READING

H-4 Lebaran 2019, Jalur Surabaya-Jogja Lancar

H-4 Lebaran 2019, Jalur Surabaya-Jogja Lancar

MADIUN – Mudik dengan menggunakan transportasi kendaraan umum merupakan salah satu pilihan bagi masyarakat Jawa Timur. Bus jurusan Surabaya-Yogyakarta salah satu jalur padat. Pada H-4 Lebaran 2019, peningkatan penumpang cukup signifikan dibanding hari sebelumnya.

Penumpang yang naik dari Terminal Purabaya Surabaya di Sidoarjo pun berdesakan-desakan. Beberapa penumpang memilih untuk berdiri dengan harapan ada penumpang yang turun di kota-kota lain sebelum tujuan akhir Yogyakarta. Sebab sudah lama menunggu dan bus selalu penuh. Sampai Kertosono, penumpang tampak makin padat. Bus jurusan Yogyakarta yang mengambil penumpang di Kertosono kebanyakan AC Ekonomi. Sedangkan bus PATAS memilih masuk tol Jombang.

Penumpang penuh sebelum Ngawi, mereka duduk di dekat sopir.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Selain di terminal Purabaya Surabaya dan Jombang, tidak terjadi penumpukan penumpang. Bahkan di terminal Madiun, Maospati, dan semakin ke barat semakin tampak lengang. Bus agak longgar ketika masuk kawasan Ngawi. Semua penumpang sudah mendapatkan tempat duduk. Menurut beberapa kondektur, hari ini sampai lusa merupakan puncak penumpang ke arah barat. Hari ini, penumpang meningkat drastis setelah tengah hari. Banyak karyawan yang sudah libur dan ASN (pegawai negeri) sudah selesai upacara Hari Kelahiran Pancasila 1 Juni 2019.

Secara keseluruhan, jalanan lancar. Tidak ada kemacetan kecuali di lampu merah dan palang kereta. Tampaknya, adanya jalur tol yang mempersingkat waktu perjalanan menjadi pilihan para pengemudi, khususnya mobil pribadi. Waktu tempuh bisa lebih cepat 2-3 jam via tol. Sedangkan dengan bus umum tanpa lewat tol, waktu tempuh dari Surabaya-Yogyakarta sekitar 8 jam termasuk ngetem di terminal sekitar 15 menit saat di Madiun.

Naik bus merupakan salah pilihan bagi pemudik sebab harganya lebih rendah dibanding kereta. Pun bagi pemudik yang tidak punya jadwal pasti, bus umum menjadi alternatif. Kini, tingkat kenyamanannya pun lumayan. Terkait dengan tarif, Dinas Perhubungan menetapkan tarif tuslah antara 20-30% dari tarif biasa. Bus ekonomi tak boleh menaikkan lebih dari 20%. Bagi PO yang melanggar, terancam izinnya dicabut.

Terminal Maospati, penumpang mulai turun. Tak ada penumpukan penumpang.
FOTO: JATUMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Namun di lapangan, beberapa kondektur mengutip sampai 30% untuk bus ekonomi. Tampaknya penumpang pun tidak protes. Kemungkinan karena maklum dan kenaikan itu masih belum memberatkan. Kenaikan ini berlaku dari H-7 hingga H+7. Pada masa tuslah, semua penumpang membayar sesuai tarif yang tertulis di dinding kaca bus. Di pengumuman itu pula, PO memberlakukan tarif yang sama pada semua penumpang, termasuk member pada 29 Mei hingga 16 Juni 2019. Kini, beberapa bus memiliki kartu member yang bisa mengurangi ongkos.

Hati-Hati dengan Bus Jarak Jauh

Beberapa bus jarak jauh terkadang ingin mengambil untung lebih dengan menaikkan penumpang di jalan. Sebaiknya, penumpang tidak memilih bus ini. Sebab tarifnya tidak pasti dan biasanya lebih mahal.

Selain itu, kadang kaca bus gelap sehingga calon penumpang tidak punya kesempatan untuk melihat kondisi tempat duduk. Ketika sudah masuk, ternyata tak ada kursi kosong dan tentu mengecewakan. Belum lagi jika diturunkan di sembarang tempat. Pilihlah bus yang menaikkan penumpang sesuai trayek, akan lebih aman.

print

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.