Gus Reza: Jangan Merasa Benar Sendiri

Sebagai seorang ulama sekaligus Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama, asosiasi pondok pesantren NU Jawa Timur, Gus Reza Ahmad Zahid sangat terpukul dengan peristiwa bom gereja setahun silam. Baginya, insiden itu adalah petaka bagi toleransi umat beragama, khususnya umat Islam.

KEDIRI – Pengasuh Pondok Pesantren Al Mahrusiyah Lirboyo Kediri ini bahkan sempat tak percaya jika peristiwa pemboman itu terjadi di Jawa Timur. Kawasan yang paling menjunjung tinggi nilai toleransi karena kerja keras para tokoh agama dan aliran kepercayaan yang ada.  

“Bom gereja menjadi satu nilai negatif untuk umat Islam. Setiap terjadi peristiwa teror, yang akan terkena imbasnya adalah seluruh umat Islam,” kata Gus Reza kepada Jatimplus.ID, Jumat 10 Mei 2019.

Bagaimana tidak, pandangan masyarakat dunia terhadap umat Islam sontak berubah saat mengetahui pelaku pemboman di tiga gereja Surabaya adalah seorang Muslim. Seketika stigma orang Islam sebagai teroris melekat sangat kuat. Padahal Islam tak pernah mengajarkan untuk menyakiti sesama manusia.   

Sebagai pengajar dan pengasuh pondok pesantren, Gus Reza memastikan jika apa yang dilakukan para pengebom tersebut sama sekali bukan syariat Islam. Mereka yang mengaku sedang melakukan jihad justru tak memahami syariat Islam dengan benar. Secara otomatis, para pelaku teror bom juga menjadi musuh umat Islam. “Karena Islam tidak pernah mengajarkan seperti itu,” tegasnya.

Baca juga: Bom Surabaya Adalah Peristiwa Iman, Bukan Konflik Agama

Namun dia memastikan jika jumlah umat Islam yang memiliki pandangan ekstrim seperti itu tak terlalu besar, apalagi di Jawa Timur. Sebab setiap saat para tokoh agama selalu menyuarakan tentang kerukunan dan keberagaman.

Baca juga: Komitmen Australia-Iindonesia Melawan Terorisme

Jika ingin mencermati konstruksi atau tatanan nilai toleransi yang riil, Gus Reza menyarankan untuk ke Kediri. Di kota yang dia tempati ini, seluruh aliran agama dan kepercayaan tumbuh tanpa saling memusuhi.

Aktivitas santri di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Foto Jatimplus.ID/Adhi Kusumo

Sebut saja Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) yang memiliki pondok pesantren Wali Barokah besar di pusat Kota Kediri. Bahkan saking besarnya, warga LDII di kota ini tak hidup berkelompok, melainkan menyebar sporadis di masyarakat. Mereka juga mendirikan masjid-masjid LDII tanpa ada ancaman pelarangan dari kelompok lain yang lebih besar.

Di kawasan bantaran Sungai Brantas, tepatnya di Kelurahan Bandar, Kecamatan Mojoroto, terdapat pondok pesantren Kedunglo dari Yayasan Perjuangan Wahidiyah. Di setiap acara keagamaan tertentu, masyarakat di sepanjang Jalan Wahid Hasyim ini merelakan ruas jalan mereka ditutup total. Tak hanya hitungan jam, penutupan ruas jalan utama ini bisa berlangsung beberapa hari.

Baca juga: Bom Sri Lanka Buka Luka Lama

“Sejak kecil kami terbiasa dengan aktivitas pondok. Meski bukan bagian dari mereka, kami menikmati saat jalanan ditutup dan bisa bermain di tengah jalan. Apalagi ada bazar juga,” kata Kristiono Joni, warga Kelurahan Bandar.

Baca juga: Jemaat Resah Perempuan Berhijab Ikut Ibadah di Gereja

Tak semua penduduk di Kelurahan Bandar pengikut Wahidiyah. Bahkan sebagian besar santrinya berasal dari luar kota. Namun ketika pondok itu memiliki hajat, semua warga seperti ikut bertanggungjawab. Jika ada perhitungan tertentu soal kompensasi karena tak bisa bekerja, itu adalah hal yang wajar.

Uniknya, pondok pesantren Wahidiyah ini juga berdekatan dengan kawasan Pesantren Lirboyo Kediri yang berafiliasi dengan organisasi Nahdlatul Ulama. Dimana pondok ini memiliki puluhan ribu santri yang alumninya tersebar di seluruh pelosok tanah air. Pondok Lirboyo bahkan dikenal sebagai pondok tua yang melahirkan banyak pemimpin. “Tapi kami hidup berdampingan tanpa ada konflik,” kata Gus Reza.

Baca juga: Banser NU Pelopori Gerakan Bersih Lingkungan

Di luar beragama aliran Islam tersebut, masih ada kelompok penganut kepercayaan yang tak kalah masif. Salah satunya adalah Sapta Darma, sebuah aliran kepercayaan yang lahir di Kampung Koplakan, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri.

Secara rutin para penganut Sapta Darma bertemu untuk melaksanakan peribadatan dengan tenang dan nyaman. Di Kota Kediri, mereka kerap beribadat di sebuah tempat bernama Sanggar di Kelurahan Mrican, Kecamatan Mojoroto, yang tak jauh dari Pondok Pesantren Al Mahrusiyah Lirboyo.

“Kuncinya harus saling menerima, saling menyapa, dan tidak mengedepankan ego masing-masing. Apalagi menyalahkan orang lain. Kita terima mereka walaupun berbeda. Kita sapa meski tak berkeyakinan sama. Jika itu bisa dilakukan, kita bisa tetap berpegangan pada prinsip kita, tanpa harus menghina yang lain,” terang Gus Reza.

Sikap inilah yang harus tetap dipelihara oleh para pemuka agama jika menginginkan situasi damai. Termasuk dengan penganut agama Kristen, Katolik, Budha, maupun Hindu yang hidup di Kediri. Karena perbedaan itu sudah menjadi keniscayaan bagi manusia.

“Jika besok ada yang memperingati peristiwa bom Surabaya, itu sangat manusiawi. Karena ini adalah tragedi kemanusiaan,” pungkas Gus Reza. (Hari Tri Wasono)

print

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.