READING

Gus Solah Sempat Bersyukur Usianya Lampaui Gus Dur

Gus Solah Sempat Bersyukur Usianya Lampaui Gus Dur

JOMBANG – Wafatnya Dr. Ir. H. Salahudin Wahid atau Gus Solah mengejutkan banyak orang. Kepada sejumlah orang dekatnya, Gus Solah selalu menyampaikan syukur diberikan usia yang lebih panjang dari kakaknya K.H. Abdurrahman Wahid.

Rasa syukur itu salah satunya disampaikan kepada Zahrul Azhar Hans, Dewan Penasehat Pengurus Wilayah Ansor Jawa Timur. “Gus Solah berkali-kali menyampaikan syukurnya atas capaian usia yang melampaui kakaknya (Gus Dur). Dan saya yakin beliau kini bersuka cita karena sudah bisa bersama-sama di alam sana,” kata Zahrul Azhar kepada Jatimplus.ID di Ponpes Tebuireng Jombang, Senin 3 Februari 2020.

Almarhum Gos Solah wafat di usia 77 tahun karena gangguan jantung yang diderita. Sementara kakaknya Gus Dur wafat di usia 69 tahun karena penyakit arteri koroner.

Tak hanya soal usia, Gus Solah juga sempat menyampaikan rencana-rencana besar dalam hidupnya, seperti regenerasi kepemimpinan Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, dan kapan hal itu akan dilakukan.

Di mata Zahrul Azhar, sosok Gus Solah adalah ulama besar yang menjadi panutan banyak umat. Meski berlabel kiai besar, Gus Solah tak pernah memposisikan diri lebih tinggi saat berdiskusi. “Setiap kata memiliki makna karena apa yang diucapkan itu adalah yang dilakukan,” jelas pengasuh Pesantren Queen Al-Azhar Darul Ulum Rejoso ini.

Zahrul Azhar saat menjenguk Gus Solah di rumah sakit. Foto/dok pribadi

Hal lain yang diingat Zahrul Azhar dari almarhum adalah cara Gus Solah memandang mengelola diri untuk tidak terseret kepentingan kekuasaan pragmatis. Sikap inilah yang membuat Gus Solah selalu bisa diterima di kelompok manapun. Termasuk kelompok Islam sayap kanan dan kiri.

Demikian pula cara pandang Gus Solah kepada Nahdlatul Ulama, organisasi yang didirikan kakeknya K.H. Mohammad Hasyim Asy’ri. Meski memiliki “investasi” pada sejarah pendirian NU, Gus Solah tak pernah berpikir untuk menguasai NU atau menjadikannya kendaraan politik. “Cara pandangnya terhadap Nahdlatul Ulama nothing to loose,” kata Zahrul Azhar.

Semua kehebatan ini, menurut Zahrul Azhar, dikarenakan suami Nyai Farida ini sudah selesai dengan hidupnya. Sehingga almarhum tidak memiliki beban untuk berbeda jika hal itu ia yakini benar.

“Selamat jalan kiai, rasanya belum selesai diri ini menimba ilmu kesahajaan yang njenengan miliki. Allah sudah lebih dahulu memanggil. Inalillahi Wa Inailaihi rojiun,” pungkas Zahrul.

Reporter : Syarif Abdurrahman
Editor : Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.