READING

“Hanya” Bikin Spatula dari Limbah Kayu, RV Wooden ...

“Hanya” Bikin Spatula dari Limbah Kayu, RV Wooden Craft and Jewelry Menembus Pasar Ekspor

MallUMKM – Ketika membayangkan bisnis kayu, yang terbayang adalah furnitur dan kayu-kayu besar. Ervina Edursyah dan Rasyid, suami istri asal Mrican, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri justru memanfaatkan kayu-kayu kecil dan potongan limbah kayu untuk dibikin perhiasan dan peralatan rumah tangga. Dari saja, omzet-nya bisa milyaran.

Awalnya, Vina seorang karyawan di bank dan Rasyid bekerja di bidang kayu. Vina menyukai perhiasan khususnya yang bergaya etnik. Ia mulai membuat sendiri dengan teknik wire berbahan kawat tembaga untuk melilit batu-batu mulia.

Baca juga: Percales Kediri, Seni Memanfaatkan Kain Perca

Tahun 2014, ia melihat sisa pengolahan kayu berupa potongan-potongan kecil dan arstitik. Limbah itu ia kumpulkan dan dibikin liontin. Ternyata banyak yang suka.

“Saya bikin kalung yang murah meriah dengan style sporty. Banyak yang suka,” kata Vina. Dengan harga Rp 70.000,-, ratusan kalung dengan liontin limbah kayu itu laris manis. Sementara ia juga membuat dari batu yang spesial. Kadang-kadang hanya dibikin satu, sehingga eksklusif. Perhiasan seperti ini, dibandrol ratusan ribu rupiah.

Dari perhiasan, ia pun dibantu oleh Pemprov. Jatim dan Pemkot Kediri untuk pameran ke Jakarta. Dari sana pasarnya makin luas untuk perhiasan. Perhiasan Vina unggul dalam hal desain dan kerapiannya. Maka di workshop-nya di Mrican, banyak mahasiswa desain yang magang di sana untuk belajar.

Baca juga: Adia Indonesia, Tas Tenun Ikat Kediri Desain Modern dan Segar

Bisnisnya pun berkembang, tak hanya perhiasan. Suatu hari, Vina melihat kayu-kayu dari Perhutani dengan diameter 20 cm-an tidak dipakai sebab para pengusaha kayu mengolah kayu-kayu besar. Vina minta izin untuk memanfaatkannya.

Rasyid, pengalaman di bidang kayu membawanya berbisnis limbah kayu. Foto : Mall UMKM / Adhi Kusumo

“Saya bikin sothil atau spatula. Awalnya saya bikin sepengetahuan saya,” kenang Vina. Pada saat bikin spatula, beberapa temannya mencibir sebab terlalu remeh. Tapi Vina optimis dengan idenya. Ia memproduksi beberapa pieces untuk dijual ke pasar Jakarta.

Pada saat mengunjungi salah satu toko kerajinan di Jakarta. Seorang pembeli dari luar negeri tertarik membeli spatulanya. Hanya pembeli ini perfeksionis. Vina pikir, dengan desain yang mengilap akan disukai pembeli. Ternyata ia salah.

Baca juga: Kaos Kediri Gaplek, Pabrik Kata-Kata Kenangan Bikin Bisnis Anak Muda ini Berkembang

“Pembeli dari Jepang ini mengatakan, akan memesan banyak tapi harus diubah,” katanya. Vina menyanggupi meski tidak mudah. Semua proses membuat alat makan kalau mau ekspor harus food grade. Melamin pun tak diizinkan.

Dari sanalah ia berproses. Memperbaiki desain, mempelajari cara membuat hingga mengemas. Semua ada standar yang harus dipenuhi. Finishing-nya menggunakan pelapis organik yang food grade bahkan harus didatangkan dari Jepang.

“Kami pernah rugi karena mendapat pesanan banyak, ia anggap bisa memenuhi. Ternyata tidak. Maka harus bayar penalty ratusan juta. Yah, itu saya anggap ongkos kami belajar,” kenang Vina.

Baca juga: Jas Tailor H. Tauchid, Merawat Warisan dengan Gaya Manajemen Ala Milenial

Akhirnya, ia berhasil membuat sesuai kemauan pasar yang dituju, ia mendapat pesanan hingga 350.000 pieces spatula. Nilainya sekitar Rp 1,5 milyar. Sebuah pesanan yang tidak sedikit.

Mendapat pesanan ternyata bukan akhir, pekerjaan rumah selanjutnya bagaimana memenuhi. Maka ia pun menggandeng mitra untuk bersama-sama. Tidak bisa sendirian. (Titik Kartitiani)

Print Friendly, PDF & Email

Arief Priyono

Tukang minum kopi yang sering mengaku sebagai pekerja kreatif. Suka bikin event huru-hara dalam skala recehan.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.