READING

Hoki dan Rezeki Logo Gudang Garam (4)

Hoki dan Rezeki Logo Gudang Garam (4)

Nama yang terkandung dalam merek rokok bertalian dengan beragam aspek. Di antaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. (Kretek Jawa, Gaya Hidup Lintas Budaya).  

Tjoa Ing Hwie terjaga dari tidurnya. Nafasnya masih memburu, tersengal sengal. Keringat dingin masih bercucuran. Lelaki kelahiran tahun 1923 di Fujian, yakni salah satu provinsi di kawasan Cina Selatan itu baru saja bermimpi.

Dalam penglihatan bawah sadarnya Ing Hwie melihat deretan gudang tempat penyimpanan garam. Sama dengan mimpi sebelumnya, visual itu terlihat begitu jelas. Begitu terang.

“Mimpi tentang gudang penyimpanan garam itu datang kedua kalinya. Saat itu Tjoa Ing Hwie sudah dua tahun mendirikan home industri rokok klobot tjap Inghwie, “tutur sejarawan Dukut Imam Widodo.

Bagi Ing Hwie, mimpi yang terulang dan sama persis itu bukan sekedar bunga tidur. Tetapi sebuah petunjuk. Karenanya, pengusaha yang sejak tahun 1967 bersalin nama Surya Wonowidjoyo itu langsung berkonsultasi kepada Sarman, salah satu pegawainya yang memiliki kemampuan supranatural.

Apa jawaban Sarman? “Pegawai rokok klobot tjap Inghwie itu mengatakan mimpi tersebut harus diabadikan. Dan Tjoa Ing Hwie menuruti saran itu,“ kata Dukut mengisahkan asal muasal logo Gudang Garam. Sejak saat itu, kemasan rokok Tjap Inghwie berganti merek Tjap Gudang Garam.

Lima bangunan gudang penyimpanan garam yang berderet memanjang dengan seruas jalur rel kereta api di depannya, serta gunung diujungnya, menjadi logo. Logo berbentuk segi empat wajik itu menggunakan latar warna merah, dengan kombinasi warna biru dongker dan putih pada tulisan. Nama merek “Inghwie” juga masih disematkan dibawah logo utama.

Buku “Kretek Indonesia, Dari Nasionalisme Hingga Warisan Budaya” menyebut nama merek Gudang Garam terinspirasi dari bangunan gudang garam yang berada di depan pabrik kretek Tjap NV 93. Saat masih bekerja di NV 93 milik Tjoa Kok Tjiang, pamannya, dimungkinkan Ing Hwie sering melihatnya.

Gudang penyimpanan garam di Kelurahan Kemasan yang hingga kini masih berdiri kokoh. Foto Jatimplus

Mujiati, bekas pegawai pabrik rokok Tjap 93 yang juga menjadi pekerja pertama Gudang Garam mengatakan logo tersebut bukan gambar fiktif. Itu adalah gambar gudang penyimpanan garam di Kelurahan Kemasan, yang hanya berjarak beberapa meter dari pabrik rokok 93 di sebelah utara.

Jika dilihat dari sebelah timur rel kereta api, gudang tersebut terlihat berjejer. Gudang itu berdiri berjajar dengan bangunan Stasiun Kereta Api Kediri yang berada di sebelah utara. “Foto logo itu diambil dari sebelah timur rel kereta api,” kata Mujiati.

Sutrisno Lestyo, 81 tahun, warga Tionghoa yang bermukim tepat di depan gudang garam dan bersebelahan tembok dengan pabrik Tjap 93 mengatakan, gudang tersebut sudah berada di tempat itu sejak jaman Belanda.

Kala itu, gudang tersebut menyimpan timbunan garam yang dikirim melalui kereta api lori. Terdapat sebuah rel yang melengkung menuju ke dalam gudang. Sehingga kereta lori pengangkut garam bisa langsung menuju dalam gudang. “Di dalam gudang ada putaran rel untuk jalan kereta lori,” terang Sutrisno.

Sayang dia tak mengetahui dari mana garam-garam itu didatangkan. Yang jelas, garam itu diperdagangkan kembali oleh pemilik gudang mengingat harga garam saat itu cukup mahal.

Hingga kini gudang tersebut masih berdiri kokoh. Kepemilikannya telah beralih tangan menjadi gudang penyimpanan barang elektronik. Namun demikian, jejak penyimpanan garam masih terlihat di tembok yang keropos. “Berulangkali ditambal tetap tidak bisa karena mengandung garam,” kata Sutrisno.

Entah berawal dari mimpi atau bukan, yang pasti logo tersebut telah mengantarkan Gudang Garam menjadi perusahaan rokok terbesar di tanah air.

Pentingnya pemberian merek dan logo kepada produk rokok juga dilakukan Nitisoemito, si raja kretek dari Kudus. Pemilik perusahaan rokok Tjap Bal Tiga ini telah merintis usaha jauh sebelum Gudang Garam lahir, di tahun 1906. Sama dengan Tjoa Ing Hwie yang sempat mengganti merek rokok dari Inghwie menjadi Gudang Garam, Nitisoemito juga sempat memakai merek Kodok Mangan Ulo sebelum bersalin nama menjadi cap Djeruk dan terakhir cap Jangkar.

Hoki atau keberuntungan bisnis Nitisoemito maju pesat ketika usaha rokoknya memakai logo bulatan warna hijau yang disusun segitiga (cap Bal Tiga). Tidak diketahui pasti darimana inspirasinya, salah satu versi menyebut gagasan itu muncul setelah Nitisoemito tidak sengaja melihat tiga bulatan dari pantulan kaca jendela yang tertimpa cahaya.

Versi yang lebih luas mengatakan bal tiga mengandung arti bilangan tiga yang diyakini sebagian orang membawa hoki keberuntungan. Keyakinan akan hoki deretan angka tiga juga menjadi inspirasi pabrik rokok PT HM Sampoerna yang berdiri tahun 1913 di Surabaya.

PT HM Sampoerna memproduksi merek rokok 234 yang ditulis dengan bahasa tionghoa Dji Sam Soe. Nama Sampoerna sendiri diartikan bentukan kata Sam yang berarti 3 dan Pao atau Mestika.

Begitu juga dengan rokok Bentoel yang mulai diproduksi tahun 1930 di Kota Malang. Sebelum memakai cap Bentoel, Ong Hok Liong selaku pemilik menggunakan nama perusahaan Strootjes- Fabriek Ong Hok Liong.

Salah satu pintu gudang garam yang hingga kini masih bertahan di Kelurahan Kemasan. Foto Jatimplus

Karena kurang menarik perhatian pasar, lalu diubah menjadi Hien An Kongsie dengan nama rokok produksinya Tjap Burung, Tjap Klabang dan Tjap Djeroek Manis. Nama Bentoel diperoleh Ong Hok Liong melalui sebuah mimpi bertemu penjual Bentoel (sejenis ubi ubian).

Mimpi itu datang saat Ong Hok Liong dan istrinya berziarah ke makam Eyang Djugo di lereng selatan Gunung Kawi pada tahun 1935. Mirip mirip juga dengan cerita dibalik rokok cap Wismilak produksi PT Gelora Djaja milik Lie Koen Lie, cucu menantu pendiri PT HM Sampoerna.

Gambar orang tua atau Empek pada kemasan rokok Wismilak dimaksudkan agar perusahaan panjang umur. Tongkat dan buah yang dibawa si Empek mengandung filosofi stick and carrot atau reward and punishment, yakni orang yang bekerja keras bakal menerima ganjaran. Adapun nama Wismilak terinsipirasi dari judul lagu “Wish Me Luck” pada dekade Perang Dunia Pertama (1914-1918).

Baca juga: Tjoa Ing Hwie, Perantau Ulung Dari Daratan Cina

Baca juga: Kesaksian Mujiati, Buruh Pertama Gudang Garam

Baca juga: Sedikit Surut Banyak Pasang

Baca juga: Makin Sedekah Makin Makmur

Dalam perjalanan usaha pabrik rokok, sejarawan Dukut Imam Widodo mengatakan selain logo dan inovasi marketing atau pemasaran, kemajuan usaha tidak lepas dari kemampuan owner merawat kearifan lokal. Hal itu yang dilakukan Tjoa Ing Hwie untuk mempertahankan bisnisnya dengan selalu menjaga nilai nilai luhur yang berlaku di masyarakat. Nilai itu dirumuskan menjadi filosofi perusahaan dan dituangkan dalam Catur Dharma Perusahaan.

Pertama, kehidupan yang bermakna dan berfaedah bagi masyarakat luas merupakan suatu kebahagiaan. Kedua, kerja keras, ulet, jujur, sehat dan beriman adalah prasyarat kesuksesan. Ketiga, kesuksesan tidak dapat terlepas dari peranan dan kerjasama dengan orang lain. Dan keempat, karyawan adalah mitra usah yang utama.

Tjoa Ing Hwie memang bukan orang Jawa. Namun dari keterangan orang orang dan masyarakat yang kerap berinteraksi dengannya mengatakan, Ing Hwie lebih njawani. Tutur katanya dalam bahasa Jawa lebih halus dan sopan.

Tidak hanya sayang kepada sesama. Semasa hidupnya Ing Hwie juga dikenal sebagai penyayang binatang. Dia kerap dijumpai menancapkan mayang mayang padi di tembok pabrik untuk memberi makan burung liar. Dia juga kerap terlihat menaburkan parutan kelapa pada mulut liang semut. (*)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

  1. […] Baca juga: Hoki dan Rejeki Logo Gudang Garam […]

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.