Habib Bahar, Jerinx, dan Pencak Dor

KEDIRI – Video tendangan maut Habib Bahar bin Smith yang mengenai wajah seorang remaja begitu viral. Tendangan maut itu pula yang pada akhirnya mengantarkan sang Habib ke jeruji penjara dengan dakwaan melakukan penganiayaan kepada anak di bawah umur.

Tak sedikit masyarakat yang syok usai menyaksikan potongan video tersebut. Tak diketahui siapa yang pertama kali menyebarkan, video berdurasi pendek itu merekam kejadian yang cukup membuat bulu kuduk berdiri. Seorang remaja berpakaian gamis dengan rambut gondrong berwarna pirang tengah berdiri sambil menunduk. Di depannya berdiri pria berkaos yang mengenakan sarung. Rambutnya juga gondrong.

Tak jelas apa yang diucapkan, tiba-tiba pria bersarung itu menjambak rambut remaja di depannya ke bawah dan melesakkan lututnya ke atas. Meski mengenakan sarung, tendangan lutut itu begitu keras menghantam wajah si bocah. Aksi itu dilakukan berulang kali hingga si bocah tampak kesakitan. Darah segar mengucur deras membasahi gamisnya.

Belakangan polisi mengungkap fakta yang terjadi di balik video itu. Pria bersarung yang melesakkan tendangan lutut adalah Habib Bahar bin Smith. Bahar adalah pemimpin dan pendiri Majelis Pembela Rasulullah yang berkantor pusat di Pondok Aren, Tangerang Selatan. Selain itu, dia juga merupakan pendiri Pondok Pesantren Tajul Alawiyyin di Kemang, Bogor.

Bahar bin Smith cukup populer dengan aksinya yang bersinggungan dengan kekerasan. Dia pernah berurusan dengan aparat kepolisian saat melakukan sweeping café dan hiburan malam di Jakarta Selatan dan Tangerang Selatan yang diduga menjual minuman keras. Dalam aksi tersebut tak sedikit yang diwarnai tindak kekerasan.

Polisi kemudian menangkap Bahar dan 62 orang pengikutnya. Sejumlah senjata tajam disita dari tangan mereka seperti golok, celurit, samurai, stik golf, stik besi, dan kayu. Dari 62 orang yang ditangkap, 41 di antaranya merupakan anak yang masih di bawah umur. Bahkan ada anak berusia 13 tahun yang ikut serta dalam aksi sweeping tersebut. Polisi kemudian menetapkan 23 orang termasuk Bahar sebagai tersangka karena terbukti melakukan pengrusakan dengan senjata tajam, dua di antaranya adalah anak di bawah umur yang kedapatan membawa golok dan celurit.

Sebelum terlibat dalam aksi sweeping di tahun 2012, Bahar juga pernah terlibat dalam aksi penyerangan terhadap jemaat Ahmadiyah di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan tahun 2010. Pada tahun yang sama, Bahar juga pernah terlibat dalam Kerusuhan Koja terkait sengketa makam Mbah Priok di Jakarta Utara.

Tak hanya gemar mengumbar kekerasan, Bahar bin Smith juga dikenal garang dalam berceramah. Bahkan salah satu materi ceramahnya sempat mengundang kontroversi karena dituduh melecehkan Presiden RI Joko Widodo.

Namun dari sekian sepak terjangnya, sebuah video pendek berisi rekaman pemukulan kepada dua remaja mengantarkannya ke jeruji besi. Bahar dituduh melakukan penganiayaan kepada anak di bawah umur.

Kolase foto Jerinx dan Bahar. Foto Tribunnews

Peristiwa itu pun menyulut beragam reaksi, tak terkecuali penggebuk drum grup band Superman Is Dead (SID) Jerinx alias Gede Ari Astina. Melalui akun twitternya @JRX_SID, Jerinx mengungkapkan keinginannya untuk berduel dengan Habib Bahar bin Smith.

“Saya paling suka diadu sama bully macam Bahar ini. Silakan atur. Jawa Bali Sumatra di mana saja saya siap,” tulis Jerinx di akun Twitternya yang diunggah pada hari Kamis 20 Desember 2018.

Tantangan duel itu tak main-main. Jerinx menantang siapapun yang kalah dalam duel tersebut untuk pergi dari Indonesia. “Yang kalah minggat dari Indonesia,” tulisnya seraya memastikan tantangan ini tak ada kaitannya dengan pilpres 2019.

Lepas dari tantangan Jerinx dan kontroversi video tersebut, adu kanuragan seperti yang dipertontonkan Bahar bin Smith dalam videonya bukanlah hal asing di lingkungan Pondok Pesantren tsalaf di Kediri. Bahkan para santri di kawasan mataraman memiliki tradisi adu jotos di panggung terbuka bernama Pencak Dor.

Aksi pesilat di laga Pencak Dor

Tendangan lutut yang dilesakkan Bahar ke wajah seorang remaja bukanlah apa-apa di laga Pencak Dor. Tak hanya tendangan, adu jotos hingga bantingan mewarnai ajang Pencak Dor yang digandrungi para santri di Kediri.

Pondok Pesantren Lirboyo Kediri bahkan memasukkan bela diri sebagai salah satu kegiatan ekstra kurikuler santri sehari-hari. Tak hanya belajar agama dan pengetahuan umum, santri di pondok ini juga menerima ilmu kanuragan yakni pencak silat.

Namun satu hal prinsip yang membedakan pendidikan silat di Lirboyo dengan aksi Bahar bin Smith adalah alasan memukul. Jika menurut polisi tindakan Bahar dikategorikan penganiayaan, atau menurut Jerinx sebagai aksi bullying, hal itu tak terjadi di Lirboyo. Ajang pencak dor jauh lebih terhormat dimana aksi baku pukul dilakukan secara seimbang dan saling menyerang. Tidak sepihak seperti yang dilakukan Bahar kepada lawannya.

Prinsip di atas lawan di bawah kawan dipegang teguh para pesilat saat bertanding di atas panggung Pencak Dor. Tak ada dendam yang melatarbelakangi mereka untuk saling melepas pukulan. Semua dilakukan dengan gembira. Semua rasa sakit hilang seketika ketika bertemu dalam satu ruangan untuk menyantap nasi gule bersama-sama. (*)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.