Hati-hati Kecanduan Banyuwangi

“When you are full, and I am full, We are two suns”.

BANYUWANGI- Lina Cheikh Rouhou menuliskan kutipan puisi Rupi Kaur, penyair Kanada, pada katakir foto Instagramnya, @linercr. Sebuah narasi dari hati terdalam yang dia ketik dengan bibir yang tak bisa menyembunyikan senyuman.

Petikan kalimat puitis itu meneguhkan selembar foto dimana dirinya sedang bersama Sofyan Yudianto, lelaki Banyuwangi, JawaTimur. Saat mengunggah foto dan teks itu, memori Lina melayang kembali ke masa silam.

Lamat-lamat ingatannya mendarat pada peristiwa perjumpaan tahun 2017 di Canggu, Bali. Lina merupakan warga negara Jerman. Sebelum masuk kuliah di kampus negara asalnya, dia berkesempatan menikmati liburan keliling Asia Tenggara. Sebuah kesempatan yang jarang digamit setiap orang.

Pertemuan sebentar di sebuah kafe di Pulau Dewata dengan Sofyan itu adalah awal dari segalanya. Tak disangka, perjumpaan singkat itu telah mengacak-acak schedule liburan yang telah tersusun matang. Bahkan pertemuan itu telah mengubah arah takdir keduanya hingga hari ini.

Foto Sofyan dan Lina Cheikh Rouhou

Semua bermula dari jatuh hati. Lina yang masih 24 tahun terinspirasi untuk mengeksplorasi Asia Tenggara. Hatinya terpikat dengan banyaknya tempat dan kebudayaan orang orang Asia. Setiap melihat dan mendengar orang menyebut Asia, dia selalu ingin segera bergegas menyiapkan bekal perjalanan.

Perburuan informasi dimulai dengan menelusuri referensi yang banyak bertaburan di media sosial. Apa saja dia telusuri. Mulai narasi yang bercerita tentang keindahan alam, manusia, hingga tenggelam memandangi hasil jepretan karya forografi.  

Antusiasnya soal Asia begitu tinggi. Tak ingin ada secuil informasi yang terlewat, Lina juga membuka puluhan blog para pejalan antar negara.

Baca Juga : Festival Banyuwangi yang Siap Menghangatkan HUT Kemerdekaan RI

Menggali informasi mengenai cara menuju ke setiap negara atau hal apa saja yang bisa dilakukan di negara tersebut. Termasuk juga menelisik rekomendasi kafe dengan suguhan makanan terenak atau hotel unik di setiap negara tujuan.

Sebagai warga asing yang mengunjungi negara orang lain, dia tidak ingin dibayangi rasa ketar ketir. Lina sengaja mengatur perjalanan menuju Asia Tenggara selama 4 bulan. Sebuah waktu yang tergolong panjang untuk sebuah liburan.

Gadis jerman itu adalah seorang mahasiswi jurusan pendidikan inklusi. Bagi generasi milenial seperti dirinya, mengatur perjalanan antar negara bukan hal yang awam dan tidak sulit. Apalagi website pemesanan trayek penerbangan kesetiap negara, sudah lama dia akrabi.

Baca Juga : Drama Kekerasan Mahasiswa Papua di Malang

Lina juga tak pernah kerepotan memesan hotel maupun hostel di setiap kawasan wisata yang dia singgahi. Dia terbiasa mempercayakan semua referensi akomodasi melalui aplikasi online di telepon genggamnya.

Waktu yang dirindukan itu akhirnya tiba. Perjalanan menuju Asia Tenggara dia mulai dari mengunjungi Negara Thailand, Malaysia, Brunei, Singapura, lalu Indonesia.

Lina bercerita, sebelum pergi ke bandara, dirinya sempat mengungkapkan pada sahabat dan keluarganya, bahwa Indonesia adalah negara yang paling membuatnya penasaran.

“Selama hidup, saya nggak pernah melihat pantai seindah di Indonesia. Sawah yang membentang luas, matahari tenggelam yang indah, dan orang-orangnya yang sangat ramah,” ucap Lina kepada Jatimplus.ID.

Baca Juga : Perjalanan Moeldoko dari Kediri Hingga Jadi Panglima: Pernah Tak Mampu Beli Sepeda

Sejak tiba di Indonesia, Pulau Bali dia pilih sebagai destinasi pertamanya. Panorama terasiring Ubud dan eloknya pesisir pantai di Canggu membuatnya tidak ingin cepat cepat beranjak. Terutama saat singgah di Canggu, golden sunset membuatnya betah berlama-lama meludeskan waktu sore hari.

Lina menuturkan, waktu itu adalah sehari sebelum dirinya bertolak ke Pulau Sulawesi. Di sebuah kafe, dirinya berjumpa dengan seorang pemuda yang kemudian memperkenalkan diri dengan nama Sofyan.

Dia masih ingat, berbekal pengalaman sebagai seorang guide di Banyuwangi, Sofyan yang baru dikenal, membuka percakapan seputar wisata di tanah kelahirannya, Banyuwangi.

Baca Juga : Langsung Disimpan Kulkas Daging Justru Menjadi Alot, Ini Tips Yang Benar

Obrolan antara turis manca dan guide itu bercerita seputar tempat-tempat wisata indah yang layak dikunjungi. Lelaki gondrong itu begitu bersemangat. Kisah api biru Kawah Ijen yang keelokannya sudah mendunia, tidak luput diceritakannya.

Sudah menjadi alur schedulnya, sehari setelah pertemuan itu, Lina bertolak ke Pulau Sulawesi. Selama dua minggu, andrenalinnya menjelajahi keindahan bawah laut Wakatobi, lalu Pulau Muna dan Bau bau, terpuaskan.  

Anehnya, meski kemana-mana sendirian, perempuan berkulit putih ini tidak pernah merasa sendiri. Pertemuan sebentar di kafe Pulau Dewata itu, rupanya telah meninggalkan kesan tersendiri.

Meski terpisah jarak, komunikasi melalui media sosial dan WhatsApp dengan Sofyan terus bersambung. Hal itu yang juga membuat bayangan akan sosok lelaki Asia itu, dirasakan selalu mengawaninya.

Baca Juga : Haul Gus Miek ke-27 Kesejukan Universal Untuk Jiwa yang Gersang

Dari Sulawesi Lina berencana mengunjungi Lombok. Hatinya terpikat dengan cerita keindahan kepulauan Gili-gili yang cantik. Pulau Lombok menjadi destinasi terakhirnya di Indonesia sebelum menuju Bangkok, Kuala Lumpur, lalu kembali ke Eropa.

Namun semua itu dia urungkan. Lina memilih kembali ke Bali. Keinginan untuk segera bertatap muka dengan Sofyan ternyata lebih besar. Tidak hanya sama-sama hobi travelling. Di matanya, lelaki asal Banyuwangi itu adalah tandem yang bisa membuatnya selalu tertawa.

Begitu bertemu, keduanya langsung memutuskan mendatangi puncak Gunung Ijen. “Pertama kali aku pergi ke Banyuwangi tentunya karena Sofyan. Keindahan alam Banyuwangi dan keramahan orang-orangnya membuatku terpikat,” ucap Lina mengenang pertemuan kedua itu.

Baca Juga : Selain Pohon Bajakah Ternyata Masih Banyak Resep Herbal Penyembuh Kanker

Ibarat kata dari gunung tergelincir ke hati. Tidak hanya menikmati keindahan kawah Ijen. Oleh Sofyan, Lina dikenalkan wisata alam Banyuwangi lainnya. Dipertemukan dengan budaya dan masyarakat. Dan yang lebih surprise, perempuan Jerman itu juga diajak mampir ke rumah orang tua Sofyan.

Tidak lagi sekedar hubungan antara turis dan guide. Komunikasi yang terjalin berubah menjadi sepasang kekasih. Pada 29 Agustus 2018, keduanya memutuskan naik pelaminan. Sofyan, lelaki asal Banyuwangi dan Lina Cheikh Rouhou, wanita dari negeri empat musim itu, menikah di Negara Hongkong.

Foto Sofyan dan Lina saat melangsungkan pernikahan di Negara Hongkong

Meski bertempat tinggal di Jerman, dan harus bolak-balik Banyuwangi-Jerman, status Sofyan masih WNI. Bagi mereka, dengan adanya media sosial WA dan aplikasi facetime, hubungan jarak jauh bukan lagi sebuah kendala.

Sampai bulan Agustus 2019 ini, Lina mengatakan, dia dan suaminya (Sofyan) tengah menikmati musim panas di Jerman. Rencananya, bulan September 2019 mendatang, mereka akan bersama sama pulang ke Indonesia, dan kembali melancongi tempat-tempat wisata di Nusantara. Begitulah Lina menuturkan kisah perjalanan takdirnya .

Reporter: Suci Rachmaningtyas
Editor : Mas Garendi

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.