READING

Habis Al Quriyah Terbitlah Children Brothers (1)

Habis Al Quriyah Terbitlah Children Brothers (1)

SEMUA itu berawal dari orkes gambus. Musik yang dalam historisnya diusung para imigran kawasan Hadramaut (Yaman) itu telah memikat hati Abdul Syukur Subagiyo. Bisa jadi jatuh cinta Syukur pada genre gambus dipengaruhi kebesaran nama Syech Albar (ayah kandung rocker Ahmad Albar), yang era itu sangat populer dengan orkes Gambus Al Wathonnya (berdiri tahun 1937) di Surabaya.

Gaung orkes gambus merambah kemana mana, mengikuti jejak kemonceran orkes Harmonium, yang  kelak dari kedua orkes pendahulu itu (orkes harmonium dan orkes gambus), menyusul orkes Melayu. Lagipula Kediri dan Surabaya secara geografis juga tidak terpaut jauh.

Gambus sendiri merupakan nama alat musik petik berleher panjang tanpa papan nada. Dengan memadukan instrumen nada  gambus, harmonium, biola, suling, bas betot (bas berdiri, string bas), rebana dan tamborin, Syukur mendirikan orkes Gambus Al Quriyah. Tidak hanya sebagai pemilik, Syukur juga menjadi personil sekaligus manajer.

Sepengetahuan Davit Johar Arifin (45), cucu Abdul Syukur, orkes gambus Al Quriyah berdiri tahun 1972. Karena pengaruh dendang Melayu, lagu “Belas Kasih”, “Harapan Hampa”, “Renungkanlah” dan lagu karya orkes melayu Mashabi lain, kerap dinyanyikan saat Al Quriyah manggung.

Tidak jarang juga memainkan lagu lagu Arab (El Iftitah Marsch, Lativil Roeh, Ellama, Waslel Habib, Sadjija Altart) dan Zakhratoel Hoesoen yang merupakan lagu hit orkes gambus Al Wathon Syech Albar.

Terkadang dalam satu garapan juga memainkan musik dansa asal Kuba, yakni terutama Rumba dengan orkestral Timur Tengah.

Singkatnya Al Quriyah merupakan orkes gambus melayu berirama bebas mirip taqasim (pengantar instrumental improvisasi). “Saat Al Quriyah berdiri, saat itu belum trend band, “tutur Davit kepada Jatimplus.

Bisa dikatakan sebagai pelopor orkes gambus di Kediri, Al Quriyah banjir tanggapan, yakni terutama pada musim pesta pesta pernikahan dan perayaan hari besar.

Menurut Siti Chususiyah (64), ibu Davit, para pemain musik gambus Al Quriyah lebih banyak diisi tetangga dekat. Beberapa diantaranya juga kerabat. Sebagai anak terbesar dari tujuh bersaudara pasangan suami istri Abdul Syukur dan Sri Sutarsih, Chususiyah kerap menonton saat para personil musik itu latihan

Kelak, salah satu personil Al Quriyah yang bernama Muhammad Wahib menjadi suaminya. Selain pemain musik, Wahib yang juga ayah David itu dipercaya Syukur  yang kemudian menjadi mertuanya, membantu tugas manajer. “Suami saya juga bagian personil Al Quriyah. Istilahnya peknggo (dipek tonggo), “tuturnya sembari tertawa.

Seiring perjalanan waktu dimana anak anaknya semakin tumbuh besar, Abdul Syukur terbit gagasan membentuk grup musik beranggotakan keluarga sendiri. Khususnya anak anak laki lakinya. Pada tahun 1975 berdirilah grup musik Children Brothers (CB).

Tidak heran, pada awal berdiri, personil CB Band sepenuhnya diisi anak laki laki Abdul Syukur. Menurut Chususiyah, saat berdirinya CB Band, adik adiknya rata rata  masih berusia SMP.  Ketrampilan bermusik dimentori sendiri oleh ayahnya, yang memang jago musik dimana tidak ada satupun alat musik yang tak bisa dimainkan.

Selain mewariskan bakat bermusik, pendirian CB band kata Chususiyah untuk membentengi pengaruh negatif yang lagi tren saat itu. Di Kota Kediri tidak sedikit anak anak muda, yakni terutama laki laki yang hanyut oleh pengaruh premanisme.

Era budaya cross boy, dimana ekspresi bocah laki laki kerap diperlihatkan sebagai jagoan yang berbaku hantam dijalanan. Bahkan tidak jarang merasa gagah setelah berani memalak orang di jalanan.

“Daripada anak anaknya terpengaruh hal hal negatif itu, ayah saya kemudian membuatkan grup band musik (CB), “terangnya.

Selain sebagai pelatih (mentor), di CB Band, Abdul Syukur juga  menjadi manajer. Setiap job job manggung di hajat pernikahan atau sunatan, harus melalui dirinya. Tidak hanya sekedar mewadahi hobi bermusik.

CB band juga dikelola profesional. Dengan kesibukan baru itu, Syukur yang juga pengusaha rental sound system, mencurahkan seluruh waktu dan pikirannya untuk CB band.

Sebagai grup musik berhaluan rock atau slow rock, CB Band tidak hanya dikenal di kawasan eks Karsidenan Kediri dan sekitarnya. Beberapa kali CB juga manggung di Surabaya dan sekitarnya, yakni terutama ketika Atiek Prasetyawati yang kemudian dikenal Atiek CB menjadi vokalisnya.

Kelak CB band generasi pertama itu berganti nama CB Veteran. Perubahan nama itu seiring lahirnya CB Yunior yang digawangi Davit Johar Arifin beserta cucu cucu Abdul Syukur lainnya.

CB band generasi kedua itu menghantarkan Davit (dikenal Davit CB) sebagai the best gitaris dalam Festival Rock Log Zhelebour ke VII.

Di festival band rock paling prestisius itu CB band berada di rangking 9, yakni diatas band Boomerang yang saat itu masih bernama Lost Angels. (*)

Baca selanjutnya :Band Pasar Pahing Yang Melegenda

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.