READING

Hirup Udara Bebas, Adik Ustadz Abu Bakar Baasyir P...

Hirup Udara Bebas, Adik Ustadz Abu Bakar Baasyir Pilih Urus Keluarga

TULUNGAGUNG- Narapidana kasus terorisme Noim Baasyir mengakhiri masa hukuman enam tahun penjara. Hari ini Noim yang juga adik kandung Ustadz Abu Bakar Baasyir meninggalkan Lembaga Pemasyarakatan Klas II B Tulungagung.

“Iya hari ini yang bersangkutan bebas murni, “ujar Kalapas Tulungagung Erry Taruna kepada Jatimplus Selasa (19/2/2019).

Noim menjalani hukuman sejak tahun 2014. Salah satu pimpinan organisasi Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) itu dilayar dari penjara ke penjara. Sebelum di Tulungagung, Noim pernah menghuni lapas Sumenep dan lapas Tuban. Bahkan di Sumenep dia sempat terlibat bentrok di dalam penjara dengan napi narkoba. Atas permintaannya, pada 25 Juli 2017, dia dipindahkan ke Tulungagung.

“Dia berada di lapas Tulungagung kurang lebih dua tahun dipotong remisi dasawarsa tiga bulan, “terang Erry. Selama di Tulungagung, prilaku Noim yang kaku, tertutup, ekslusif dan menolak bicara dengan sembarang orang, termasuk petugas, berubah total. Pendekatan kekeluargaan yang dilakukan petugas lapas, kata Erry yang membuat Noim melepas sikap eksklusifnya.

Tidak hanya bergaul dengan sesama warga binaan lainnya. Noim juga tidak pernah berbuat onar. Bahkan dalam berkomunikasi, yang bersangkutan banyak berkelakar. “Yang bersangkutan lebih terbuka dan funny (gembira), bisa berkelakar,  “kata Erry.  Kendati demikian untuk urusan program pembinaan rohani yang dilakukan petugas Lapas, Noim memilih mangkir.

Dia juga menolak mengikuti salat jumat bersama warga binaan lainnya. Terkait pembinaan rohani, dia juga berpesan kepada petugas untuk tidak menyinggung persoalan terorisme. “Dia mengatakan belum bisa ikut pembinaan rohani. Juga tidak pernah ikut salat Jumat, “papar Erry.

Meski sudah banyak berubah, Noim tetap ditempatkan di sel khusus bersama dua napi teroris lainnya, yakni Defi Fahrizal (9 tahun penjara) dan Ridwan Sungkar (4 tahun penjara). Defi sekitar sebulan lalu dilayar ke penjara Nusakambangan. Sedangkan Ridwan tahun ini juga akan menghirup udara bebas.

Terkait pembebasan murni yang diterima Noim, Erry berpesan kepada yang bersangkutan untuk tidak lagi terlibat dengan urusan yang bisa mengantarkannya kembali ke lapas. Dalam pembicaraan itu, kata Erry, Noim menyampaikan akan berkonsentrasi pada pekerjaan dan keluarga.

“Yang bersangkutan mengatakan setelah bebas ini akan berkonsentrasi dengan pekerjaan dan keluarga, “jelas Erry. Dari pantauan Jatimplus, sebelum meninggalkan lapas Tulungagung, Noim terlihat berbincang santai di ruangan Kepala Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemsyarakatan (KPLP).

Lelaki gonrong dan berjenggot tebal kemerahan itu mengenakan kaos oblong, celana model komprang serta peci warna gelap.

Sebuah mobil Toyota Kijang Inova silver nopol AD 8906 KA menunggunya didepan pintu lapas. Terlihat ada sekitar empat orang, dengan dua diantaranya wanita bercadar dan anak anak. Begitu keluar dari pintu lapas, Noim langsung memperlihatkan surat pembebasan murninya.

Seperti yang disampaikan Kalapas, dia mengatakan akan fokus mengurus keluarga. Ditanya apakah dalam pembebasan ini dirinya juga diminta membuat surat pernyataan kesetiaan kepada NKRI dan Pancasila, Noim mengatakan dirinya adalah warga negara Indonesia. “Saya akan mengurus keluarga. Saya warga negara Indonesia, “ujarnya singkat.

BNPT Tidak Maksimal

Perubahan sikap Noim Baasyir, yakni secara sosial lebih terbuka dan tidak lagi  eksklusif diklaim berkat pendekatan kekeluargaan yang dilakukan petugas Lapas Tulungagung.

Menurut Kalapas Erry Taruna pendekatan kekeluargaan lebih efektif daripada hanya mengorek kasus terorisme yang dilakukan yang bersangkutan. “Karena dia lama jauh dari keluarga. Begitu disentuh urusan keluarga langsung terketuk, “katanya.  

Terbukti, sikap Noim yang semula kaku dan cenderung reaksioner berubah drastis. Begitu juga saat yang bersangkutan menolak mengikuti pembinaan rohani, pihak lapas juga tidak mempermasalahkannya. Petugas tidak pernah memaksanya.

Sikap kekeluargaan yang diperlihatkan petugas lapas, lanjut Erry membuat Noim merasa nyaman. Dia merasa dihargai dan tidak dibedakan dengan warga binaan lainnya.

Disisi lain peran Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) diakui Erry belum bisa maksimal. Peran BNPT belum bisa diandalkan mengingat program deradikalisasi hanya dilakukan dua kali dalam setahun. Karenannya pihak lapas memilih melakukan caranya sendiri.

“BNPT belum bisa bekerja maksimal. Pernah sekali ke lapas Tulungagung, petugas BNPT hanya berbincang sebentar dengan yang bersangkutan (Noim Baasyir), “terangnya.

Karenanya ke depan, Erry berharap pembentukan pokja pokja (kelompok kerja) yang khusus menangani deradikalisasi bisa segera terealisasi. Dengan pokja yang didalamnya berisi cendekiawan, tokoh agama dan petugas BNPT, program deradikalisasi dimungkinkan bisa berjalan maksimal.

“Harapannya pokja pkja di daerah bisa segera terbentuk. Agar program deradikalisasi BNPT bisa berjalan maksimal, “harap Erry. (*)   

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.