READING

Haul Gus Miek ke-27, Kesejukan Universal untuk Jiw...

Haul Gus Miek ke-27, Kesejukan Universal untuk Jiwa yang Gersang

Di tangannya, Islam menjadi demikian tak berjarak. Adalah nafas, adalah nufus. Adalah nada, adalah nadi. Ada engkau, adalah aku. Adalah kita.

KEDIRI-Zainal, seorang pengusaha nasi goreng arang di Surabaya dan Kediri yang juga santri Kyai Hamim Djazuli (Gus Miek) tengah sibuk hari itu di Pesantren Al-Falah, Ploso, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, 14 Agustus 2019. Dari Subuh hingga dini hari berikutnya, ia nyaris tak istirahat mempersiapkan konsumsi bersama tim-nya. Zainal kebagian mengoordinir para karyawannya. Malam itu, ia menyediakan nasi goreng produknya untuk para tamu haul. Salah satu menu di antara menu-menu lain yang berdatangan dari berbagai daerah.

“Kalau konsumsi yang disediakan panitia sekitar 5000-an porsi. Tapi saya kira tamunya lebih, 5000-6000 orang,” katanya. Banyak dari para tamu membawa bahan makanan dan menu-menu yang disajikan untuk peserta. Mereka datang dari berbagai daerah, ada yang pakai kendaraan pribadi, bus, hingga mobil pick up. Kesemuanya disatukan oleh satu nama: Gus Miek dan dakwahnya.

Keberagaman profesi hingga tampilan yang datang ke haul Gus Miek adalah jejak dakwah Gus Miek yang tak biasa. Nyentrik, istilah yang tepat, bisa dilihat puluhan tahun setelah beliau wafat. Kebanyakan tamu memang datang dengan busana muslim sesuai dengan kesepakatan umum. Tamu perempuan berjilbab, ada yang berkerudung saja. Sedangkan tamu laki-laki berkemeja panjang (baik baju koko maupun batik) dan berpeci.

Namun, di antara beberapa tamu perempuan, ada yang berbusana tanpa kerudung lengkap dengan anting bulat besar sebagaimana ke pesta. Tak ada pandangan mata curiga. Semua diterima dengan bahagia. Sebab Gus Miek dhawuh (berpesan) pada jama’ahnya, meskipun jama’ah miskin, tapi harus tampil rapi dan bersih. Tak boleh ada penampilan melas sehingga meminta belas kasihan.

Itu baru dari sisi tampilan. Lebih dalam lagi, semasa hidupnya, Gus Miek juga membina perekonomian jama’ah. Hal yang senada yang diteruskan oleh putranya, Agus Tijani Robet Saifunnawas atau akrab disapa Gus Robert, membina perekonomian jama’ah dengan usaha-usaha kecil (UMKM) minim risiko. Sebagaimana yang dilakukan Zainal dengan membuka gerai nasi goreng. Kini ia sudah memiliki beberapa gerai.

Baca juga: Menurut Gus Miek Usaha Kuliner Halal 120%

Islam, di tangan Gus Miek begitu tak berjarak dan menjadi tak asing. Tidak kaku dan tinggal di menara gading. Misalnya, di antara ribuan orang yang khusyu’ menyimak para hafidz melafadzkan Al-Quran di panggung, ada pedagang mukena dan tikar menawarkan dagangannya. Baiklah, jika mukena dan tikar masih berhubungan dengan ibadah, ada juga yang menawarkan peniti, kapur barus, tas, hingga tutup panci. Pada saat sang hafidz jeda melafadzkan ayat, maka transaksi jual beli pun terjadi. Sebab, bagaimana pun, kerumunan adalah etalase gratis bagi yang ingin memanfaatkan. Para pedagang kecil ini mengais laba sambil ia pun ikut ngalap berkah  jadi tamu haul.

Selembar Tikar pada Malam Menjelang Pergi

Acara haul rutin dilakukan tiap tahun. Dari Subuh, menggelar sholat jama’ah hingga Subuh pada hari berikutnya. Secara garis besar, acara terdiri dari Sema’an Al Qur’an dari Subuh dilanjutkan dengan pembacaan Dzikrul Ghofilin. Dua amalan warisan Gus Miek untuk jama’ahnya.

Hingga larut, jemaah tak beranjak untuk menunggu Agus Thuba Topo Broto Maneges atau akrab disapa Gus Thuba (cucu Gus Miek) hadir di panggung untuk mengalunkan syi’ir yang diikuti jama’ah. Selain itu, juga menunggu kehadiran Gus Robert memberikan tausiyah. Mereka sungguh-sungguh menunggu. Pertigaan sepanjang 500-an meter dan 200-an meter penuh dengan jamaah usai menjelang Magrib hingga dini hari.

Pada pukul 22.00 WIB, Gus Thuba menuju panggung memimpin syiir. Sekitar setengah jam kemudian, Gus Robert hadir untuk memberikan tausiyah. Hal yang yang sungguh dinanti para jamaah. Khotbah yang disampaikan dengan Bahasa Jawa halus campur Bahasa Indonesia itu disambut kesunyian jama’ah yang serius menyimak.

Gus Miek dhawuh, wis kipraha polaha, sakarepmu ning aja pisan-pisan lali karo eling mati,” kata Gus Robert (Gus Miek berpesan, silakan melakukan segala macam perbuatan, terserah hanya jangan sekali-kali lupa dengan ingatan akan kematian). Peringatan haul merupakan cara mengingatkan manusia akan kematian.

Gus Robert menyampaikan cara meninggal beberapa aulia yang ia kenal. Salah satunya tentu saja Gus Miek. Sehari menjelang Gus Miek wafat, kondisinya sudah tak bisa jalan, namun beberapa orang mengaku didatangi Gus Miek. Ada yang diajak berdiskusi, ada yang didatangi dengan bersepeda untuk mengembalikan kitab yang dipinjam Gus Miek. Hal yang tak masuk akal bagi orang biasa, namun itulah yang diyakini sebagai karomah para wali.

Kemampuan supernatural Gus Miek dalam eskalotologi orang pesantren dinamakan sifat khariqul’adah alias keanehan-keanehan. Reputasi ini yang menjadikan Gus Miek sebagai tempat bersandar bagi berbagai masalah untuk mendapatkan berkahnya. Mulai dari kepentingan pragmatis hingga relijius.

Di sisi lain, Gus Miek memang kontroversial. Dakwahnya tak hanya di masjid maupun di sekitar orang-orang sholeh namun juga di tempat-tempat hiburan hingga lokalisasi. Diskotek, night club, coffee shop, dan lokalisasi adalah dunia Gus Miek di sisi lain. Mereka diperlakukan sama oleh Gus Miek.

Dalam catatan Gus Dur, Gus Miek Wajah Sebuah Kerinduan (Kompas, 13 Juni 1993), hal yang dilakoni dan terlihat kontradiktif sesungguhnya Gus Miek berperan sama. Memberikan kesejukan kepada jiwa yang gersang, memberikan harapan kepada mereka yang putus asa, menghibur mereka yang bersedih, menyantuni mereka yang lemah, dan mengajak semua pada kebaikan.

Itulah kenapa, usai rangkaian haul yang ditutup dengan doa-doa panjang para hafidz, digelarlah panggung dengan meja bundar menyerupai night club dengan lagu-lagu mulai dari Barbra Streisand hingga Nicky Astria. Lagu-lagu hits era 80-an dan 90-an dalam list Gus Robert dinyanyikan di sana hingga dini hari.

Kemudian, menjelang Subuh, ketika malam menjelang beranjak, catatan kerinduan Gus Dur pada Gus Miek bukan pada gebyar kehidupan malam itu. Melainkan suasana menjelang pagi ketika Gus Miek tidur beralaskan koran di rumah Pak Hamid di Kediri, sementara yang dimiliki Pak Hamid hanyalah kursi plastik jebol, dua buah gelas, dan sebuah teko logam. Di sanalah Gus Miek sesungguhnya. Agar ia tetap masih menjadi manusia, bukan malaikat.

Al-Fatihah untuk Gus Miek dan Gus Dur yang sudah menempuh perjalanan selanjutnya.

Teks/Foto: Titik Kartitiani

Sholat jama’ah lima waktu dari Subuh hingga Subuh berikutnya pada saat haul.
Dzikrul Ghofilin, amalan yang dirintis Gus Miek menjadi salah satu agenda haul. Kali ini dipimpin oleh Gus Thuba, cucu Gus Miek.
Agus Thuba Topo Broto Maneges, cucu Gus Miek sedang memimpin Dzikrul Ghofilin.
Agus Tijani Robet Saifunnawas (Gus Robert), salah satu putra Gus Miek yang kehadirannya selalu dinanti jama’ah saar memberikan tausiyah.
Peserta sedang menyimak para hafidz di panggung yang melafadzkan ayat suci pada Sema’an Al Quran.
Panitia menyediakan 5000-an paket konsumsi, namun tamu yang hadir lebih dari itu. Pun inisiatif masing-masing tamu memberikan sumbangan makanan.
Penjual keset ngalap berkah sambil menawarkan dagangannya di sela-sela Sema’an.
Sprei pun dijajakan di kerumunan, bagaimana pun ribuan orang adalah etalase gratis.
Di dapur umum, para santri menyiapkan menu dengan mengenakan kartu tanda panitia bergambar foto Gus Miek berkacamata hitam.
Print Friendly, PDF & Email

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.