READING

Heboh di Malaysia, Biawak Jadi Santapan di Indones...

Heboh di Malaysia, Biawak Jadi Santapan di Indonesia

KEDIRI – Heboh reptil raksasa yang memanjat pagar rumah warga di Distrik Batu Pahat, Johor, Malaysia meluas hingga ke Indonesia. Padahal di Kediri, Jawa Timur, biawak menjadi santapan warga dan dijual bebas.

Kemunculan biawak berukuran besar yang terekam kamera itu mengundang berbagai reaksi di jagat maya. Banyak yang memperdebatkan jenis reptil tersebut, apakah tergolong komodo atau biawak. Sementara warganet yang lain mempertanyakan asal-usul biawak hingga menyatroni rumah penduduk dan berusaha memanjat pagar.

Munculnya biawak ini tak akan menjadi heboh jika terjadi di Indonesia. Di Kediri, tak sedikit warga yang berburu biawak liar untuk dijadikan santapan hingga obat penyakit. Reptil ini kerap diburu di daerah aliran sungai dan perkebunan yang menjadi habitat biawak. “Biasanya memangsa ayam milik warga,” kata Rahmat, warga Kelurahan Sukorame, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri kepada Jatimplus.ID, Sabtu 6 Juli 2019.

Rahmat adalah pemilik peternakan ayam yang menjadi korban serangan biawak. Keberadaan kandang yang tepat di dekat Sungai Kedak menjadi sasaran biawak yang mencari mangsa. Reptil ini masuk melalui lobang pembuangan air dan menggigit leher ayam hingga nyaris putus. Jika tak dimakan di tempat, bangkai ayam kerap ditemukan di saluran air.

Tak sekali Rahmat memburu biawak-biawak itu. Dia menduga jumlahnya lebih dari satu dengan berbagai ukuran. Namun meski kerap memergoki mereka tengah merayap di saluran air, hingga kini tak pernah bisa menangkapnya. “Larinya gesit sekali,” kata Rahmat.

Banyaknya populasi biawak yang ditemukan di kawasan sungai memicu para pemburu biawak tradisional. Mengandalkan anjing sebagai penanda keberadaan biawak, para pemburu menangkap dengan tangan kosong dan membawanya pulang hidup-hidup.

Menurut mereka, biawak itu akan disembelih dan diolah menjadi bahan makanan. Konon cita rasa dagingnya cukup lezat untuk dipadu menjadi berbagai menu. Mulai digoreng kering, disate, hingga dibuat rica-rica pedas.

Sebelum dicincang, kulit biawak dipisahkan atau dikuliti untuk dijual ke pengepul. Biasanya akan diproses menjadi bahan dompet atau souvenir. Sementara dagingnya bisa dikonsumsi sendiri atau dijual ke pemilik warung makan.

Menu biawak ini bisa didapatkan salah satunya di warung Mbak Susi yang berada di Jalan Raya Kediri – Tulungagung, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri. Selain biawak, warung ini menjual daging tokek, musang, tupai, hingga codot atau kelelawar. “Mau dimasak apa tergantung permintaan konsumen,” kata Susi.

Daging biawa yang diolah didapat dari pemburu. Setiap hari Susi menerima pasokan biawak hidup untuk disembelih sendiri. Dagingnya disimpan di sebuah freezer bersama daging binatang lain yang sudah dikuliti. Karena berada dalam suhu rendah, hewan-hewan itu dalam kondisi membeku.

Cara menjual Susi kepada pelanggannya cukup ekstrim. Alih-alih menunjukkan buku menu, dia mengajak pengunjung melihat sendiri isi freezer-nya. Mereka bebas memilih daging apa yang dikehendaki untuk disantap.  

Meski sudah dalam kondisi beku, namun penampakan binatang-binatang itu cukup membuat geli. Bentuk mereka masih persis seperti dalam kondisi hidup, hanya saja berwarna pucat karena tanpa kulit. “Kalau mau yang hidup ada di belakang,” kata Susi.

Jadi, jangan harap fenomena biawak nyasar ke rumah warga akan terjadi di Indonesia. Sebab sebelum nyasar dan sempat memanjat pagar rumah, mereka sudah jadi santapan makan siang.

Reporter/Editor: Hari Tri Wasono

print

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.