READING

Hutan Terbakar, Kemana Larinya Kawanan Kera Pander...

Hutan Terbakar, Kemana Larinya Kawanan Kera Panderman?

Hingga Senin (22/7/2019) pukul 4 sore, sejumlah titik api masih terlihat menyala di kawasan Gunung Panderman, Kota Batu, Jawa Timur. Asap masih bergulung tebal. Kebakaran yang berlangsung sejak Minggu (21/7) malam itu belum sepenuhnya dapat dijinakkan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemkot Batu masih bekerja keras. 

BATU- Gunung Panderman berada dalam bentang alam pegunungan Putri Tidur. Jika dianatomikan sebagai manusia, posisi Panderman berada di kaki. Sementara bagian dada ditempati Gunung Kawi dan Gunung Butak di bagian kepala. 

Panderman diambil dari nama Van Der Man, yaitu seorang pendaki berkebangsaan Belanda. Laki laki asing itu yang pertama kali menginjakkan kakinya di puncak. Di kalangan komunitas pendaki di Kota Batu dan Malang, Panderman cukup difavoritkan. 

Terutama bagi para pemula yang berasal dari lingkungan kampus. “Menjadi latihan bagi pendaki pemula, “terang Fegiatna kepada Jatimplus.id. Ketinggian Panderman tidak semenjulang Gunung Welirang maupun Gunung Arjuna. 

Medan Panderman cenderung lebih bersahabat. Dari Dusun Toyomerto hingga Pos Latar Ombo cukup ditempuh dengan waktu  60 menit. Disini para pendaki biasanya mendirikan tenda. Mengembalikan stamina sambil menikmati keindahan alam. Begitu letih hilang, pendakian bisa dilanjutkan ke Pos Watu Gede.

Jarak Pos Latar Ombo ke Watu Gede memerlukan waktu 60 menit. Untuk sampai ke puncak yang dikenal bernama Basundara, pendaki hanya membutuhkan waktu 45 menit lagi. “Kurang lebih sekitar 3 jam sudah sampai puncak, “terang Fegiatna yang sudah tidak terhitung kali menaklukkan puncak Panderman.

Di ketinggian 2.000 mpdpl itu para pendaki bisa melihat Malang dan Batu. Menyaksikan keindahan kerlap kerlip lampu yang menyerupai jutaan kunang kunang. Di pagi hari bisa menatap keelokan Arjuna dan Welirang.

Menurut Fegiatna, Panderman banyak ditumbuhi hutan pinus. Mulai pos awal pendakian hingga puncak, yang terlihat hanya belantara pinus. “Ada juga tumbuhan lain. Namun yang paling banyak hutan pinus, “kata Fegiatna.

Di musim kemarau tumbuhan bergetah itu mudah terbakar. Hanya karena gesekan ranting dan daun kering yang digerakkan angin, api bisa terpantik. Udara siang hari di puncak Panderman bisa mencapai 35 derajat celcius.

Terutama di musim kemarau. Seingat Fegiatna kebakaran hutan Panderman sering terjadi. Sejak kecil dirinya sering melihat dengan mata kepala bagaimana api yang mengular di malam hari. Hanya saja yang terjadi saat ini  tergolong berskala lebih besar.

“Setiap kemarau sering terbakar, “katanya. Fegiatna juga masih ingat, di hutan pinus itu dirinya  kerap menjumpai kawanan kera. Populasinya tidak sedikit. Primata liar itu bermain, bergelantungan diantara pepohonan. Prilaku liarnya tidak jarang mencemaskan para pendaki.

Dengan terbakarnya hutan Paderman, kemana kera kera itu menyelamatkan diri?. Kemana mereka bersembunyi?. Apakah menjadi korban?. Apakah ada kemungkinan turun ke permukiman warga?. Melihat panasnya api, kawanan kera itu menurut Fegiatna bisa jadi pergi menjauh, bergabung dengan rekan rekannya di kawasan Welirang dan Arjuna. 

“Sebab selama ini jumlah kera di Arjuna dan Welirang lebih banyak daripada di Panderman. Semoga bisa menyelamatkan diri ke sana, “harapnya. 

Medan Berat Hambat Pemadaman

Dari hasil koordinasi dan evaluasi tim gabungan BPBD, upaya pemadaman api di puncak Panderman terbentur medan yang curam. Hal itu menyebabkan tidak semua lokasi bisa dijangkau. Menghadapi situasi itu petugas hanya bisa memantau dan membuat sekat agar titik api tidak meluas. 

“Api dapat dikendalikan. Namun menimbulkan bara api yang belum dapat dipadamkan, “ujar Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Batu Abdul Rochim. Kebakaran telah menghanguskan hutan seluas 17,7 hektar.

Meluasnya api diperparah kondisi kawasan yang sulit air. Minimnya air membuat penyemprotan tidak bisa serta merta dilakukan. Kendati demikian pantauan di beberapa titik terus dilakukan.

Para petugas diantaranya mengawasi Pos Jalur Lingkar Barat (Jalibar) dan Pos Pantau Gunung Panderman. Pantauan intensif itu  untuk mengantisipasi munculnya titik api baru. (Mas Garendi)

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.