Imlek, Jangan Tanam Buah Naga

BANYUWANGI – Video seorang pria membuang satu pick up buah naga ke sungai begitu viral di media sosial. Demikian pula kwintalan buah naga yang dijadikan pakan kambing. Belakangan diketahui kedua video itu terkait jatuhnya harga buah naga di pasaran.

Bagi petani buah naga, awal tahun 2019 ini mestinya mereka berpesta pora. Kebutuhan buah naga akan melonjak besar seiring datangnya peringatan tahun baru Imlek. Karena itu jauh-jauh hari mereka telah menggenjot produktivitas buah naga agar bisa melimpah saat panen hari ini. “Tapi hasilnya nol. Harga buah naga terjun bebas dan nyaris tak ada harganya,” kata Beni Saputro, petani buah naga yang memiliki lahan di Banyuwangi, Rabu 30 Januari 2019.

baca juga Tol Cipularang dan Gunung Kelud Punya Jalan Misteri

Beni tak menduga jika langkahnya menanam buah naga bakal diikuti banyak orang. Beberapa petani yang semula menanam komoditas lain mendadak beralih ke buah naga. Mereka tergiur tingginya permintaan buah naga yang terjadi di tiap tahun baru Imlek.

Entah kenapa sejumlah pengepul buah naga yang selama ini mengambil hasil panen dari lahan Beni berhenti membeli. Mereka mengaku masih memiliki banyak stok yang belum keluar hingga tak berani melakukan pengambilan lagi dari petani. “Kalaupun ada yang mengambil, tak berani di atas Rp 2.500 per kilogram,” keluh Beni.

baca juga Kontroversi Ahmad Dhani dari Musisi Politisi dan Bui

Ini sangat kontras dengan harga tahun lalu yang sempat tembus hingga Rp 20.000 per kilogram. Kala itu buah naga benar-benar menjadi komoditas elit yang tak banyak dikonsumsi masyarakat menengah bawah.

Para petani buah naga memang tak memiliki kesempatan untuk menaikkan harga. Pilihannya hanya dua, melepas kepada pengepul dengan harga murah, atau membiarkan jatuh ke tanah karena pembusukan batang. Jika tak dipanen pada waktunya, batang buah naga akan membusuk.

Di pasaran Kota Kediri, harga buah naga dipatok Rp 4.000 per kilogram. Harga segitu sudah mendapat ukuran buah yang lumayan besar. Melimpahnya pasokan buah naga ini bahkan telah menarik masyarakat untuk membuka kios buah naga dadakan. Berbekal meja dan timbangan, mereka menumpuk buah naga di pinggir jalan dengan tulisan karton Rp 4.000 per kilogram. “Itu masih bisa ditawar lebih murah,” kata Riza, pembeli buah naga di Jalan Semeru Kota Kediri.

Saat ini buah naga tak lagi dimonopoli pembeli berduit. Masyarakat bisa mencicipi buah merah ini sepuasnya dengan harga murah. Meski di lain tempat para petani menangis darah melihat hancurnya harga jual hasil panen mereka.

Buah Naga dan Imlek

Meski lekat dengan warga Tionghoa dan perayaan Imlek, buah naga sebenarnya bukan komoditas tanaman dari daratan Cina. Buah ini justru berasal dari lahan pertanian Meksiko, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan. Di tanah asalnya, buah ini disebut dengan Pitaya atau Dragon Fruit.

Bagi warga Tionghoa, buah ini memang spesial. Dia dianggap buah pembawa hoki atau keberuntungan. Karena itu jangan kaget jika keberadaan buah ini tak hanya ditemukan di meja makan, tetapi juga menghiasai altar pemujaan dewa menjelang Imlek sebagai sesaji.

Teramat pentingnya buah ini dalam perayaan Imlek, membuat warga Tionghoa merasa wajib memilikinya sebagai persembahan. Bagi mereka buah ini memiliki arti kemakmuran, panjang umur, keselamatan, dan kebahagiaan. Selain buah naga, jeruk juga diyakini memiliki makna yang sama. Mereka menyebutnya dengan “chi zhe” yang berarti buah pembawa rezeki.

Merah dan kuning memang menjadi warna spesial bagi warga Tionghoa. Kuning berarti kejayaan dengan simbolisasi emas. Sedangkan merah melambangkan kemakmuran. Menyantap buah naga berarti menjemput kemakmuran. Karena itu tak sedikit warga Tionghoa yang harus memesan buah tersebut jauh-jauh hari sebelum perayaan Imlek ke supermarket.

Sayangnya, tahun ini buah naga tak memiliki arti Hoki bagi petaninya. Di saat masyarakat Tionghoa berburu kemakmuran di perayaan Imlek, mereka harus menanggung buntung akibat jatuhnya harga buah naga. (*)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.