READING

Habibie, Presiden Penyuka Tembang Sepasang Mata Bo...

Habibie, Presiden Penyuka Tembang Sepasang Mata Bola Yang Belum Pernah Ke Blitar

Rabu petang (11/9), tepat pukul 18.05 WIB, Bacharuddin Jusuf Habibie tutup usia. Eyang Rudy kembali berkumpul bersama Hasri Ainun Besari, istri, kekasih, sekaligus ibu dari dua anaknya yang lebih dulu berpulang kepadaNya.

Di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto Jakarta, Thareq Kemal Habibie, putra BJ Habibie, mengatakan ayahnya meninggal dunia karena fungsi jantungnya telah menyerah.

Thareq terlihat tegar. Disela berketerangan di depan awak media, putra kedua Habibie tetap berusaha membagi senyumnya. Tidak terlihat air mata yang jatuh, isak tangis, maupun sedu sedan. Kabar sungkawa itu disampaikannya dengan gestur ragawi yang tenang. Namun kendati demikian gurat kesedihan mendalam tetap sulit dia sembunyikan sepenuhnya. 

“Ayah saya BJ Habibie telah meninggal dunia. Karena sudah menua. Kemarin seperti yang saya katakan, gagal jantung. Organ melemah. Tepat pukul 18.05, jantungnya menyerah, “kata Thareq Kemal memberikan keterangan kepada wartawan.

Sejak muda, jantung Presiden Ketiga RI itu memang bermasalah. Seiring bertambahnya usia, fungsinya kian melemah. Pada tahun 2014, Habibie pernah dilarikan ke RS RSPAD Gatot Subroto yang diduga disebabkan kelelahan.

Pada tahun 2016, tekhnokrat yang menahkodai republik di awal masa transisi (orde baru ke orde reformasi) itu kembali dirawat di RS yang sama. Habibie didiagnosa mengalami infeksi bakteri. Tahun 2018 kembali jatuh sakit.

Diduga juga karena kelelahan serta adanya klep jantung yang bocor Habibie dilarikan ke Jerman. Sebelum dinyatakan tutup usia Rabu petang (11/9), kesehatan Eyang Rudy ngedrop sejak Minggu (1/9/).

Di ruang Cerebro Intensive Care Unit (CICU) Paviliun Kartika, Habibie ditangani 44 dokter tim dokter kepresidenan. Ahli medis yang bekerja keras ini merupakan para dokter spesialis yang terdiri dari berbagai bidang keahlian, meliputi jantung, penyakit dalam, dan ginjal.

Disaat berlangsungnya masa penyembuhan, sempat beredar kabar hoaks, sang negarawan telah berpulang, yang langsung disanggah. Namun Rabu (11/9) petang itu, kabar duka kali ini memang benar adanya. Habibie wafat di usia 83 tahun, meninggalkan dua putra, Ilham Akbar dan Thareq Kemal.

Dari RSPAD, jenazah dibawa ke rumah duka di Jalan Patra Kuningan XIII, No 1 Jakarta Selatan. Rencananya jenazah Habibie akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, bersanding dengan makam Ainun, istri yang mendahuluinya berpulang tahun 2010 lalu.   

Lelaki Bertimbun Prestasi

Lahir 25 Juni 1936 di Parepare, Sulawesi Selatan, BJ Habibie dikenang sebagai orang pertama diluar Jerman yang lulus pertama kali setelah Perang Dunia II. Skripsi yang dia rampungkan dengan baik itu mendedah soal aeronautika.

Selain berotak encer, sejak kecil putra keempat A.D. Habibie, mantan Kepala Jawatan Pertanian Sulawesi Selatan itu, memang dikenal berkemauan keras. Terutama soal pendidikan.

Dikutip dari “Apa & Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1985-1986”, di depan jenazah suaminya, dalam keadaan mengandung, ibu Habibie yang asal Jogjakarta, bersumpah, akan mengantarkan anak anaknya ke jalur pendidikan sampai rampung.

A.D Habibie meninggal dunia disaat Habibie masih berusia 13 tahun. “Sedang hamil delapan bulan, ibu bersumpah disisi jenazah ayah, bagaimanapun akan menyekolahkan anak anaknya, “kata BJ Habibie.   

Atas anjuran ibunya, sejak SMP Habibie hijrah dari Sulawesi  ke Bandung, Jawa Barat. Selama itu Habibie hidup mandiri, dimana ibunya baru menemani setelah dirinya duduk di bangku kelas dua SMA.      

Melihat bagaimana kerasnya ikhtiar  sang ibu membanting tulang sebagai pedagang serta penyewakan pemondokan untuk mahasiswa, Habibie berjanji akan bersekolah cepat. “Ini membulatkan tekad saya untuk selalu lulus setiap tahun, “katanya.  

Lulus SMA Habibie diterima masuk di Institute Tekhnologi Bandung (ITB), kampus dimana Presiden pertama RI Soekarno juga pernah belajar. Baru setahun menimba ilmu, Habibie mendapat beasiswa  belajar ke Jerman Barat.

Pada usia 21 tahun, gelar insinyur mesin dan konstruksi pesawat terbang telah tersemat di depan namanya. Dengan biaya yang dirogoh dari koceknya sendiri, Habibie kembali melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih atas.

Kepandaiannya menghitung crack propagation on random hingga ke detil atom, membuatnya dijuluki “Mr. Crack”. Pada tahun 1965, desertasinya yang berjudul Hypersonic Genetic Heatic Thermoelasticity in Hypersonic spreed mengantarkannya meraih gelar doktor.

“Atas biaya sendiri, saya meraih gelar doktor, “kata Habibie seperti yang dikutip dari “Apa & Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1985-1986”. Di Jerman Habibie bekerja di Technische Hocheschedule (TH) Achen. Jabatan sebagai asisten riset dia tekuni selama lima tahun (1960-1965).

Selama tiga tahun (1966-1969) menjabat Kepala Departemen Riset dan Pengembangan Analisa Struktur di Hamburg, Jerman Barat. Kemudian menjadi Kepala Divisi Metode dan Tekhnologi Pesawat Komersial/Militer di Messerschmitt Boelkow Blohm Gmbh, Hamburg Jerman (1969-1973), dan Wakil Presiden/Direktur Tekhnologi MBB Hamburg pada 1974-1978.         

Pemikirannya menghasilkan desain deep sea atau kapal selam dalam, gerbong kereta api, ruangan bersuhu dan bertekanan tinggi dari bagian reaktor atom untuk Atom  Center Julich.

Tidak berlebihan jika Harian Sinar Harapan saat itu menyebutnya “Lambang abad ke -21”. Disisi lain Habibie juga dikenal sebagai muslim yang taat. Pada tahun 1984, bersama istri tercinta dan dua anaknya, Habibie pergi menunaikan ibadah haji .

Sebagai manusia yang rasional, Habibie memberi tempat yang sangat penting untuk agama. Sampai sampai Christian Science Monitor, majalah di negeri Paman Sam menjulukinya “Lambang Progresivitas Islam”.  

“Orang sekarang mungkin melihat karier saya tinggi. Mereka lupa, saya mulai merangkak dari bawah, “tutur Habibie yang menyukai olahraga renang dan menyenandungkan lagu Sepasang Mata Bola.

Dalam wawancara di stasiun televisi mengenang Habibie semasa hidupnya Rabu malam (11/9), Indroyono Soesilo, Deputi Kepala BPPT periode 1996-1999, mengaku tidak bisa melupakan pesan yang pernah diucapkan tokoh bangsa itu kepadanya.

“Anda kalau kerja harus fokus. Target harus tercapai, “katanya menirukan apa yang pernah disampaikan BJ Habibie. Selepas lengser dari jabatan Presiden RI ketiga, Eyang Rudy lebih banyak berada di belakang layar.

Terutama di jalur ilmu pengetahuan dan tekhnologi, mendorong sekaligus memberi petuah, nasihat kepada kaum muda. Menurut Indroyono memang itu yang dimauinya. “Karena anda ilmuwan, anda boleh salah. Tapi jangan pernah berbohong”. Satu dari banyaknya pesan Habibie yang juga terus diingat Indroyono.

Pelapang Jalan Demokrasi

“Seingat saya, Pak Habibie selama menjadi presiden belum pernah berkunjung ke Blitar, “tutur Eko salah satu mantan reporter yang pernah bekerja di era rejim orde baru hingga pertengahan orde reformasi.

Selain tempat peristirahatan terakhir Proklamator RI Soekarno, Blitar yang di otak atik gathuk kepanjangan dari Bhumi Laya Ika Tantra Adi Raja atau tempat pusara raja raja agung nusantara, menjadi salah satu tempat penting yang dikunjungi para elit politik Jakarta, umumnya Indonesia.

Setiap ada mometum politik nasional, selalu ada tokoh yang menyempatkan melawat ke Blitar. Paska era pemerintahan Bung Karno dan Pak Harto, Habibie bisa jadi satu satunya Presiden Indonesia yang belum pernah melawat ke Blitar.

Selain Pacitan sebagai tanah kelahiran, Presiden RI ke 6, Susilo Bambang Yudhoyono cukup sering ke Blitar. Saat memutuskan maju sebagai capres di Pilpres 2004, SBY menyempatkan berkunjung ke Blitar.

Begitu juga jelang pelantikan (Presiden), pendiri Partai Demokrat itu juga kembali bertandang ke Blitar. Saat itu mendiang ibunda SBY, yakni Hj Habibah Soekotjo masih bertempat tinggal di Jalan Bali Kota Blitar. Bumi Proklamator seolah menjadi rumah kedua bagi keluarga SBY.  

Begitu juga dengan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), juga lebih dari sekali bertandang ke Blitar. Namun sebelum menjadi Presiden, lawatan Gus Dur ke Blitar, terutama untuk bersilaturahmi dengan warga nahdliyin, tidak terhitung kali.

Presiden Kelima RI Megawati Soekarnoputri berkunjung ke Blitar pada saat meresmikan proyek nasional Jalur Lintas Selatan (JLS). Mirip dengan Gus Dur. Sebelum atau sesudah lengser dari presiden, intensitas Mega ke Blitar tidak terhitung kali  jumlahnya. Tentu ini sedikit berbeda, karena Ketua Umum PDI Perjuangan itu merupakan putri kandung Bung Karno.   

Setelah memutuskan maju di Pilpres 2014, di malam harinya Joko Widodo langsung berziarah ke makam Bung Karno di Blitar.  Dari Blitar Jokowi langsung bertolak ke Trenggalek. Presiden Jokowi juga lumayan sering bertandang ke Blitar.

Menurut Eko, mungkin karena masa jabatan Presiden Habibie paling pendek, yakni masa peralihan dan negara masih dalam keadaan carut marut,  bertandang ke Blitar belum sempat dia lakukan. “Masa jabatan Presiden Habibie paling singkat dibanding Presiden RI yang lain, “kata Eko.

BJ Habibie dilantik sebagai Presiden RI Ke-3 pada 21 Mei 1998  menggantikan Presiden Suharto, yang dipaksa turun oleh gerakan Civil Society yang diback up sejumlah faksi militer.

Sebelum masuk ke pusaran politik,  Habibie dikenal sebagai seorang tekhnokrat murni. Di dunia ilmu pengetahuan orang mengenal Teori Habibie, Faktor Habibie dan Fungsi Habibie. Aktivitasnya memang lebih banyak berada pada jalur ilmu pengetahuan.

Dengan mengutus Ibnu Sutowo, tangan kanannya dalam urusan perminyakan, Soeharto meminta Habibie yang tinggal di Jerman, untuk pulang ke tanah air. Demi negeri yang begitu dicintainya, Habibie memutuskan pulang. Pada tahun 1974, setiba di tanah air Habibie langsung diangkat menjadi Dirut Pertamina.

Jabatan itu dipercayakan hingga tahun 1978. Selain menjabat Dirut PT Nurtanio, Bandung dan Dirut PT PAL, diakhir jabatannya di PT Pertamina (1978) oleh Suharto, Habibie diangkat menjadi Menteri Negara Riset dan Tekhnologi.

Diluar itu dia juga mengemban jabatan Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Tekhnologi, Ketua Dewan Pembina dan Pengelola Industri Strategis Hankam dan Ketua Otorita Pulau Batam.

Untuk meredam kemelut politik di lingkaran Soeharto, Habibie lantas  diangkat menjadi Wakil Presiden menggantikan Try Sutrisno. Setelah Soeharto tumbang,  BJ Habibie menggantikan Soeharto dengan masa pemerintahan mulai 21 Mei 1998 hingga 20 Oktober 1999.

Di masa pemerintahan transisi itu negara (Indonesia) masih dalam kondisi kacau. Naiknya Habibie tidak memuaskan seluruh kekuatan rakyat. Kabinet yang dibentuk Habibie di awal pemerintahan bahkan menuai kemarahan para reformis, terutama kalangan mahasiswa yang tidak putus berunjuk rasa.

Dikutip dari “Biografi Gus Dur”,  sebanyak 21 menteri Habibie merupakan bekas menteri era Soeharto. Kemudian 15 menteri baru yang diangkat kebanyakan pengikut setia Habibie di ICMI. “Jadi, kabinet ini  bukanlah reformasi yang sebenarnya, “tulis Greg Barton.

Meski saat itu banyak yang pesimis pembaharuan akan terjadi, Habibie terbukti mampu memperlihatkan serangkaian terobosan reformasi yang bagus. Sejak awal pemerintahannya, Habibie membuka kran kebebasan Pers yang lebih besar dibanding rezim sebelumnya.

UU Pers No 40 Tahun 1999 dibuat. Meskipun masih banyak anggapan kebebasan itu belum lengkap dan masih sering dimanipulasi, namun kehidupan Pers tanah air lebih baik dibanding era orba. Larangan pendirian serikat buruh independen yang berlaku era rezim Soeharto juga dicabutnya.

Sejumlah tahanan politik yang beroposisi dengan Soeharto, seperti Sri Bintang Pamungkas, Budiman Sudjatmiko dan Muchtar Pakpahan dibebaskan.  Kendati demikian situasi politik tanah air belum sepenuhnya stabil.

Yang membuat sedikit lega Presiden Habibie, Gus Dur dan Megawati yang menjadi motor civil society, tidak pernah menyerukan dirinya untuk mengundurkan diri.Gus Dur dan Mega memilih jalan moderat dan bertahap. Keduanya hanya terfokus digelarnya Pemilu tahun 1999 dan Pemilu memang benar benar digelar dengan damai.

“Selama Habibie terus melangkah maju untuk melaksanakan Pemilu 1999 yang adil dan bebas, dia harus diberikan kesempatan untuk memenuhi mandatnya sebagai presiden peralihan, “tulis Greg Barton dalam “Biografi Gus Dur”.       

Satu hal yang mengejutkan Gus Dur adalah saat Habibie pada 27 Januari 1999 membuat pengumuman berkomitmen menawarkan “otonomi yang diperluas” kepada Timor Timur (Timtim) dan akan mengadakan refrendum mengenai pilihan yang dapat dilakukan orang Timtim.         

Keputusan itu diambil Habibie sebagai bentuk kejengkelannya atas surat yang dikirimkan PM Konservatif John Howard dan Menlu Alexander Downer. Namun disisi lain Habibie memang ingin masalah Timtim bisa selesai sebelum akhir tahun (1999). Gus Dur menganggap keputusan politik yang diambil terburu buru dan gegabah.

Terlepas dari polemik yang ada, BJ Habibie merupakan seorang negarawan dan salah satu tokoh besar yang pernah dimiliki Bangsa Indonesia. Rabu (11/9) petang, penyakit jantung telah merenggutnya.  Atas kabar duka itu Pemerintah Indonesia secara resmi menyatakan perkabungan nasional.

Selama tiga hari seluruh instansi pemerintahan dan masyarakat untuk mengibarkan bendera setengah tiang. Ketua Dewan Pertimbanga MUI Din Syamsuddin, yang pernah menjadi kolega Habibie di ICMI menyerukan seluruh umat Islam untuk melakukan salat gaib. Salat dilaksanakan mulai meninggalnya Habibie hingga hari Jumat (14/9) besok.

“Di masjid masjid, mushola dan lainnya kami menyerukan untuk kepada umat Islam untuk melakukan salat gaib. Kita menyatakan bela sungkawa sedalam dalamnya, “ujarnya. (Mas Garendi)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.