READING

Hukum Memotong Kuku dan Rambut Sebelum Kurban Menu...

Hukum Memotong Kuku dan Rambut Sebelum Kurban Menurut Kiai Lirboyo

KEDIRI – Perdebatan soal hukum memotong kuku dan rambut bagi orang yang berkurban terus berlangsung. Sebagian ulama mengatakan haram, sebagian sunah, dan ada lagi yang menganggapnya makruh.

Hukum boleh tidaknya memotong kuku dan rambut bagi yang hendak berkurban memang masih menjadi perdebatan. Perbedaan pandangan ini memicu perdebatan baik di media sosial hingga pengurus masjid.

Perdebatan soal hukum memotong kuku dan rambut ini telah terjadi di kalangan ulama terdahulu. Artinya, hingga kini para ulama belum menemukan kesepahaman untuk menentukan hukum perbuatan itu sampai sekarang.

Menurut laman NU.or.id, permasalahan ini berawal dari perbedaan ulama dalam memahami hadits riwayat Ummu Salamah yang terdokumentasi dalam banyak kitab hadits. Dia mengaku pernah mendengar Rasulullah SAW berkata:

“Apabila sepuluh hari pertama Dzulhijjah telah masuk dan seorang di antara kamu hendak berkurban, maka janganlah menyentuh rambut dan kulit sedikitpun, sampai (selesai) berkurban,” (HR Ibnu Majah, Ahmad, dan lain-lain).

Pemahaman tersebut mengundang dua penafsiran berbeda. Pertama, memahami hadits ini sebagai larangan Nabi SAW kepada orang yang berkurban untuk memotong kuku dan rambutnya. Kedua, larangan tersebut berlaku pada hewan kurban (al-mudhahha), bukan orangnya.

Kiai Haji Abdul Muid, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri mengatakan, hukum memotong kuku dan rambut bagi orang yang hendak berkurban adalah makruh. “Memotong kuku dan rambut hukumnya makruh,” tegas Kiai Abdul Muid saat dihubungi Jatimplus.ID, Kamis 8 Agustus 2019.

Hal ini sesuai dengan Mula Al-Qari dalam Mirqatul Mafatih yang menyimpulkan:

“Intinya ini masalah khilafiyah: menurut Imam Malik dan Syafi’i disunahkan tidak memotong rambut dan kuku bagi orang yang berkurban, sampai selesai penyembelihan. Bila dia memotong kuku ataupun rambutnya sebelum penyembelihan dihukumi makruh”.

Makruh adalah sebuah status hukum terhadap perbuatan yang dilakukan seorang Muslim. Perbuatan yang berstatus hukum makruh bersifat dilarang, namun tidak terdapat konsekuensi bila melakukannya. Dengan kata lain perbuatan makruh dapat diartikan sebagai perbuatan yang sebaiknya tidak dilakukan.  

Contoh perbuatan makruh dalam aktivitas sehari-hari adalah makan dan minum sambil berdiri, atau berwudu di kamar mandi.

Dengan demikian, larangan memotong kuku dan rambut bagi yang ingin berkurban hanyalah anjuran saja.

Penulis: Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.