READING

Hari Guru Nasional dan Ki Hadjar Yang Berjiwa Merd...

Hari Guru Nasional dan Ki Hadjar Yang Berjiwa Merdeka

PERINGATAN Hari Guru Nasional yang jatuh 25 November menjadi trending topik di dunia maya. Mulai H-1 sampai H+1, Hashtag atau Tagar (Tanda Pagar) “Hari Guru Nasional” tidak juga bergeser posisi.

Hashtag masih bertengger di puncak, mengungguli Hashtag “RRI LiveMusic PKY”, “Buka Lapak” maupun “Pesona Pasar Rakyat Korpri”.

Cuitan di twitter kurang lebih mencapai 17,9 ribu. Belum lagi yang menggerombol di Hashtag Guruku Tersayang. Belum terhitung juga status satu paragraf (kadang ada yang lebih) di facebook, meme yang berkeliaran di instagram, termasuk saling mengucap salam yang beredar antar grup WA.

Meskipun tidak banyak, ada juga yang mengunggah artikel soal guru. Cerita nostalgia pernah dipintarkan guru. Mendaku dicerdaskan guru. Berterima kasih pada guru. Misalnya mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD berkisah soal perkataan guru SDnya yang menjadi kenyataan.

Artinya, selain berjasa besar, jumlah massa guru itu juga luar biasa. Massa guru yang berkecenderungan solid, dan bukan floating mass tidak bisa dipandang sebelah mata.

Namun, ditengah gegap gempita itu, para guru sepertinya lupa kalau kurang lebih 1,07 juta guru honorer (K2 dan non K2) di Indonesia belum diangkat menjadi aparatur sipil negara (ASN).

Para guru honorer yang nasibnya masih terkatung. Yang beberapa bulan lalu serentak turun ke jalan, berunjuk rasa, berurai air mata,  menuntut persamaan status (ASN) tanpa dikenai syarat ujian.

Lupa jika setiap bulan mereka hanya menerima ongkos (karena tidak layak disebut gaji) yang cukup untuk perjalanan pulang pergi mengajar plus satu kali sarapan.

Mereka juga lupa  kalau jenjang usia mereka sudah memasuki masa purna, anak anak semakin besar, sementara tempat tinggal masih berstatus menyewa.  Kegembiraan massif memang seringkali berhasil menutupi nestapa masa lalu.

Di dunia nyata para guru berstatus ASN cukup merayakan Hari Guru Nasional  dengan menggelar upacara di sekolah masing masing. Guru SD/MI, guru SMP/Mts, maupun guru SMA/MA. Karena tanggal 25 November jatuh tepat di hari ahad, beberapa sekolah melangsungkan upacara di hari sebelum atau sesudahnya.

Lebih kalem, lebih sederhana, tidak pakai gegap gempita seperti di dunia maya. Kesejahteraan yang baik  memang seringkali membuat prilaku lebih kalem, tidak gampang bergemuruh.

Lepas dari itu semua, merayakan Hari Guru  Nasional (Dan juga Hari Pendidikan Nasional) kurang afdol jika tidak mengingat kembali perjalanan kiprah sosok Soewardi Soerjaningrat.

Lahir di Yogyakarta 2 Mei 1899, dan dikenal bernama Ki Hadjar Dewantara, seabrek penghargaan (gelar)  disandang Soewardi. Mulai Perintis Kemerdekaan, pendidik nasional, tokoh politik persuratkabaran pada permulaan jaman permulaan pergerakan dan juga sebagai pengarang.

Meski tidak seradikal kangmasnya, yakni si “Raja Mogok” Soerjo Pranoto yang blak blakan membuang gelar ningratnya, cucu Pakualam III ini juga tidak pernah menonjolkan titel Raden Masnya. Soewardi juga anti feodalisme. Menolak dominasi kelas priyayi.

Mengenyam pendidikan sekolah rendah Belanda, kemudian sekolah guru (kweeschool) yang tidak kelar, lalu pindah ke STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) yang juga tidak tamat karena persoalan biaya, Suwardi memutuskan terjun ke dunia tulis menulis (jurnalistik).

Dia pernah menjadi pembantu di media massa harian berbahasa Jawa, Sedyo Tomo di Yogyakarta dan harian berbahasa Belanda, Midden Java di Semarang. Pada tahun 1912 hijrah ke Bandung sebagai anggota redaksi harian De Express pimpinan E.F.E Douwes Dekker.

Menjadi anggota redaksi harian Kaoem Moeda, pembantu Oetoesan Hindia, harian SI Surabaya, Tjahaja Timoer, Malang, pengasuh Het Tijdscrift, Bandung, juga dilakoninya. Di dunia jurnalistik Soewardi melakukan irisan dengan dunia pergerakan.

Bersama Tjipto Mangoenkoesoemo dan Douwes Dekker mendirikan Indische Partij (6 September 1912) dan tersemat julukan si tiga serangkai.

Belum genap setahun (1913), kritik pedas Soewardi  yang menampar kebijakan pemerintah Hindia Belanda yang menarik sumbangan warga pribumi (Indonesia) untuk perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda lepas dari penjajah Perancis, membuatnya dibuang ke Belanda.

Kritik pedas itu terangkum dalam tulisan Als ik eens Nederlander was (Andaikan saya seorang Belanda) yang menggegerkan publik Hindia Belanda. Kecaman kecaman, dan ejekan pada tulisan Een voor allen, allen voor een (satu buat semuanya, semuanya buat satu) juga membuat kuping Belanda merah.

Soewardi mengajak seluruh pribumi bergerak bersama, melawan penjajahan.

Sikap penerjemah lagu Internasionale (dari bahasa Belanda ke bahasa Indonesia) terhadap segala bentukwajah penjajahan itu teramat jelas.

Role model pendidikan yang ditanamkan Soewardi adalah mengakui hak anak atas kemerdekaan untuk tumbuh dan berkembang sesuai bakat dan pembawaanya. Pondasi itu dikenal dengan tag line Tut Wuri Handayani atau mengikuti anak dari belakang sambil membimbingnya.

Lengkapnya Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani (Didepan menjadi Panutan, di tengah memberi Semangat, dan di belakang memberi Dorongan).

Dasar pendidikan Menteri Pendidikan (Dulu Menteri Pengajaran) pertama RI itu adalah kebudayaan, kebangsaan Indonesia dan berdiri diatas kaki sendiri (Berdikari). Soewardi Soerjaningrat tutup usia pada 26 April 1959.

Tokoh pendidikan nasional sekaligus perintis kemerdekaan yang diatas usia 40 tahun berganti nama Ki Hadjar Dewantara itu telah menuladhakan nilai yang patut dijaga dan dilestarikan.

Nilai untuk semua, terutama kepada tenaga pendidik, pengajar (guru) dan semacamnya.

Nilai itu adalah jiwa merdeka, jiwa mendidik, sekaligus jiwa melawan segala bentuk penjajahan, kesewenang wenangan, baik itu didalam maupun diluar dimensi pendidikan.

Selamat Hari Guru Nasional 2018! (*)

  

 

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.