READING

Hadi Apriliawan, Penemu Pasteurisasi Listrik Jadik...

Hadi Apriliawan, Penemu Pasteurisasi Listrik Jadikan Susu Segar Tak Basi 7 Bulan

Andai penelitian mahasiswa adalah solusi permasalahan di kehidupan sehari-hari, maka ada ribuan inovasi tiap semester yang akan membawa negeri ini melesat ke arah kemajuan.

MALANG-Hadi Apriliawan, peraih Satu Indonesia Awards 2015 bidang Inovasi Teknologi merupakan salah satu mahasiswa dari ribuan mahasiswa di Indonesia yang memecahkan masalah keseharian petani susu dengan penelitian tugas akhirnya. Sulis atau susu listrik, temuan Hadi menjadi solusi praktis para petani susu untuk mengawetkan susu tanpa merusak kandungan protein dan vitamin.

Kini, alat yang lahir dari kampus ini sudah tersebar di sentra peternak susu di seluruh Indonesia dan manca negara. Tentu, perjalanan alat ini tak singkat hingga menuai kekokohannya di PT. Maxzer Solusi Steril, perusahaan alat-alat pertanian yang dirintis Hadi sejak 2007.

“Orang tua saya berpesan pada saya untuk bisa menemukan alat yang bisa mengawetkan susu,” kata Hadi kepada Jatimplus.id, 27/12/2019 di PT. Maxzer Solusi Steril, Blimbing, Malang, Jawa Timur. Berkali-kali ia meminta maaf karena harus menjawab telepon. Sebuah proyek berkaitan dengan mesin-mesin pertanian di luar Jawa yang sedang dikerjakannya. Perusahaannya berkembang pesat kini. Semua itu berawal dari upaya menemukan solusi pada ketakberdayaan peternak sapi perah.

Hadi lahir di lereng Gunung Raung, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Hampir semua keluarga besarnya peternak sapi perah. Hadi mengingat susahnya menjadi peternak sapi perah ketika susu yang dihasilkan hanya bertahan beberapa jam.

“Pagi diperah, sorenya sudah rusak,” kenang Hadi. Mau tak mau, peternak harus segera menjual hasil perahannya ke KUD atau perusahaan besar dengan harga Rp. 4.000.- hingga Rp 5.000,-/liter. Pembayarannya tak langsung, menunggu minimal seminggu setelah setor susu. Menurut Hadi, penghasilannya hanya cukup untuk biaya pakan saja, itu pun kadang masih kurang. Sebagai anak peternak sapi perah dan guru honorer, untuk kuliah pun berat. Hanya tekat bulat untuk memutus rantai kemiskinan peternak yang membuat Hadi kukuh untuk kuliah.

 “Saya coba kirim formulir pendaftaran ke Unibraw dan diterima. Tapi setelah itu bingung, bagaimana biayanya,” kisahnya. Kebulatan tekat untuk bisa menemukan teknologi yang membantu orang tuanya dan peternak lain memberi kekuatannya untuk menyelesaikan kuliahnya. Ia pernah tidur berpindah-pindah tempat ketika belum punya biaya untuk kos, termasuk tidur di masjid selama 6 bulan.

Bengkel kerja PT. Maxzer Solusi Steril yang memproduksi Sulis dan alat-alat pertanian lainnya di Blimbing, Malang, Jawa Timur.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Perjalanan Susu Listrik

Ia berkisah, persinggungannya dengan mesin-mesin pertanian ketika ia tak punya tempat bernaung, maka bengkel Mekatronika Universitas Brawijaya yang menjadi tujuannya setiap pulang kuliah. Ia rajin ke bengkel tersebut. Ia rajin konsultasi dengan dosen-dosennya tentang berbagai hal, termasuk bagaimana menemukan alat yang bisa mengawetkan susu.

“Saya baca-baca di internet, orang Jepang suka makan sushi. Agar awet, daging mentah diperlakukan dengan pasteurisasi hingga awet,” terang alumni Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang lulus tahun 2011. Teknik pasteurisasi menggunakan kejut listrik tegangan tinggi. Ia berpikir, jika daging bisa maka susu pun bisa sebab sama-sama konduktor.

Ide tersebut dikonsultasikan dengan dosennya, namun dosennya menyanggah dengan hipotesa bahwa pasteurisasi dengan listrik bukan mengurangi bakteri tapi justru akan melipatgandakan.

“Benar juga. Setelah saya coba, jumlah bakterinya malah jadi dua kali lipat,” katanya. Hanya, ia tak putus asa. Ia pelajari lebih lanjut dan lebih detail.

Prinsip dari pasteurisasi adalah menurunkan TPC (Total Plate Count) atau jumlah total bakteri yang merugikan pada susu. Biasanya dengan dipanaskan pada suhu 70-80 derajad Celcius. Pada suhu ini, TPC rendah namun protein dan vitamin yang terkandung dalam susu menjadi rusak.

Sistem pasteurisasi dengan plasma kejut tegangan tinggi akan membunuh bakteri jahat dengan cara merusak sel-sel bakteri hingga mati tanpa merusak protein dan vitamin susu. Sel bakteri akan mengembang dan pecah pada tegangan tegangan dan daya tertentu.

“Akhirnya saya pun konsultasi dengan anak-anak elektro sebab kemampuan ini di luar kemampuan saya. Dengan konsepnya dari saya,” tambahnya. Dari percobaan panjang sejak 2007, akhirnya purwarupa alat pasteurisasi plasma kejut listrik yang dinamai LE (Latte Electricity), kemudian dikenal sebagai Sulis (susu listrik) pun selesai sekaligus sebagai tugas akhirnya.

Sulis menempuh perjalanan panjang sebelum bisa digunakan oleh peternak. Sebagai purwarupa, kapasistas Sulis baru 5lt susu. Untuk menyempurnakan, Hadi memasukkan berbagai proposal dan beberapa diterima. Mulai dari PKM (Program Kreatif Mahasiswa), Intensive Student Techno Entrepreneurship, dan lain-lain. Fokusnya tetap menyempurnakan Sulis. Tak hanya itu, juga mekanisme bisnis pun dipelajari.

Sampai akhirnya, Sulis meningkatkan kapasistasnya menjadi 10liter dengan waktu pasteurisasi 30menit-40menit. Meningkat hingga 20 liter bahkan bisa sampai 1,2ton dengan tegangan 50kV-100kV.

Dibandingkan dengan pasteurisasi termal (pemanasan), pasterurisasi listrik lebih hemat kalori, hanya membutuhkan 200 kalori sedangkan dengan termal hingga 3.000 kalori dengan masa simpah maksimal 7 hari susu freezer.

“Pada awalnya, kami kasih ke para peternak untuk mencobanya. Setelah diuji lab, hasilnya bagus, bakteri jahatnya turun. Susu bisa awet hingga 3 bulan pada suhu freezer,” kata Hadi. Testimoni dan publikasi dari mulut ke mulut para peternak ini menjadikan permintaan Sulis meningkat. Akhirnya, Sulis dijual dengan harga mulai Rp. 12,5 juta/unit hingga Rp 150 juta/unit untuk skala industri.

Ditipu Sampai Habis

Bermula dari Sulis, Hadi meniti karir sebagai pengusaha sementara orang tuanya ingin Hadi menjadi pegawai saja. Perlu upaya untuk meyakinkan orang tuanya dimulai dengan sebuah untuk mendapatkan modal, ia mendirikan CV. Inovasi Anak Negeri.

“Saya tidak punya apa-apa. Bengkel belum ada, fasilitas belum ada, bahkan link juga belum ada,” kata Hadi. CV itu didirikan lantaran ini ingin mendapatkan proyek yang dikucurkan pemerintah untuk para usahawan muda. Learning by doing, itulah yang dilakukan hingga akhirnya ia memahami administrasi mendirikan dan menjalankan perusahaan. Proses yang dilalui dengan penuh kesabaran dan fokus.

“Pada 5 tahun pertama itu, saya bisa membeli rumah dan meyakinkan pada orang tua bahwa dengan wirausaha bisa mendapatkan hasil yang lebih banyak,” kata Hadi. Lima tahun pertama yang sukses tapi sekaligus habis-habisan hingga ia jatuh.

Bermula dari sebuah tawaran dari investor untuk membangun pabrik seluas 2.000 meter persegi. Tanah milik calon rekanan, Hadi membangun bangunan di atasnya. Ia berharap bisa mengembangkan usahanya. Namun, nasib tak berpihak pada Hadi. Setelah habis ratusan juta rupiah, pabrik itu tak ada kejelasan lebih lanjut sampai akhirnya Hadi mengikhlaskan.

“Semua modal yang saya kumpulkan selama 5 tahun, habis. Lalu saya pulang ke Banyuwangi,” kenangnya.

Beragam pernghargaan yang diperoleh Hadi, mulai dari ISO 9001 hingga Satu Indonesia Award 2015.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Sementara itu, peternak sudah mendapatkan manfaat dari temuan Hadi yang kini sudah dipatenkan. Bagaimanapun jatuhnya, Hadi tetap fokus untuk terus mengembangkan Sulis. Usai kebangkrutan itu, perlahan ia bangkit kembali. Mencari investor dan juga mitra hingga PT. Maxzer Solusi Steril berkembang. Kini usahanya tak hanya Sulis, tapi juga paket lengkap mulai yoghurt, keju, sabun susu, dan lain-lain, semua hasil pengolahan susu.

PT. Maxzer Solusi Steril memiliki bengkel alat-alat lengkap hingga fasilitas uji laboratorium untuk susu, tak hanya melayani peternak, UKM, tapi juga perusahaan yang ingin uji laboratorium. Bengkel ini bisa memproduksi 5-10 unit/minggu dengan total karyawan hingga 150 orang sedangkan khusus menangani Sulis sebanyak 20 orang.

Quality control dari Sulis merupakan fokus utama Hadi. Ia menyediakan garansi selama 1 tahun dan service seumur hidup. Selain itu, ia juga mengadakan pelatihan paket lengkap mulai dari pasteurisasi hingga pembuatan produk turunannya (keju, yoghurt, sabun, susu segar siap minum) selama 1-2 hari. Layanan ini diharapkan bisa meningkatkan pendapatan para peternak sapi perah.

Beberapa peternak yang sebelumnya bergantung pada perusahaan besar, kini bisa menjual ke konsumen berupa susu pasterurisasi dalam kemasan. Hal-hal seperti ini yang menjadikan Hadi bangga dengan temuannya.

“Kuncinya fokus pada apa yang dikerjakan. Fokus sampai “menemukan” yang terbaik, jangan ganti-ganti karena tergiur yang lebih enak,” sarannya bagi yang ingin memulai usaha. Kini, Sulis tak hanya merambah di sentra-sentra peternak susu di Indonesia, tapi juga sudah sampai Malaysia, Arab, dan Amerika. Sulis tak hanya untuk pasteurisasi susu tapi juga minuman lain termasuk jus buah. Prestasi anak negeri yang membanggakan. Tak salah jika kemudian Astra memberikan penghargaan sebagai salah satu anak negeri yang berprestasi melalui Satu Indonesia Awards tahun 2015 #KitaSATUIndonesia #IndonesiaBicaraBaik (Titik Kartitiani).

Print Friendly, PDF & Email

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.