READING

Hanya di Kediri Main Catur Sambil Belanja

Hanya di Kediri Main Catur Sambil Belanja

KEDIRI – Catur kerap disebut sebagai olah raga santai. Selain tak perlu memporsir tubuh, cabang olah raga ini juga bisa dilakukan di mana saja.

Tak heran jika olah raga ini kerap disebut sebagai permainan oleh masyarakat umum. Hanya bermodal meja atau bidang datar sebagai alas, olah raga ini bisa diikuti siapa saja tanpa batas usia dan ukuran tubuh.

Sejumlah referensi menyebut permainan catur berasal dari India sebelum abad ke-7. Permainan ini adalah modifikasi dari chaturanga yang telah populer di kalangan masyarakat India. Sedangkan aturan pergerakan buah catur seperti sekarang ini justru bermula dari Spanyol, dan dibuat pada abad ke-15. Peraturan catur yang baku akhirnya distandarisasi pada abad ke-19 dan berlaku hingga sekarang.

Seiring perkembangan jaman, permainan catur ditarik menjadi cabang olah raga dan menghasilkan atlit catur dunia. Adu strategi dalam memainkan bidak catur inilah yang menjadi definisi olah raga lantaran menguras kemampuan berpikir.

Untuk mengapresiasi atlit catur yang tumbuh di masyarakat, Pemerintah Kota Kediri mengundang mereka untuk berkompetisi. Namun berbeda dengan kompetisi catur lainnya, pertandingan catur kali ini digelar di tengah kemeriahan pesta rakyat. “Karena catur adalah olah raga yang menyatu dengan rakyat,” kata Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar, Sabtu 17 November 2018.

Baca juga: Tampil Ofensif Bajul Ijo Siap Ganyang Bali United

Lapangan Gajah Mada di Kecamatan Pesantren Kota Kediri dipilih menjadi tempat pelaksanaan event ini. Di dalam sebuah tenda yang berdampingan dengan stand bazar yang menjual produk kreatif rakyat, para atlit catur beradu otak.

Tak hanya dari Kediri, atlit catur ini juga datang dari berbagai kota. Mereka memperebutkan hadiah dan trophy dari Walikota Kediri selaku tuan rumah penyelenggaraan acara.

Lelah beradu strategi di atas papan catur, para peserta langsung dipuaskan oleh hiburan rakyat wayang kulit. Pagelaran seni tradisional ini digelar di tempat yang sama sebagai hiburan kepada masyarakat Kota Kediri, khususnya Kecamatan Pesantren.

Abdullah Abu Bakar mengatakan event seperti ini memiliki banyak keuntungan. Selain hiburan, roda perekonomian rakyat juga tumbuh. Terutama para pelaku ekonomi kecil menengah. Di bazar itu mereka bisa berdagang sebebas-bebasnya tanpa perlu berjuang mendatangkan konsumen. “Perputaran uang di bazar cukup tinggi,” katanya.

Konsep inilah yang oleh Pemerintah Kota Kediri disematkan sebagai The Service City. Kota yang siap melayani seluruh lapisan masyarakat. (Adv Humas & Protokol Pemkot Kediri)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.