari guci ini disebut air jamjam atau zam zam.

“Masyarakat dulu sering meletakkan air minumnya di gentong (guci). Para tamu biasa disuguhi air minum dari gentong itu,” kata Iwan menggambarkan tentang bentuk penghormatan orang Jawa pada tamunya.

Peziarah membasuh muka dan meminum air dari guci peninggalan Eyang Djoego.

Reporter : Titik Kartitiani, Fotografer : Adhi Kusumo
Editor : Prasto Wardoyo

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.