READING

Hoaks Anggrek Hitam Papua, Kebanggaan hingga Iklan...

Hoaks Anggrek Hitam Papua, Kebanggaan hingga Iklan Penipuan

Kita bangga bila ada hal baik tentang negeri ini dibagikan dan menjadi viral. Sebagaimana ragam jenis flora fauna yang dimiliki Indonesia. Apalagi jika flora fauna tersebut langka. Tanpa mengurangi rasa kebanggaan terhadap keragaman hayati yang kita miliki, setidaknya pembaca perlu teliti. Sebab seindah-indahnya kebohongan, tetap lebih indah jika kabar yang diterima adalah fakta meski tak seheboh hoaks.

Beredar di dunia maya tentang anggrek hitam papua yang diberi keterangan langka, unik, dan tentu saja mahal. Efeknya, beragam komentar positif dari warganet tentang kebanggaan anggrek tersebut. Saking viralnya, media arus utama yang sudah lama berdiri pun ikut-ikutan menuliskan bahwa anggrek dalam foto itu sebagai anggrek hitam papua dan langka. Sayang sekali, jenis yang beredar di internet tersebut tidak tepat.

Anggrek tersebut bukan anggrek hitam papua melainkan anggrek silangan dari marga Cymbidium, tepatnya jenis Cymbidium Kiwi Midnight. Hal tersebut sudah pernah ditulis oleh F. Rahardi, penasihat PAI (Perhimpunan Anggrek Indonesia) di laman Facebook-nya setahun silam. Hanya sampai detik ini, ternyata masih banyak beredar di dunia maya hingga sampai ke redaksi Jatimplus.ID.

Untuk lebih detail, Jatimplus.ID mengonfirmasi kepada Frankie Handoyo, ahli anggrek yang telah menulis berbagai buku tentang anggrek, salah satunya buku ensiklopedi Orchids of Indonesia.
“Kalau yang jual bijinya diklaim sebagai Cymbidium Black Faberi. Yang mendekati dan bener adalah Cymbidum Kiwi Midnight,” kata Frankie.

Menurut data dari RHS (Royal Horticultura Society), sebuah lembaga yang tugasnya mendaftar ragam jenis flora dunia, baik jenis alam maupun silangan, Cymbidium Kiwi Midnight didaftarkan oleh L. Batchman tahun 2001. Merupakan anggrek silangan dari Cymbidum Janet Holland (1989)xCymbidium Khairpour (1989). Dua indukan yang menurunkan Cymbidum Kiwi Midnight pun berasal dari anggrek silangan juga. Merujuk data RHS, maka Cymbidium Kiwi Midnight bukan anggrek yang ada di hutan Papua.

Sekadar informasi, dalam dunia anggrek dikenal dua kelompok besar yaitu anggrek alam/anggrek spesies, merupakan anggrek yang tumbuh alami di hutan. Biasanya ditulis menganut sistem binomial nomenclature dengan dua nama, nama marga (genus) diikuti nama spesies. Nama marga ditulis dengan awal huruf kapital, nama jenis dengan huruf ordinal, dan keduanya ditulis italic. Kelompok kedua adalah anggrek hibrida (silangan) yaitu turunan anggrek yang didapatkan dari induk dua spesies yang berbeda atau dari silangan hibrida. Ada yang disilangkan oleh manusia, ada pula penyilangan dilakukan oleh alam. Ditulis dengan awalan huruf kapital.

Menurit Frankie, di Papua juga memiliki anggrek yang kerap disebut anggrek hitam, jenisnya Grammatophyllum stapeliiflorum. Anggrek tersebut beda marga dengan Cymbidium dan bentuknya pun sangat berbeda. Sedangkan nama anggrek hitam dari Indonesia yang diakui dunia adalah Coelogyne pandurata atau black orchid. Merupakan anggrek yang dulu endemik Kersik Luway, Kecamatan Seqolak, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur. Tentang pencarian anggrek di Kalimantan ini pernah hits tahun 1997 melalui film Anaconda. Ekspedisi itu mencari blood orchid. Dalam kehidupan nyata, blood orchid tak ada di hutan Kalimantan. Asal jeli saja, bunga yang ditampakkan dalam film tersebut bukan jenis anggrek. Mungkin saat itu, sutradaranya lupa konsultasi pada ahli anggrek.

Meski Hanya Nama, Efeknya Ke Mana-Mana

Apalah arti sebuah nama, toh anggrek sama-sama indah. Betul. Tapi khusus anggrek, nama akan berimpak panjang. Beda nama, beda perawatan. Beda nama, akan tumbuh di dataran yang sangat berbeda. Tak tahu nama jenis yang betul, akan gagal merawat dan membungakan anggrek.

“Nama lokal kurang pas dipakai karena setiap daerah punya nama beda,” kata Frankie. Maka bagi pecinta anggrek, setidaknya harus tahu nama ilmiah meski hanya tingkat marga.

Ditambah lagi, penipuan marak menggunakan ketidakpahaman orang akan nama jenis ini. Frankie menyusuri, banyak lapak daring yang menjual Cymbidium tersebut sebagai anggrek papua dan dibandrol sangat mahal. Tak hanya lapak Indonesia, tapi juga lapak internasional macam e-Bay dan Alibaba.

Lebih tidak masuk akal lagi, mereka menjual biji/benih anggrek dengan satuan buah. Bukan bibitnya. Misalnya dijual anggrek hitam papua, harga Rp 2000,-/20 biji. Perlu diketahui, benih anggrek bentuknya seperti debu, bagaimana menghitung sejumlah 20 buah? Pun kalau berhasil menghitung (dengan mikroskop), tak mungkin dikirim dengan satuan sebab akan riskan terkontaminasi. Menumbuhkan benih anggrek berbeda dengan benih tanaman hias lain, cukup disemai dengan tanah. Khusus untuk benih anggrek, ditumbuhkannya dengan media agar sebagaimana menumbuhkan jamur maupun bakteri. Skala laboratorium.

“Kalau mau nyoba beli, biasanya yang mereka kirim benih bunga lain. Bunga perennial beberapa biji, kalau ditanam ya bukan anggrek yang tumbuh,” tambahnya.

Demikianlah. Baiknya jeli sebelum mencerna berita, apalagi sampai membagikan. Tentu pembaca tak ingin menjadi “bodoh komunal”. Lebih baik cek dahulu. Yang paling mudah, cek gambar di Google Image, akan ketahuan siapa pengunggah pertamanya.

Print Friendly, PDF & Email

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.