READING

Hipotermia Lebih Mengintai Pendaki Solois

Hipotermia Lebih Mengintai Pendaki Solois

Pada ketinggian 2.386 mdpl Gunung Ijen, Slamet pernah menjumpai seorang pendaki terserang gejala hipotermia. Muka pecinta gunung itu pucat. Badannya gemetar, menggigil hebat, dan hanya dalam hitungan menit, kesadarannya lenyap. Pemandangan mengerikan itu disaksikan Slamet tidak hanya sekali.

BANYUWANGI- “Gitu itu kadang mahasiswa (yang melakukan pendakian) tanpa pemandu. Saya pernah ngerti pas di atas kantin. Pernah juga di hm 32. (Ada tamu) menggigil terus pingsan, dan langsung diarahkan ke kantin,”tutur Slamet menceritakan peristiwa yang tak bisa dia lupakan.

Slamet merupakan Ketua Himpunan Pemandu Khusus Wisata Ijen (HPKWI). 11 tahun lamanya dirinya menekuni profesi sebagai guide pendakian Gunung Ijen. Kantin yang dimaksud dalam ceritanya berada di Pondok Bunder, yakni sebuah bangunan sederhana di tengah Gunung Ijen. Tingginya 2.314 mdpl.

Seingat dia, perempuan pendaki muda yang pingsan itu langsung dievakuasi dengan digotong menuju Pondok Bunder dan didekatkan dengan tungku perapian dapur pondok. Hampir semalaman bertahan disana. Pagi pagi buta sebelum terang tanah langsung dibawa turun menuju Pos Paltuding.

“Alhamdulillah selamat, “katanya. Hipotermia memang bisa menimpa siapa saja. Karena hal itu menyangkut daya tahan tubuh dan jam terbang pendakian. Selama naik turun Ijen, “penyakit gunung” itu setahu Slamet kerap menjangkiti para pendaki solo, tidak banyak teman selama pendakian, dan masih pemula.

FOTO : JATIMPLUS.ID/suci rachmaningtyas

Dia bersyukur, selama menjadi guide, tamu yang dia temani hingga ke puncak ketinggian tidak pernah terserang hipotermia. “Karenanya, menyampaikan pesan kepada pendaki sebelum naik, bahwa nyawa dan keselamatan adalah utama, menjadi hal yang penting dan wajib, “terangnya.

Kisah hipotermia juga dibagikan Icaa, seorang guide Banyuwangi lainnya. Saat membawa tamu untuk menikmati keindahan Gunung Bromo, sang tamu tiba tiba mengalami gejala hipotermia. Serangan itu berlangsung dini hari, saat mobil hendak melintasi kawasan Penanjakan.

Icaa sontak meminta sopir menghentikan kendaraan. Dia melihat tidak hanya menggigil dan seperti hilang nafas. Tamu perempuan itu juga meracau tidak jelas. “Waktu saya pegang tangan dan lengannya dingin banget dan mengkerut, “tuturnya.

Dengan sigap Icaa mengambil tindakan darurat. Sekujur tubuh si tamu dia periksa. Icaa mendapai kaos kaki yang dipakai si tamu dalam keadaan basah. Dia juga menilai celana jeans yang dikenakan (tamu) tidak mampu melindungi dari hawa dingin berlebihan. Selain mengganti dengan kaos kaki kering, serta menukar celana jeans dengan celana kain, Icaa juga melumuri badan tamunya dengan minyak gosok.

Minyak gosok memberi efek hangat secara cepat. Dari pengalaman beberapa pendaki, mereka sering menggunakan minyak kayu putih atau minyak Gondopuro. Pemakaian balsem justru dihindari karena disaat efek hangatnya hilang, rasa dingin malah semakin menggigit.

Baca Juga : https://jatimplus.id/bila-mengalami-hipotermia-ini-yang-harus-anda-lakukan/

“Terutama di bagian telapak kaki yang terlanjur sangat dingin, punggung, dan tangan, “terangnya. Tidak berhenti disitu. Jaket rangkap dan tambahan selimut thermal juga dikenakan. Sopir kendaraan yang ikut panik berinisiatif memberikan teh manis yang selalu dia bawa dalam termos di mobilnya.  

Sekitar 5-10 menit kemudian, kondisi si tamu terlihat jauh lebih tenang. Suhu tubuhnya berangsur angsur menghangat. “Sempat bingung dan panik. Namun pertolongan pertama harus segera dilakukan, “ungkapnya kepada Jatimplus. id

Pengalaman dua pramuwisata Banyuwangi itu tentu bisa menjadi pengalaman berharga. Khususnya bagi para pengunjung wisata pegunungan maupun wisata dengan kadar suhu yang dingin. Pengetahuan penanganan pertama kepada seseorang yang terserang hipotermia juga wajib dikantongi para pramuwisata yang bersinggungan langsung dengan tamu.

Bahkan menurut Andika Rahmat selaku pengurus HimpunanPramuwisata Indonesia (HPI) Banyuwangi, perlu dilakukan pelatihan khusus bagaimana langkah pertama menghadapi wisatawan yang terserang hipotermia.

“Iya, saya juga sering menjumpai tamu yang terkena hipotermia. Ya pastinya perlu diadakan pelatihan pertolongan pertama khususnya ke pramuwisata,”ujar Andika Rahmat.

Reporter : Suci Rachmaningtyas
Editor : Mas Garendi

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.