READING

Hari Raya Ketupat, Bukan Sekedar Perayaan Ngaku Le...

Hari Raya Ketupat, Bukan Sekedar Perayaan Ngaku Lepat

Tidak kalah pamor dengan perayaan Idul fitri, datangnya hari raya ketupat atau kupatan juga selalu ditunggu. Sudah terbayang bagaimana lontong kupat  dibelah, dipotong potong, lalu disajikan di piring dengan bagian atas potongan lontong disiram kuah sayur opor ayam.

Sesuai tradisi, lebaran ketupat selalu dirayakan pada hari kedelapan Idul Fitri. Tahun ini jatuh pada Rabu besok (12/6). Seperti umat muslim pada umumnya di Jawa Timur, keluarga H Romli warga Badas, Kabupaten Kediri juga mempersiapkan diri.

Berbelanja janur kelapa di pasar untuk kemudian dirangkai menjadi ketupat. Menyiapkan keluwih atau nangka muda, kacang panjang serta santan kelapa sebagai sayur opor. Kemudian memotong ayam kampung untuk lauk pauk. Tidak terlupa membuat sambal goreng kentang, kering tempe serta kerupuk.

“Kita mempersiapkan sejak hari Minggu lalu (9/6),“ tutur Romli. Ketupat yang dibuat tidak cukup berjumlah satu dua. Namun banyak. Karena ketupat tidak untuk dinikmati sendiri. Melainkan juga dibagi bagikan kepada tetangga sekitar sekaligus sebagai suguhan tamu yang bertandang.

“Semua yang bertamu, tidak peduli siapapun selalu disuguhi sayur ketupat,“ katanya. Menurut Romli, sesungguhnya lebaran ketupat bukanlah perayaan upacara menikmati sayur lontong ketupat. Secara etimologi, kupat berasal dari kata Arab kuffat. Artinya sudah cukup harapan.

Ini merujuk pada tradisi puasa Syawal setelah hari raya Idul Fitri. Adapun durasi puasa sunnah ini hanya enam hari. Meski tidak genap seminggu, menurut HR Muslim, pahala yang diperoleh bagi mereka yang menunaikan (puasa Syawal), setara dengan puasa setahun lamanya. Karenanya puasa Syawal diyakini untuk menyempurnakan puasa ramadan. “Karena sifatnya sunnah ada yang menjalankan dan ada yang tidak,“ paparnya.

Bagi masyarakat Jawa, kupat dimaknai sebagai pengakuan dosa. Semacam sanepan akronim yang dipanjangkan sebagai ngaku lepat (mengaku salah). Sebuah akulturasi Islam-Jawa. Karenanya dalam halal  bi halal lebaran ketupat, usai bersantap sayur ketupat, tuan rumah dan tamu selalu menutup silaturahmi dengan tradisi bertukar kata maaf.

“Saling bermaaf-maafan,“ terang Romli yang juga pengurus masjid Al-Maunah Badas. Tidak hanya segi bahasa. Bentuk kupat yang persegi empat juga ada maknanya. Segi empat ditafsiri sebagai simbol kiblat papat lima pancer. Empat bermakna arah mata angin (Timur, Barat, Utara dan Selatan) yang bertumpu pada satu pusat.

Selain keharmonisan dan keseimbangan alam, kemanapun manusia melangkah hendaknya tidak melupakan Allah SWT. Begitu juga dengan janur, yakni daun kelapa yang digunakan sebagai kupat. Dicurigai berasal dari kata Arab Jaa Nur, yang diartikan telah datang cahaya.   

Dengan kupatan manusia berharap agar datang cahaya dari Tuhan yang senantiasa menerangi jalan hidup di dunia. “Isi ketupat pun dimasak sampai kempel dan padat yang dimaknai sebagai kebersamaan dan kemakmuran. Begitu juga lepet yang teksturnya lengket dimaknai agar persaudaraan semakin erat,”ungkap Romli.

Sebagian besar umat Islam meyakini tradisi kupatan diperkenalkan pertama kali oleh Wali Songo, yakni khususnya Sunan Kalijaga dalam rangka menyebarkan agama Islam. Hari ini, selain untuk menjaga tradisi, perayaan lebaran kupat juga menjadi semacam wisata religi. Terutama di wilayah Durenan, Kabupaten Trenggalek. Hari raya kupatan yang kini telah meluas, selalu didatangi warga masyarakat dari mana-mana. (Moh. Fikri Zulfikar)                   

print

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.