READING

Hari Yang Aneh di Laga Arema vs Persebaya

Hari Yang Aneh di Laga Arema vs Persebaya

MALANG – Jumat malam, 12 April 2019, ruas jalan protokol Kota Malang terasa lengang. Tak ada kemacetan yang menjadi pemandangan wajib sehari-hari.

Situasi ini mengingatkan pada setting film I Am Legend yang diperankan aktor Will Smith, di mana seluruh kota telah ditinggalkan warganya akibat penyebaran virus zombie. Will Smith adalah satu-satunya manusia yang bertahan demi mencari serum penawar zombie.

Saya adalah Will Smith yang terjebak dalam keheningan Kota Malang. Bedanya, seluruh penduduk tak meninggalkan kota seperti film itu, melainkan berada di dalam rumah. Mereka sedang menonton pertandingan sepak bola antara Arema Malang kontra Persebaya Surabaya di layar kaca.  

Dua tim sepak bola yang dikenal sebagai musuh bebuyutan itu sedang berlaga di final Piala Presiden 2019. Panitia pertandingan memutuskan menggelar laga istimewa tersebut di Stadion Kanjuruhan, Malang.

Jangan ditanya jumlah penontonnya. Sebab hampir tak ada satu pun ruang kosong di arena tribun ekonomi hingga VIP. Semuanya dijejali manusia yang sebagian besar adalah pendukung klub tuan rumah berjuluk Singo Edan.

Di luar itu, masih ada ratusan ribu pasang mata yang menyaksikan pertandingan tersebut melalui televisi. Hingga membuat seluruh jalanan terasa sepi.

Meski tak sehening malam, pemandangan Kota Malang sudah terasa berbeda sejak pagi. Terlihat lalu lalang penduduk menggunakan jersey Arema berwarna biru. Mulai anak kecil hingga orang tua seperti berlomba-lomba memamerkan koleksi jersey mereka.

Keterkejutanku bertambah saat menyaksikan perubahan kostum ini merambah Balai Kota Malang. Sejumlah besar aparatur sipil negara terlihat mengenakan jersey Arema. Penggunaan jersey juga dilakukan tenaga guru saat mengajar di sekolah. “Ini bentuk dukungan kami pada Arema,” kata Fany Chusnia, guru di SMPN 18 Malang.

Guru dan siswa di salah satu sekolah Kota Malang mengenakan jersey Arema. Foto Fikri Zulfikar

Usut punya usut, rupanya Wali Kota Malang Sutiaji yang mengondisikan ini semua. Demi memberi dukungan kepada tim sepak bola Arema, dia menginstruksikan seluruh aparatur sipil negara di Kota Malang untuk menggunakan jersey sehari itu.

Gayung bersambut. Instruksi itu disambut baik para pegawai di seluruh satuan kerja pemerintah yang rama-ramai membawa jersey Arema ke tempat kerja. Selain seru, penggunaan jersey ini diharapan bisa memberi dukungan moril kepada para pemain Arema yang akan mengikuti laga hidup mati.

Fany mengaku girang mendapat kesempatan melepas seragam sekolahnya dan bersalin jersey. Suasana belajar mengajar di sekolah tambah seru ketika anak-anak juga diperkenankan menanggalkan seragam sekolah mereka untuk mengunakan jersey. “Suasana sekolah jadi tidak monoton dan menambah kecintaan pada Kota Malang,” tambahnya.

Fany mengusulkan agar kebijakan mengenakan jersey ini tak hanya berlaku hari itu. Dia berharap ada momentum spesial lain untuk mengenakan jersey di tempat kerja. Seperti saat pertandingan Arema atau ulang tahun kesebelasan tersebut. Bahkan jika perlu penggunaan jersey bisa dilakukan sepekan sekali di hari Jumat saat para pegawai melaksanakan senam. Menurut dia, kebijakan ini sekaligus menghidupi pelaku usaha konveksi yang menjual jersey di Malang.

Puncak situasi ini terjadi selepas Maghrib. Jalanan padat kendaraan seperti jembatan Jalan Soekarno Hatta dan Dinoyo lengang. Tak ada lalu lalang kendaraan seperti hari sebelumnya. Tak sedikit yang merespon keheningan jalan ini di media sosial. Seperti status @blacktiak yang menulis “Bendino ae Arema main, ben dalanan Malang sepi terus (setiap hari saja Arema bermain, biar jalanan Malang terus sepi)”.

Membuat jalanan Kota Malang sepi dari lalu lalang kendaraan adalah hal luar biasa. Bahkan pengerahan aparat pengatur lalu-lintas pun tak akan sanggup untuk sekedar mengurai kemacetan di jalan protokol.  

Namun Arema bisa. Tak sekadar tim sepak bola, Arema telah menjadi bagian kehidupan warga Kota Malang secara turun temurun. Tanpa diminta, mereka rela melakukan apa saja demi klub yang menjadi ikon kehormatan masyarakat.

Kemeriahan Aremania yang mengikuti nobar di cafe. Foto Fikri Zulfikar

Kondisi di jalan raya ini berbanding terbalik dengan situasi di kafe-kafe dan tempat nongkrong. Di sana orang-orang berkerumun menatap layar lebar yang menayangkan siaran langsung pertandingan Arema versus Persebaya. Hal yang sama dilakukan warga lainnya yang memilih berdiam di rumah menyaksikan tim kesayangan mereka berlaga.  

Gegap gempita tak hanya terasa di Stadion Kanjuruhan. Sorak sorai dan tepuk tangan berkelindan di tiap sudut gang dan tempat-tempat nobar saat tim kesayangan mereka merangsek lini pertahanan Bajul Ijo.

Terlebih pertandingan malam itu bukan laga biasa. Arema tengah menghadapi laga puncak Piala Presiden dan menghadapi musuh bebuyutan mereka, Persebaya Surabaya. Entah apa yang menjadi akar persoalan mereka, kontra dua tim itu kerap diikuti tragedi berdarah. Tak terhitung lagi korban jiwa yang melayang dalam bentrok fisik yang selalu menyertai pertandingan mereka.

Nyawa dibayar nyawa seolah telah menjadi pakem kedua pendukung kesebelasan saat bertemu. Hingga melahirkan militansi buta yang merugikan siapa saja.

Tetapi malam itu berbeda. Tak ada wajah garang yang terlihat di jalanan dan Stadion Gajayana. Tak ada kerumunan suporter berbaju biru yang mengeroyok baju hijau seperti adatnya pertandingan sebelumnya. Laga malam itu benar-benar berjalan dengan terhormat.

Amin Sumantri, tokoh Aremania yang berperan sebagai Pacho dalam film Darah Biru Arema mengapresiasi hal ini. Menurut Amin, dukungan Aremania membuncah di malam pertandingan itu. Apalagi laga bersejarah tersebut berlangsung di kandang Singo Edan yang memantik soliditas warga Kota Malang. “Arema layak menjadi juara,” katanya.

Dewi fortuna memang sedang berpihak pada tuan rumah. Skor 2-0 yang tercipta dari kaki Hardianto dan Ricky Kayame menjadi klimaks pertandingan, dan mengantarkan Arema Malang menjadi juara Piala Presiden 2019.

Kemenangan laga memang menjadi milik Arema dan warga Kota Malang. Namun kemenangan sportivitas menjadi milik semua pendukung kesebelasan, termasuk Bonek. Mereka telah tumbuh menjadi suporter yang dewasa.

Kepatuhan pada imbauan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini untuk tak berangkat ke Malang dipatuhi dengan ikhlas. Tak ada yang membelot. Dan malam itu sejarah pertandingan Arema versus Persebaya terukir dengan indah tanpa darah. (Moh. Fikri Zulfikar)  


RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.